Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Islam Nusantara in Islamic Law Epistemology Perspective Maimun Maimun
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 11 No. 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v11i2.779

Abstract

Islam Nusantara is a symbol of geographical religious tendencies representing Indonesian context. This term has become popular since 2015 by congress momentum of NU in Jombang, an organization of ulama’, who are really experts in the field of islamic religion. However this arise discourse creats variance responses between pro and contra as the excess of the concept that estimated as deviative concept from the guidance of Prophet Muhammad, namely Islamic tendency by Arabic character. Therefore it appears a desire to examine this controversial concept epistemologically with the expectation to find a holistic conceptual foothold either axiomatic or historical, through the study of literature. There are two problems representing this study; First, how is the basic epistemology of Islam Nusantara and its sociological implication? Second, how is the epistemology of Islam Nusantara in the view of islamic law (usul fiqh)?. Based on these problems, it can be found some conclusion; first, this concept is a product of thought of Nahdlatul Ulama’ (NU)  based on their struggle value, ASWAJA and the islamization movement conducted by walisongo in Java. The implication of this pattern is moderation, tolerance, and awareness of nations plurality tendency that allow ‘al-Islamu Salihun Likulli Zaman wa Makan’ becomes really true.  Secondly, by looking at the historical fact and the way of messenger propaganda supported by normative foundation al-Quran and hadith, something that we called as Islam Nusantara is not wrong concept coming out of Islam, moreover in Islam itself also known a building of Islamic law epistemology (‘urf) giving special space on local culture to be a law as long as does not digress from axiomatic Islamic text.
REAKTUALISASI FIQH INDONESIA (Telaah atas Kontribusi Pemikiran Hukum Hasbi ash-Shiddieqy) maimun maimun
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 2 No. 1 (2007)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v2i1.2613

Abstract

Fiqh Indonesia adalah hasil rumusan hukum Islâm para ahli hukum (mujtahid) Indonesia yang dijabarkan dari sumber hukum primernya (al-Qur'ân dan Hadîts) dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi serta adat istiadat budaya bangsa ini, hal tersebut sudah lama bergulir, dan tidak sedikit hasil karya para mujtahid tentang fiqh yang sebenarnya sudah dapat dinikmati oleh bangsa kita. Salah seorang mujtahid yang memberikan kontribusi fiqh ala Indonesia adalah Hasbi ash-Shiddieqy. Tulisan ini akan mengkaji ulang pemikiran Hasbi tersebut dan menawarkan wacana fiqh baru yaitu fiqh yang berbasis lokalitas. Fiqh ini merupakan salah satu upaya reaktualisasi fiqh Indonesia.
FIQIH NUSANTARA (Kontekstualisasi Hukum Islam dalam Pandangan T.M. Hasbi al-Shiddiqi) maimun maimun
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v3i1.944

Abstract

Perbedaan ruang dan waktu berakibat pada perubahan dan kemajuan peradaban telah membentuk perbedaan pendekatan hukum Islam yang lebih didasarkan pada kultur dan tradisi masya­rakat. Dalam konteks ini TM. Hasbi al-Shiddiqi muncul sebagai ulama pertama yang berkonsentrasi pada pembentukan fiqih Indonesia. Ia merupakan tokoh reformis yang banyak dipengaruhi oleh al-Kalali dan Ahmad Soorkati.  Dalam merealisasikan pandangannya, Hasbi menawarkan formulasi konsep ijtihad yang berorientasi lokal keindonesiaan, yaitu; Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum produk ulama mazhab masa lalu kemudian dipilih produk hukum yang masih cocok untuk diterapkan dalam masyarakat Indonesia; Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasar­kan pada adat dan kebiasaan serta suasana masyarakat dimana hukum tersebut berkembang; dan Ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap masalah kontemporer yang timbul sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan. Sedangkan tawaran konsep metodologis­nya meliputi pemahaman tentang fiqih dan syari’ah, analisis kese­jarahan, pendekatan sosio kultural, dan studi perbandingan.
Pendidikan Alamiah Fiqih Pendidikan Ala Rasulullah Maimun Maimun
KABILAH : Journal of Social Community Vol. 2 No. 2 (2017): (Desember)
Publisher : LP2M IAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.824 KB) | DOI: 10.35127/kbl.v2i2.3140

Abstract

Abstrak: Secara alamiah, alam menyediakan sumber pengetahuan yang bisa diserap oleh manusia untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan diri guna mencapai taraf hidup yang lebih baik. Nabi Muhammad sebagai manusia yang diutus untuk manusia lahir dalam konteks pendidikan yang tidak terlembaga seperti sekarang ini. Walaupun demikian kepribadiannya menjadi rujukan semua manusia baik dalam dimensi keilmuan, kebijaksanaan dan akhlakul karimahnya, sehingga penting untuk dieksplor rahasia dibalik kesuksesannya itu. Kajian ini merupakan telaah literatur dengan fokus; pertama apa itu pendidikan alamiah? kedua, bagaimana pola pendidikan nabi Muhammad sebagai referensi manusia? Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa pendidikan alamiah merupakan pendidikan yang identik dalam hidup manusia karena menjadikan alam sebagai sumber pengetahuan baik sebagai objek ilmu atupun sebagai pengalaman hidup yang memungkinkan kematangan hidup sebagai hasilnya. Pendidikan nabi Muhammad melalui proses yang sama, dimana beliau berkembang melalui alam dan pengalamannya; menjadi yatim, tinggal di lingkungan bani Saad, mengembala kambing, dan melakukan perniagaan. Kata Kunci: Pendidikan, Alam, Nabi Muhammad Abstract: Naturally, nature provides a source of knowledge that can be absorbed by human to sustain their life and develop themselves to achieve a better standard of living. Prophet Muhammad as a human being sent to all human in this world, was born in an educational context that is not institutionalized as it is today. Nevertheless, his personality becomes the reference of all human being both in the dimensions of science, the wisdom and akhlakul karimah, so it is important to be explored the secret behind his success. This review is a literature study with some focuses; first, what is natural education? Secondly, how is the pattern of Prophet Muhammad's education as a human reference? The results show that natural education is identical education in human life because it makes nature as a source of knowledge both as an object of science or as life experience that allow the maturity of life as a result. Prophet Muhammad's education through the same process, where he developed through his nature and experience; being an orphan, living in the Saad neighborhood, to goat and doing trade. Keywords: Education, Natural, Prophet Muhammad