Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN KETANGGUHAN IMPAK DAN FRAKTOGRAFI DARI LAJU RAMBAT RETAK FATIK DI LINGKUNGAN KOROSIF PADA BAJA DENGAN SAMBUNGAN LAS SAW SETELAH MENGALAMI FLAME HEATING Jarot Wijayanto
Jurnal Teknologi Vol 2 No 2 (2009): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Las Submerged Arc Welding merupakan salah satu proses pengelasan dalam pembuatan mesin, struktur jembatan dan bangunan lepas pantai karena memiliki kehandalan dan efisiensi tinggi. Kelemahan proses pengelasan ini adalah adanya tegangan sisa, dan jika beban dinamis serta kondisi operasi berada di lingkungan korosif dapat menyebabkan kegagalan berupa fatik korosi. Proses pengelasan baja ASTM A572 Grade 50 dengan ketebalan 10 mm menggunakan las busur rendam. Pemanasan pasca pengelasan dilakukan dengan nyala api oksi asetelin pada jarak 3,75 mm simetri pusat las dengan vareasi temperatur 100 oC, 200 oC, 300 oC dan 400 oC. Pengujian fatik korosi mengunakan specimen middle tension (MTS) dilakukan di lingkungan air laut dengan frekuensi 11 Hz pada R=0,1. Sebagai data pendukung dilakukan uji ketangguhan impak dan SEM untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan flame heating dengan temperatur 300 oC menghasilkan nilai optimum untuk siklus fatik korosi yaitu sebesar 2.771.147 siklus dengan peningkatan umur fatik 255 % lebih tinggi dari material tanpa perlakuan. Nilai A dan n dari persamaan Paris di hasilkan 2,000 E-13 dan 3,801. Ketangguhan impak paling tinggi terjadi pada sepesimen yang menggunakan flame heating dengan temperatur 100 oC yaitu sebesar 112,3 Joule dibandingkan dengan spesimen tanpa perlakuan panas pasca pengelasan yang memiliki ketangguhan impak 85,7Joule. Sedangkan pada spesimen tanpa perlakuan panas alur penampang patahan relatif agak kasar dan rata (cleavage fracture) dibandingkan dengan spesimen T300 pada daerah yang sama, yaitu dengan bentuk penampang cekungan-cekugan kecil (dimple) Kata kunci : flame heating, ASTM, retak fatik, impak, cleavage fracture
PENINGKATAN KETANGGUHAN IMPAK DAN FRAKTOGRAFI DARI LAJU RAMBAT RETAK FATIK DI LINGKUNGAN KOROSIF PADA BAJA DENGAN SAMBUNGAN LAS SAW SETELAH MENGALAMI FLAME HEATING Jarot Wijayanto
Jurnal Teknologi Vol 2 No 2 (2009): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas AKPRIND Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Las Submerged Arc Welding merupakan salah satu proses pengelasan dalam pembuatan mesin, struktur jembatan dan bangunan lepas pantai karena memiliki kehandalan dan efisiensi tinggi. Kelemahan proses pengelasan ini adalah adanya tegangan sisa, dan jika beban dinamis serta kondisi operasi berada di lingkungan korosif dapat menyebabkan kegagalan berupa fatik korosi. Proses pengelasan baja ASTM A572 Grade 50 dengan ketebalan 10 mm menggunakan las busur rendam. Pemanasan pasca pengelasan dilakukan dengan nyala api oksi asetelin pada jarak 3,75 mm simetri pusat las dengan vareasi temperatur 100 oC, 200 oC, 300 oC dan 400 oC. Pengujian fatik korosi mengunakan specimen middle tension (MTS) dilakukan di lingkungan air laut dengan frekuensi 11 Hz pada R=0,1. Sebagai data pendukung dilakukan uji ketangguhan impak dan SEM untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan flame heating dengan temperatur 300 oC menghasilkan nilai optimum untuk siklus fatik korosi yaitu sebesar 2.771.147 siklus dengan peningkatan umur fatik 255 % lebih tinggi dari material tanpa perlakuan. Nilai A dan n dari persamaan Paris di hasilkan 2,000 E-13 dan 3,801. Ketangguhan impak paling tinggi terjadi pada sepesimen yang menggunakan flame heating dengan temperatur 100 oC yaitu sebesar 112,3 Joule dibandingkan dengan spesimen tanpa perlakuan panas pasca pengelasan yang memiliki ketangguhan impak 85,7Joule. Sedangkan pada spesimen tanpa perlakuan panas alur penampang patahan relatif agak kasar dan rata (cleavage fracture) dibandingkan dengan spesimen T300 pada daerah yang sama, yaitu dengan bentuk penampang cekungan-cekugan kecil (dimple) Kata kunci : flame heating, ASTM, retak fatik, impak, cleavage fracture