Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analisis Faktor Kecemasan Pasien Kanker Serviks saat Kemoterapi Siti Mulidah; Sri Hidayati; Ahmad Baequny
JURNAL KEPERAWATAN MERSI Vol 10, No 2: Oktober 2021
Publisher : Prodi Keperawatan Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkm.v10i2.8142

Abstract

Background: Chemotherapy have some side effects for physic or psychology of client, one of that is anxiety. Anxiety on cervical cancer client that follow this chemotherapy may make client reschedule their chemotherapy or they will stop the chemotherapy.Method: The purpose of this study is to determine the factors that affect the anxiety of cervical cancer patients in following chemotherapy. This research used cross sectional study. The sample of this research are cervical cancer patients who followed chemotherapy as many as 32 persons with insidental sampling method. Data were analyzed using Chi-Square Test with significance level of 0.05 and regression test with significance level of 0,25.Result: confirmed that 57.1% of respondents skilled slight tension. Then, the effects additionally located that there's a considerable courting among maturity, own circle of relatives assist, social assist with cervical most cancers tension in following chemotherapy.Conclusion: the dominant factor that affects the anxiety of cervical cancer patients in following chemotherapy program is maturity. supply them know-how approximately chemotherapy and the impact and supply them greater informative assist and emotional assist Keywords: Anxiety, Cervical Cancer, Chemotherapy, Maturity, Family Support, Social Support
FAKTOR - FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN PENGOBATAN TB PARU DI BKPM KOTA PEKALONGAN Sri Hidayati; Ahmad Baequny; Sumarni Sumarni
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 10 (2016)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v10i0.40

Abstract

NEW CASES OF PULMONARY TB ARE STILL HIGH ENOUGH AT PEKALONGAN CITY, INCIDENT OF DROP OUT/DEFAULT ALSO STILL HIGH (17,3%) BECAUSE NATIONAL TARGETS SHOULD BE UNDER 5%. THE NUMBER OF RECOVERY STILL UNDER NATIONAL TARGETS TOO BECAUSE IT LACKS OF 85%.PAST MEDICAL TREATMENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS CAN CAUSE KLIEN DROP OUT. TO SOLVE THAT PROBLEM, IT IS NEEDED PLACE OF HEALTH SERVICES THAT GIVES SERVICES APPROPRIATE WITH NECESSITY AND PATIENT HOPE, SO PATIENT FEEL SATISFY AND DISPOSED WILL FOLLOW MEDICAL PROGRAM THAT TO BE PERFORMED. THE AIM OF THIS RESEARCH WAS TO ANALYZE FACTORS THAT INFLUENTIAL TOWARD PATIENT SATISFACTION ON MEDICAL SERVICES OF PULMONARY TB AT BKPM PEKALONGAN CITY. THIS RESEARCH WAS DESCRIPTIVE ANALYTIC WITH CROSS SECTIONAL DESIGN. POPULATION OF THIS STUDY WAS ALL OF PATIENTS WHO SUFFERED FROM TBC (POSITIVE BTA). THEY WERE PERFORMING MEDICAL PROGRAM OF TBC AT BKPM PEKALONGAN CITY WITH TOTAL NUMBER OF 80 PERSONS. COLLECTING DATA WAS DONE WITH QUESTIONNAIRE. DATA WERE ANALYZED WITH CHI SQUARE TEST AND LOGISTIC REGRESSION. THE RESULT OF THIS RESEARCH SHOWED THAT THERE WERE RELATIONSHIP BETWEEN EDUCATION, EMPLOYMENT, KNOWLEDGE AND PATIENT’S ATTITUDE ON MEDICAL SERVICES OF PULMONARY TB AT BKPM PEKALONGAN CITY. RESULT OF MULTIVARIATE SHOWED THE MOST FACTOR INFLUENTIAL WAS ATTITUDE (OR = 19,801) AND EDUCATION (OR = 6,637). IT IS RECOMMENDED FOR BKPM PEKALONGAN CITY TO INCREASE SERVICES ON GIVING EXPLANATION, VELOCITY, SANITATION, AND COMFORT FOR MEDICAL SERVICES OF PULMONARY TB IN ORDER TO INCREASE PATIENT SATISFACTION.
INTERVENSI TAKS (TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI) SEBAGAI UPAYA MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI LANSIA Sri Hidayati; Ahmad Baequny; Anny Fauziyah
JABI: Jurnal Abdimas Bhakti Indonesia Vol 2 No 2 (2021): Desember
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jabi.v2i2.353

Abstract

Latar Belakang : Seiring bertambahnya usia, penuaan tidak dapat dihindarkan dan terjadi perubahan keadaan fisik, kehilangan pekerjaan, kehilangan tujuan hidup, kehilangan teman, risiko terkena penyakit, terisolasi dari lingkungan dan kesepian. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan mental. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang banyak dijumpai pada lansia akibat proses penuaan. Depresi pada lansia ini lebih dominan disebabkan karena faktor sosial yaitu lansia mengalami kesepian, karena banyak lansia ditinggal sendirian di rumah oleh keluarganya. Permasalahan tersebut tentulah harus segera ditangani. Salah satu metode untuk mengatasi depresi lansia adalah dengan terapi aktifitas kelompok sosialisasi (TAKS). Hasil penelitian untuk mengatasi depresi lansia dengan TAKS menunjukkan hasil yang baik, sehingga dirasa perlu untuk menerapkan lebih luas ke masyarakat. TAKS membantu lansia untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitarnya untuk meningkatkan hubungan interpersonal sehingga dapat mengurangi gejala yang muncul dan mereka bisa mendapatkan teman baru yang dapat saling mendukung, saling berbagi rasa dan pengalaman sehingga masing-masing tidak merasa sendirian. Di era pandemi Covid-19 saat ini berdampak pada aspek fisiologis, psikologis, dan sosial lanjut usia. Angka gangguan kesehatan mental pada lansia cenderung meningkat. Gangguan kesehatan mental ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti perasaan terasingkan karena tidak boleh keluar rumah atau cemas dan takut terinfeksi virus. Tujuan pengabdian masyarakat adalah meningkatkan peran keluarga dalam penerapan intervensi TAKS untuk menangani depresi pada lansia. Metode yang digunakan adalah dengan pelatihan (ceramah, tanya jawab, tutorial, simulasi) dan pendampingan dalam penerapan TAKS. Penerapan TAKS dilakukan selama 8 sesi. Sasaran kegiatan adalah pada kader lanjut usia, keluarga lansia dan lansia yang ada di wilayah Kelurahan Bandung Kota Tegal sejumlah 25 peserta. Hasil pengabdian masyarakat menunjukan bahwa pengetahuan dan pemahaman peserta tentang penatalaksanaan depresi pada lansia meningkat dimana sebelum dilakukan pengabmas sebagian besar mempunyai pengetahuan cukup (46,6%) dan kurang yaitu 40% sedangkan setelah pengabmas menjadi mayoritas adalah baik yaitu sebesar 80%. Berdasarkan nilai GDS (Geriatri Depresion scale), pelaksanaan TAKS mampu mengatasi depresi lansia, dimana sebelum pelaksanaan TAKS mayoritas lansia mempunyai depresi ringan dan setelah pelaksanaan TAKS mayoritas menjadi kategori normal. Pelaksanaan TAKS dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia sehingga patut untuk diterapkan di masyarakat.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KELUARGA DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA UNTUK MENCEGAH STROKE PADA LANSIA HIPERTENSI Sri Hidayati; Baequny Ahmad
Jurnal Inovasi Masyarakat Terupdate Vol. 1 No. 2 (2024): JIMAT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimat.v1i2.11771

Abstract

Proses menua dimulai sejak permulaan kehidupan dan merupakan proses sepanjang daur kehidupan. Proses menua tetap menimbulkan permasalahan baik secara biologis, mental maupun sosial dan ekonomi. Proses alamiah ini secara perlahan menempatkan lansia cenderung rentan mengalami masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia adalah penyakit hipertensi, kejadian prevalensi hipertensi pada populasi lansia diperkirakan mencapai dua pertiga atau sekitar 60% - 80% di dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia menempati urutan pertama jenis penyakit kronis tidak menular. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya serangan stroke, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Keluarga sebagai orang yang paling dekat dengan pasien riwayat hipertensi memiliki peran yang sangat besar dalam upaya pencegahan terjadinya keparahan akibat penyakit stroke. Oleh karenanya, pengenalan deteksi dini penyakit stroke pada keluarga serta pemberdayaan keluarga yang merawat pasien dengan hipertensi penting untuk dilakukan sehingga kualitas hidup lansia tetap terjaga dengan baik. Keluarga mempunyai peran yang penting didalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberdayakan masyarakat khususnya memberdayakan keluarga dalam upaya peningkatan kualitas hidup lansia untuk mencegah stroke pada lansia dengan hipertensi di Kota Tegal. Metode yang digunakan adalah dengan pelatihan (ceramah, tanya jawab, tutorial, simulasi dan screening WHOQOL- BREF) dan pendampingan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia. Sasaran kegiatan adalah pada kader lanjut usia, keluarga lansia dan lansia yang ada di wilayah Kelurahan Bandung Kota Tegal sejumlah 15 peserta. Hasil kegiatan berupa meningkatnya pengetahuan dan pemahaman peserta tentang kesehatan lansia, peningkatan kemandirian lansia dan terjadi peningkatan kualitas hidup lansia baik dari domain kesehatan fisik, psikologis, sosial dan lingkungan (dengan nilai rata-rata dari sebelumnya 50,48 / kategori cukup menjadi 58,40 / kategori baik). Disarankan untuk masyarakat dan keluarga untuk mendampingi dan mendorong lansia agar dapat melakukan aktivitas fisik, psikologis, sosial dan lingkungan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia.
Pelatihan Intervensi Adaptasi Fisiologis untuk Meningkatkan Kemandirian Pasien paska Stroke Ahmad Baequny; Fatchurozak Himawan Hamzah; Sudirman Sudirman; Sri Hidayati; Suryo Pratikwo
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 4 No. 02 (2020): JURNAL ABDIMAS MAHAKAM
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v4i02.933

Abstract

Abstrak Prevalensi penyakit degeneratif terus mengalami peningkatan, salah satunya adalah stroke. Serangan stroke menyebabkan berbagai gejala sisa dalam waktu lama. Beberapa masalah yang sering dialami pasien paska stroke adalah keterbatasan fisik, depresi, kurang pengetahuan dan kurangnya dukungan keluarga yang mempengaruhi mekanisme koping pasien. Koping pasien yang mal-adaptif menyebabkan respon adaptasi yang tidak efektif. Hal ini tergambar dari kebutuhan dasar pasien yang dibantu total oleh keluarga meskipun sebetulnya masih memiliki sebagian anggota tubuh yang sehat. Minimnya akses informasi dan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan pasien stroke menyebabkan masalah tersebut sulit teratasi. Hasil penelitian pada pasien paska stroke di Pekalongan menunjukkan bahwa paket intervensi adaptasi pasien paska stroke terbukti efektif untuk meningkatkan koping adaptasi dan kualitas hidup pasien paska stroke. Respon adaptasi fisiologis merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aktifitas pasien sehingga dapat meningkatkan kemandirian pasien paska stroke. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang intervensi adaptasi fisiologis pasien paska stroke, sehingga partisipasi keluarga terhadap pasien meningkat dan kemandirian pasien juga ikut meningkat. Sasaran kegiatan yaitu kader kesehatan dan keluarga yang mempunyai anggota keluarga paska stroke sejumlah 20 orang. Metode yang digunakan dengan metode ceramah, diskusi, praktek dan pendampingan di rumah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan peserta meningkat (dari rata-rata 54 menjadi 76) dan kemandirian pasien paska stroke juga meningkat yang dilihat berdasarkan nilai bartel indeks (dari rata-rata 64,5 menjadi 76). Disarankan kepada keluarga agar selalu mendukung dan menerapkan latihan adaptasi fisiologis pada pasien paska stroke untuk meningkatkan kemandirian pasien. Kata Kunci : adaptasi fisiologis, kemandirian, stroke
PENDAMPINGAN KELUARGA INTERVENSI KEGEL EXERCISE DAN LATIHAN BERKEMIH PADA LANSIA UNTUK MENCEGAH INKONTINENSIA URINE Sri Hidayati; Ahmad baequny; Cuciati
Jurnal Inovasi Masyarakat Terupdate Vol. 3 No. 1 (2026): JIMAT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimat.v3i1.14358

Abstract

Inkontinensia urin merupakan gangguan pengeluaran urin tidak terkendali yang sering dialami oleh lansia. Prevalensi inkontinensia urine semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Di Indonesia sekitar 5,8% penduduk menderita inkontinensia urin. Meski tidak berbahaya, namun gangguan ini sangat mengganggu dan membuat malu, sehingga menimbulkan rasa rendah diri atau depresi pada penderitanya. Kegel exercise  dan latihan berkemih adalah latihan untuk memperkuat otot panggul yang dapat digunakan untuk mengobati atau menurunkan inkontinensia urin. Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Bandung Kota Tegal didapatkan bahwa sejumlah lansia mengalami penurunan kemampuan berkemih dan mengalami inkontinensia urine namun mereka belum tahu cara untuk mengatasinya. Inkontinensia yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit daerah kemaluan, gangguan tidur, dekubitus, dan gejala ruam. Selain itu, inkontinensia juga dapat memicu masalah psikososial seperti dijauhi orang lain karena berbau pesing, minder, tidak percaya diri, dan mudah marah. Tujuan kegiatan adalah untuk mencegah terjadinya inkontinensia urine dengan melakukan latihan kegel exercise dan latihan berkemih pada Lansia. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat dilakukan dengan ceramah, tanya jawab, praktek simulasi dan pendampingan. Pendampingan dilakukan dengan mengimplementasikan pada lanjut usia serta  monitoring evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan praktek senam kegel dan latihan berkemih pada lansia untuk mencegah kejadian inkontinensia urine. Kesimpulan kegiatan yaitu edukasi intensif dan pendampingan keluarga mampu menghasilkan perubahan nyata pada perilaku eliminasi lansia dan berkontribusi pada penurunan gejala inkontinensia sehingga patut untuk diterapkan sebagai program promotif prevenstif dalam penanganan inkontinensia urine pada lansia.
Program Pencegahan Inkontinensia Urine untuk Lansia dengan Edukasi Kesehatan Urologi dan Pelatihan Senam Kegel di Kelurahan Debong Kulon Cuciati Cuciati; Sri Hidayati; Ahmad Baequny
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26779

Abstract

ABSTRACT Urinary incontinence is a common health problem among older adults caused by a decline in urinary system function and weakness of the pelvic floor muscles. This condition may lead to physical, psychological, and social consequences, ultimately reducing the quality of life of older adults. Data from the local community health center indicated that approximately 30% of older adults in Debong Kulon Village, Tegal City, experienced urinary incontinence. Limited knowledge regarding urological health and pelvic floor muscle exercises has contributed to the inadequate management of this condition.  This community service program aimed to empower older adults through urological health education and Kegel exercise training to improve their knowledge, skills, and ability to independently implement urinary incontinence prevention measures. The program was conducted through urological health education, Kegel exercise training, practical assistance, and follow-up screening. A total of 30 older adults in Debong Kulon Village, Tegal City, participated in the activity. Knowledge was evaluated using pre-test and post-test questionnaires, while participants’ Kegel exercise skills were assessed through direct observation and follow-up screening after the intervention. The results showed an improvement in participants' knowledge after the intervention. The proportion of participants with good knowledge increased from 3.3% during the pre-test to 93% during the post-test, while those with poor knowledge decreased from 80% to 0%. Follow-up screening results revealed that all participants (100%) were able to correctly perform Kegel exercises and reported benefits such as reduced urinary frequency compared to before the intervention. Urological health education combined with Kegel exercise training and follow-up screening effectively improved older adults’ knowledge of urinary incontinence and enhanced their ability to perform Kegel exercises independently. This program has the potential to serve as a promotive and preventive strategy for urinary incontinence prevention and quality-of-life improvement among older adults in the community. Keywords: Incontinence, Older Adults, Kegel Exercise, Health Education.  ABSTRAK Inkontinensia urine merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia akibat penurunan fungsi sistem perkemihan dan kelemahan otot dasar panggul. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, sosial, serta menurunkan kualitas hidup lansia. Berdasarkan data Puskesmas setempat, sekitar 30% lansia di Kelurahan Debong Kulon Kota Tegal mengalami masalah inkontinensia urine. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan urologi dan latihan otot dasar panggul menjadi salah satu penyebab masalah ini belum tertangani secara optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan lansia melalui edukasi kesehatan urologi dan pelatihan senam Kegel guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan lansia dalam menerapkan upaya pencegahan inkontinensia urine secara mandiri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan melalui edukasi kesehatan urologi, pelatihan senam Kegel, pendampingan praktik, serta skrining tindak lanjut. Kegiatan melibatkan 30 lansia di Kelurahan Debong Kulon Kota Tegal. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan, sedangkan keterampilan senam Kegel dievaluasi melalui observasi praktik dan skrining tindak lanjut setelah kegiatan. Terjadi peningkatan pengetahuan lansia mengenai inkontinensia urin setelah diberikan edukasi kesehatan. Proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan baik meningkat dari 3,3% pada saat pre-test menjadi 93% pada saat post-test, sedangkan peserta dengan tingkat pengetahuan kurang menurun dari 80% menjadi 0%. Hasil skrining tindak lanjut menunjukkan bahwa seluruh peserta (100%) mampu melakukan senam Kegel dengan benar serta merasakan manfaat berupa berkurangnya frekuensi berkemih dibandingkan sebelum intervensi. Edukasi kesehatan urologi yang dikombinasikan dengan pelatihan senam Kegel dan skrining tindak lanjut terbukti meningkatkan pengetahuan lansia tentang inkontinensia urine serta meningkatkan keterampilan lansia dalam melakukan latihan Kegel secara mandiri. Program ini berpotensi menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam upaya pencegahan inkontinensia urine serta peningkatan kualitas hidup lansia di masyarakat. Kata Kunci: Inkontinensia, Lansia, Senam Kegel, Edukasi Kesehatan.
PENGARUH KEBIASAAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANJUT USIA sri hidayati; Ahmad Baequny
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 5 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v5i1.13037

Abstract

Demensia merupakan salah satu perubahan struktur dan fungsi fisik pada lansia. Demensia bukan merupakan penyakit namun qodrat alam yang dapat dialami manusia terutama orang yang sudah lanjut usia. Demensia pada lansia memiliki banyak faktor resiko, seperti umur, tingkat pendidikan, tekanan darah, asupan nutrisi, genetik, jenis kelamin dan kurangnya aktivitas fisik. Meskipun menua adalah suatu keadaan yang tidak bisa dihindari atau ditolak, namun demensia dapat dikelola sehingga dapat menurunkan kemungkinan demensia. Usia menjadi faktor resiko yang paling penting dalam perjalanan demensia. Suatu penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa satu dari 12 orang yang berusia lebih dari 65 tahun dan satu dari 3 orang yang berusia diatas 90 tahun akan mengalami demensia. Selain usia, berbagai faktor lain juga mempengaruhi angka kejadia serta prevalensi demensia. Studi tentang pengaruh aktifitas secara spesifik dalam mempengaruhi demensia belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh kebiasaan aktifitas fisik terhadap kejadian demensia pada lanjut usia di Kota Pekalongan. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian yaitu seluruh lansia yang terdaftar di wilayah  Puskesmas Tirto Kota Pekalongan sejumlah 165 orang. Sampel penelitian dihitung berdasarkan rumus Rao sejumlah 65 responden dan sistem pemilihan sampel dengan Simple Random Sampling. Analisa data dilakukan dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan kebiasaan aktifitas fisik berpengaruh terhadap kejadian demensia pada lansia (OR sebesar 0,684). Aktivitas dan latihan fisik yang teratur dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit demensia karena dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lanjut usia. Seseorang yang melakukan aktifitas fisik juga cenderung memiliki memori yang lebih tinggi daripada yang jarang beraktifitas.Disarankan kepada lansia untuk membiasakan melakukan aktifitas fisik secara rutin untuk menurunkan resiko terjadinya demensia.
PREVALENSI DAN DETERMINAN RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA REMAJA Ahmad baequny; Sri Hidayati; Didi Hermawan
Juru Rawat. Jurnal Update Keperawatan Vol 6 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Prodi Keperawatan Tegal Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/juk.v6i1.14359

Abstract

Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels. The incidence of Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) in children and adolescents is increasing alongside rising obesity and sedentary lifestyles. Early detection of T2DM risk in adolescents is important and can be performed using the non-invasive FINDRISC (Finnish Diabetes Risk Score). This study aimed to determine risk prevalence and identify determinants of T2DM risk among adolescents. A descriptive analytic cross-sectional design was used in adolescents from the Diploma III Nursing Program in Tegal, with 153 participants selected using the Gay & Diehl approach. Data were collected using the FINDRISC questionnaire and analyzed with descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The prevalence of low risk was 69% (n=106), slightly elevated risk 27.5% (n=42), and moderate risk 3.5% (n=5). Factors associated with increased risk included BMI, waist circumference, physical activity, fruit and vegetable intake, and family history. The most dominant factor was family history (OR = 16.89). FINDRISC is effective for identifying at-risk adolescents.