Moh. Jazuli
Sekolah Tinggi Agama Islam al-Karimiyah, Baraji, Gapura, Sumenep

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ORIENTASI PEMIKIRAN ULAMA’ NU (Jender dalam Perspektif Ulama Skriptualis dan Subtansialis di NU Cabang Sumenep) Moh. Jazuli
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 7 No. 1 (2012)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v7i1.319

Abstract

Semenjak akhir abad ke 18 atau awal abad ke -19 Masehi telahtumbuh perjumpaan intensif antara dunia Islam dan duniaBarat. Pada periode ini, kaum Muslim harus menghadapipilihan yang sangat dilematis, antara keinginan untukmenjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam dengan kebutuhanmengikuti gagasan-gagasan modern. Ini kemudianmelahirkan corak pemikiran skriptualis dan substansialis.Melalui topik jender, kedua corak pemikiran ini juga terjadi dikalangan ulama’ NU Cabang Sumenep. Secara ideologis,keduanya berbeda karena metode pemaknaan merekaterhadap teks ajaran Islam juga berbeda. Sedangkan secarasosiologis, keduanya berbeda dalam memandang fenomenasosial yang berkembang. Dalam hal jender, ulama’ skriptualisberpegang teguh kepada ketidakbolehan perempuan menjadipemimpin berdasarkan atas ayat al-Qur’ân dan Hadîts.Sedangkan kalangan ulama’ substansialis meneguhkankebolehan perempuan untuk memegang jabatan publik. Inididasarkan atas pemaknaan substansial terhadap al-Qur’ânsurat al-Nisâ’: 34 dan hadîts Nabi.
THE APPLICATION OF SHARI’A IN EGYPT ACCORDING TO AL-‘ASHMAWI Moh. Jazuli
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v8i2.355

Abstract

Kemunculan gerakan Islamis yang dahsyat di Mesir telahmenarik perhatian para ilmuwan, sebagai usaha untukmengontrolnya pada level politik dan kebijakan. Sedikitperhatian diberikan oleh orang-orang yang merespontantangan ini pada level perdebatan ideologis. Salah seorangdi antaranya adalah seorang hakim terkenal, MuhammadSa’id al-‘Ashmawi. Ia beralasan bahwa penyebutan“penerapan syarî’ah” (tatbîq al-syarî’ah) atau kodifikasisyarî’ah (taqnîn al-syarî’ah), semboyan dari gerakan Islamis,sesungguhnya tidak lebih dari sekedar slogan kosong, yangdimaksudkan untuk mendapatkan dukungan rakyatmenuju sebuah usaha politik tetapi tidak jelas sama sekalidan secara substansial mungkin tidak signifikan. al-‘Ashmawi menjelaskan bahwa pada awalnya istilah syarî’ahmencakup semua aturan yang berkenaan dengan ibadahdan masyarakat yang ada di dalam al-Qur’an, al-Sunnah.Tetapi dalam perkembangannya selanjutnya, istilah itumelebar sehingga mencakup ijtihâd para ulamâ. Padahalyang terakhir ini lebih tepat disebut sebagai fiqh. yakniserangkaian aturan dan hukum yang difikirkan danditetapkan oleh manusia, bukan oleh Allah, untukmempertemukan kondisi historis masa lalu yang tidak lagiberlaku. Di dalam membahas ribâ, al-‘Ashmawisesungguhnya sudah menyimpulkan bahwa baik hukumMesir yang sedang berlaku saat ini maupun hukum-hukummesir lainnnya sesuai dengan syarî’ah. Hal yang sama jugaberlaku bagi hukum Mesir lainnya.