Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Ijtihad dan Perkembangan Hukum Islam di Aceh Muhammad Nasir & Ahlul Badri
Politica: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam Vol 9 No 1 (2022): POLITICA: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam
Publisher : Prodi Tata Negara (Siyasah) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/politica.v9i1.3924

Abstract

Perkembangan zaman dewasa ini menyebabkan lahirnya berbagai macam fenomena dan persoalan-persoalan hukum baru yang menuntut adanya jawaban hukun terhadapnya. Karena apa yang telah diatur dalam hukum islam baik dalam nash maupun produk fiqh akan tetapi belum mengakomodir persoalan-persoalan kontemporer. Oleh karena itu Ijtihad kontemporer diperlukan sebagai jawaban dari dinamika pembaharuan hukum Islam yang berhubungan dengan perubahan, dan perkembangan kehidupan masyarakat modern. Oleh sebab itu diperlukan akselerasi pemikiran dalam bentuk ijtihad untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi, sehingga permasalahan apapun yang muncul dapat dikontekstualisasikan dengan baik dan tepat sasaran khususnya dalam bentuk legislasi. Berdasarkan amanah UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh terlihat adanya peluang bagi pengembangan hukum islam dalam bentuk legislasi di Aceh untuk memenuhi keinginan masyarakat Aceh terhadap kebutuhan hukumnya sendiri. Tulisan ini akan memberikan gambaran mengenai peluang ijtihad dan pengembangan hukum islam di Aceh dalam bentuk legislasi.
PEMBAHARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM KONTEMPORER Muhammad Nasir; Aulia Rizki; M. Anzaikhan
TAQNIN: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 4, No 02: Juli-Desember 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/taqnin.v4i02.12137

Abstract

Kehadiran negara telah membuat kelompok-kelompok umat Islam hidup dalam tempat-tempat yang tersekat satu sama lainnya, terbatasi oleh suatu wilayah, dan mempunyai tatanan pemerintahan sendiri-sendiri. Pemerintahan dan wilayah-wilayah ini telah mewariskan kesan dan pengaruh yang begitu penting terhadap perubahan dan perkembangan serta implementasi hukum yang selama ini dibangun tanpa batas di atas kekuatan konvensional. Peristiwa ini telah membawa berbagai perubahan, rekodifikasi dan pembaharuan peraturan hukum Islam, termasuk wilayah hukum keluarga, dimana dalam penerapannya tidak mungkin terpisah dari norma kehidupan umat Islam. Adapun jenis penelitian yang dipakai dalam artikel ini adalah penelitian library atau kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Hasil kesimpulan menemukan bahwa; pembaharuan hukum keluarga sangat urgen dan penting dilakukan disebabkan isu dan persoalan terkini. Regulasi dan kodifikasi hukum keluarga  tidak mungkin bisa dipisahkan dari kepesatan dan kemajuan-kemajuan terkini. Yang paling besar diantaranya adalah begitu meningkatnya taraf  human right di tingkat dunia, seperti hak kebebasan dasar, keadilan, dan jaminan hak anak, yang agak mempengaruhi interaksi otoritatif di bidang legislasi di tingkat publik.
Reinterpretasi Ayat Pernikahan Beda Agama Muhammad Roni; Muhammad Nasir
Al-Qadha : Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Vol 9 No 2 (2022): Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan
Publisher : Hukum Keluarga Islam IAIN LANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/qadha.v9i2.4636

Abstract

God created human beings in pairs to complement each other between men and women. Marriage is the sunnah of the Prophet, and so much benefit occurs from a marriage bond. Furthermore, marriage is how it is said to be valid in Islam. Whether interfaith marriage is also part of a muslim's personal treasure. In order to answer this, the author uses the tahsis motto in expressing the opinion of Rasyid Ridha in his interpretation, and is also a supporter of several related articles. The results showed that interfaith marriage is an act that cannot be said to be valid even if there are texts (both books and scholarly thoughts), as for the reason because interfaith marriage is irrelevant to the dynamics of current life, especially in the frame of nation and state.
The Contestation of Authority in Islamic Marriage Law Indonesia Nasir, Muhammad; Aniza, Aniza; Muzakkir, Muzakkir; Roni, Muhammad
AL-ISTINBATH : Jurnal Hukum Islam Vol 8 No 2 November (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jhi.v8i2.7896

Abstract

This article describes the contestation between government authorities and religious scholars (ulemas) in the creation of marriage laws in Aceh. The research data were derived from observations, interviews, and documentation, constituting a qualitative study with a theoretical framework based on the relationship between the state and religion, as well as the Theory of Legal Certainty, employing a socio-legal approach. The findings of this study illustrated that the authority of the ulemas was manifested through the issuance of fatwas by Acehnese ulemas, which also operated in society illegally. On the other hand, government authority was realized through the enactment of marriage laws and the Islamic Criminal Code (KHI) implemented by government institutions. The fragmentation and contestation of these authorities occurred following the enactment of the Special Autonomy Law, which granted authority to the ulemas to issue fatwas. As a result, dualism in marriage laws emerged in Aceh, leading to various issues such as legal uncertainty, a lack of trust in state institutions, and the proliferation of illegal marriages in Aceh. Additionally, Acehnese ulemas sought to establish their own local laws for Aceh, independent of national marriage laws. Therefore, it is imperative to establish Aceh's marriage laws through regional regulations (qanun) while accommodating the fatwas issued by Acehnese ulemas.
JUDICIAL PRACTICES IN ENFORCING POST-DIVORCE MAINTENANCE RIGHTS FOR WOMEN AND CHILDREN IN INDONESIA Ahsanul Fahmi; Muhammad Nasir; Nur Anshari; Aminah Aminah; Mohammad Nurunnabi
Indonesia Private Law Review Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/iplr.v6i2.4608

Abstract

Although CEDAW, the CRC, Indonesian law, and Supreme Court regulations provide a normative basis for protecting women’s and children’s rights after divorce, implementation in practice remains challenging. This paper examines how Religious Courts ensure the fulfillment of these rights, offering the first systematic analysis of post-divorce alimony enforcement as an expression of the courts’ regelende functie. Using a normative method with statutory and conceptual approaches, the study shows that while few divorce rulings explicitly include alimony provisions, the Supreme Court has strengthened judicial authority through several SEMA aimed at protecting vulnerable parties. These reforms are reflected in innovative practices in Surabaya, Gresik, Bengkulu, and Bontang, where institutional collaboration, salary deductions, and digital monitoring systems have improved the effectiveness and certainty of alimony enforcement.