Nasruddin Nasruddin
uin alauddin

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM INDONESIA Studi kasus Pemikiran Nurchalish Madjid Dan Hamka (Studi Perbandingan) Nasruddin Nasruddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2827

Abstract

Nurchalish Madjid dalam pemikirannya tentang sekulerisasi, bahwa bukan penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis.” Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrowikannya. Jika Indonesia kembali pada fundamentalisme Islam ibarat bahaya narkotika yang selalu membekas dalam diri manusia, paham Pluralitas masyarakat adalah bagian amat penting dari tatanan masyarakat maju. Dalam paham itulah dipertaruhkan, antara lain sehatnya demokrasi dan keadilan. Pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui hak kelompok lain atau ada, tetapi juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Buya Hamka, menolak dengan keras apa yang disebut toleransi agama, dan juga menolak dengan keras tentang pluralisme agama juga menolak paham sekularisme. Penghayatan tasawuf hamka itu berupa pengalaman takwa yang dinamis, bukan ingin bersatu dengan tuhan, adapun refleksi tasawuf menurut hamka yaitu berupa menampakkan makin meningginya kepekaan sosial dalam diri si sufi. Jadi intinya secara garis besar, konsep dasar sufistik menurut hamka adalah sufisme yang berorientasi  ke depan.