Setyo Prihatin
Jurusan Gizi Poltekkes Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Pola Pemberian Makanan Tambahan dan Kejadian Konstipasi pada Anak Usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Semarang Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3251

Abstract

Latar belakang : Masa batita (bawah tiga tahun) merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia sehingga sering disebut golden age. Pertumbuhan dan perkembangan pada usia ini menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak dihadapi oleh anak usia ini adalah konstipasi. Penelitian di Amerika, Eropa dan Asia didapatkan angka prevalensi konstipasi pada anak mencapai 0.7 - 29.6 %Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 di Kelurahan Pedurungan Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian descriptive yang bertujuan untuk mendeskripsikan pola makan dan kejadian konstipasi pada anak usia 6-24 bulan di Kelurahan Pedurungan Tengah Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan subjek penelitian anak usia 6-24 bulan berjumlah 41 yang diambil secara purposive random sampling. Pengambilan data meliputi recall 2x24 jam dan kuesioner kejadian konstipasi dilengkapi gambar Bristol Stool Chart.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pola makan sampel berupa ASI+MP-ASI. Sebagian besar pola makan sampel belum sesuai dengan anjuran Kemenkes RI. Pola makan MP-ASI meliputi jenis, frekuensi dan porsi/jumlah pemberian MP-ASI. Kejadian konstipasi sampel sebesar 34.1% dengan tipe feses 1 dan 2. Sebanyak 57.1% sampel mengalami konstipasi dengan frekuensi 3x dalam satu bulan dari waktu penelitian.Kesimpulan : Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan pada pihak pemerintahan Kelurahan dan Puskesmas untuk mengadakan penyuluhan mengenai pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan anjuran Kemenkes RI tentang MP-ASI tahun 2010 pada ibu-ibu balita khususnya ibu anak usia 6-24 bulan.
Pengaruh Pemberian Konseling Gizi Terhadap Sisa Makanan Diet Rendah Garam di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang Erna Yulianti Lobo; Setyo Prihatin
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.3245

Abstract

Latar Belakang : Informasi gizi yang kurang akan berpengaruh terhadap konsumsi makanan pasien, sehingga penting sekali anjuran makan bagi pasien. Konseling gizi diharapkan dapat menimbulkan kesadaran pasien terhadap asupan makanan Manfaat dari konseling gizi dapat membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi, mencari alternatif pemecahan masalah dan memilih cara pemecahan masalah yang paling sesuai bagi pasien.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa makanan diet rendah garam di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes KupangMetode : Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-group pre test - post test (rancangan pre-pasca test dalam satu kelompok) dimana dilihat sisa makanan diet pasien sebelum mendapat konseling gizi dan sesudah diberikan konseling gizi.Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 30 pasien diamati sisa asupannya dengan metode comstok. Analisis bivariat yang digunakan adalah paired t-test.Hasil : Persentase sisa asupan makanan pokok sebelum konseling rata-rata sebesar 29.50% sedangkan setelah konseling sebesar 19.72%. Persentase sisa asupan lauk hewani sebelum konseling rata-rata sebesar 26.33% sedangkan setelah konseling sebesar 20.17%. Persentase sisa asupan lauk nabati sebelum konseling rata-rata sebesar 30.67% sedangkan setelah konseling sebesar 23.00%. Persentase sisa asupan sayuran sebelum konseling rata-rata sebesar 30.83% sedangkan setelah konseling sebesar 15.28%. Persentase sisa asupan buah sebelum konseling rata-rata sebesar 27.42% sedangkan setelah konseling sebesar 17.33%Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan makanan pokok dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk hewani dengan p-value 0.003. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi lauk nabati dengan p-value 0.004. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi sayuran dengan p-value 0.000. Ada pengaruh pemberian konseling gizi terhadap sisa asupan gizi buah dengan p-value 0.000.