Abdul Hamid Ritonga
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Sumatera Utara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HADIS-HADIS ANTROPOMORFISME: Analisis terhadap Takwil Ibn Hajar al-‘Asqalânî dalam Fath al-Bârî Abdul Hamid Ritonga
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.82

Abstract

Abstrak: Dalam sejarah teologi Islam, perbincangan tentang ayat al-Qur’an dan hadis Nabi SAW. yang menjelaskan tentang antropomorfisme memiliki sejarah panjang, berawal dari perdebatan antara ahli hadis yang literalis dengan ahli kalam dan Muktazilah yang rasionalis. Tulisan ini mencoba mengelaborasi pendapat Ibn Hajar sebagai ahli hadis dalam memahami hadis yang menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia. Dalam upayanya untuk menghindari kemungkinan keliru (syirk) dan adanya kesamaan (tasybîh) Allah dengan makhluk-Nya, Ibn Hajar menafsirkan hadis tersebut dengan metode takwil. Ibn Hajar melakukan penakwilan karena kondisi objektif sosial, politik, dan ajaran teologis yang mengitarinya yang  mengharuskannya mendukung ajaran Asy‘ariyah. Pada sisi lain, ia ingin menyelamatkan akidah kaum Muslim, khususnya orang awam dari menyerupakan Allah dengan makhluk.Abstract: Anthropomorphism in Hadith: An Analysis of Ibn Hajar al- ‘Asqalânî’s Ta’wîl in Fath al-Bârî. In the history of Islamic theology, discussion on Quranic verses and the Prophetic traditions that deal with anthropomorphism has undergone long history starting from heated debate between literal hadith centrists with those of rationalists theologians and the Muktazilah. This essay attempts to elaborate Ibn Hajar’s view, as an advocate of tradition, in understanding the hadiths that describe the attributes similar to that of His creatures. In order to avoid potential error and confusion in understanding the attributes of God, Ibn Hajar utilized ta’wîl method and departed from his root due to socio-political condition and the prevailing theological teachings that led him to support the tenets of Asy‘ariyah. Conversely, he was very keen on safeguarding the Muslim’s creed from equating God’s attributes with His creatures.Kata Kunci: teologi, hadis, antropomorfisme, takwil, Fath al-Bârî