This Author published in this journals
All Journal REKA KARSA
Utami Utami
Institut Teknologi Nasional

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Orientasi Massa Bangunan Terhadap Olahan Ruang Dalam Pada Masjid An Nuur Biofarma Bandung Utami Utami; Nilan Khoirul B.; Athiyyah Fitri I.; Siti Nurul H.; Rais Indah Z.
REKA KARSA Vol 5, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i4.3624

Abstract

ABSTRAK Orientasi bangunan sangat penting dalam proses perancangan karena dapat mempengaruhi olahan ruang dalam pada suatu bangunan. Namun orientasi bangunan harus kontekstual dengan kawasan yaitu lingkungan dan tapaknya serta memenuhi persyaratan bangunan secara fungsional agar dapat menampung aktifitas pengguna bangunan sesuai dengan fungsinya. Hal ini bertujuan agar bangunan mengikuti konteks kawasan dan tidak merusak konteks kawasan tersebut namun tetap mengutamakan fungsi bangunan. Sehingga peran arsitek sangat penting dalam kasus ini. Masjid An Nuur Biofarma Bandung memiliki keunikan dari orientasi bangunan. Orientasi massa bangunan mengikuti konteks kawasan sekitarnya yang simetris dengan mengikuti sumbu-sumbu kawasan, tetapi memiliki orientasi ruang dalam yang tidak sama dengan orientasi bangunannya. Hal ini dikarenakan bangunan mengikuti fungsinya sebagai masjid sehingga ruang dalam harus beorientasi ke arah kiblat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui orientasi bangunan pada tapak, pengaruh orientasi massa bangunan terhadap olahan ruang dalam dan mengetahui pengolahan ruang dalam meliputi pola ruang dan elemen pembentuk ruang. Metode penelitian dilakukan melalui metode deskriptif dengan menjelaskan orientasi massa bangunan terhadap olahan ruang dalam pada Masjid An Nuur Biofarma Bandung. Kata kunci: orientasi, olahan ruang dalam, masjid. ABSTRACT Building orientation is very important in the design process because it can affect the processing of inner space in a building. But the orientation of the building must be contextual with the area, it is a environment and footprint, and complete the requirements of the building according to its function. It is intended that the building follows the context of the area and doesn't damage the context of the area but still prioritizes the function of the building. So, the architect's role is very important in this case. An Nuur Biofarma Bandung Mosque has the uniqueness of the building orientation. The mass orientation of the building follows the context of the surrounding area which is symmetrical by following the axes of the area, but it has an inner orientation, that is not the same as the orientation of the building. This is because the building follows its function as a mosque, so the inner space must be oriented towards Qibla. This study aims to determine the orientation of buildings on the site, the influence of mass orientation of the building on the processing of inner space and knows the processed of the inner space, covering the pattern of space and the element of space-forming . The research method is implemented through descriptive method by explaining the mass orientation of building towards the procesing of inner space at An Nuur Biofarma Mosque.. Keywords: orientation, processed inner space, mosque.
Penerapan Konsep Rasionalisme Pada Rancangan Arsitektur Bangunan Masjid Salman Bandung Utami Utami; Rafika Ghassani; Nurman Fadhillah; Nadya Ghifani Syahputri
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3692

Abstract

ABSTRAK Arsitektur rasionalisme merupakan gaya arsitektur yang terbentuk pada awal abad ke-20 dengan memandang keindahan dari suatu bangunan akan timbul dari fungsi elemen-elemen dari bangunan tersebut, bukan dari pola keindahan arsitektur itu sendiri. Dalam artian, gaya ini lebih pada pemikiran yang logis (rasional) sehingga akan terbentuk suatu bangunan murni tanpa unsur-unsur hiasan, estetika, ataupun ornamen-ornamen seperti berbentuk komposisi balok, kubus dan sebagainya. Pada tahun 1960-an, literatur barat mulai masuk ke dunia pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran para arsitek terkemuka seperti Walter Gropius, Frank Llyod Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi normatif dalam diskusi di kelas dan latihan di studio, sehingga karakter pendidikannya menjadi lebih akademis. Hal ini menimbulkan munculnya gaya-gaya baru dalam dunia arsitektur di Indonesia, salah satunya dalam arsitektur masjid. Gaya tersebut terus berkembang dan muncul pula gaya kontemporer. Masjid Salman Bandung merupakan masjid kontemporer pertama di Indonesia yang dibangun pada tahun 1963. Masjid ini dibangun dengan konsep arsitektur yang berani tampil beda dalam arti mampu melepaskan diri dari unsur-unsur yang biasanya sebuah bangunan masjid identik dengan penggunaan kubah. Penerapan konsep rasionalisme pada Masjid Salman Bandung ini diteliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan rasionalistik melalui observasi secara langsung terhadap objek studi dan studi literatur yang berhubungan dengan objek studi. Analisis dilakukan mengacu pada data-data hasil observasi lapangan berdasarkan aspek arsitektural berupa bentuk dan elemen arsitektur. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa penerapan konsep rasionalisme pada rancangan arsitektur bangunan MAsjid Salman diterapkan dengan baik. Salah satunya adalah kesederhanaan bentuk Masjid Salman yang memiliki atap datar dengan material beton yang di ekspose. Kata kunci: arsitektur rasionalisme, elemen bangunan, arsitektur masjid, gaya kontemporer. ABSTRACT The architecture of rationalism is an architectural style that was formed in the early 20th century by looking at the beauty of a building that will arise from the function of the elements of the building, not from the pattern of the beauty of the architecture itself. In a sense, this style is more on logical (rational) thinking so that a pure building will be formed without ornamental, aesthetic, or ornamental elements such as beam composition, cube and so on. In the 1960s, western literature began to enter the world of architectural education in Indonesia. The works and thoughts of prominent architects such as Walter Gropius, Frank Llyod Wright, and Le Corbusier became normative references in class discussions and exercises in the studio, so that the character of his education became more academic. This raises the emergence of new styles in the world of architecture in Indonesia, one of which is in the architecture of the mosque. The style continues to grow and contemporary styles emerge. Salman Mosque Bandung is the first contemporary mosque in Indonesia which was built in 1963. This mosque was built with an architectural concept that dared to appear different in the sense that it was able to escape from the elements that usually a mosque building is identical to the use of domes. The application of the concept of rationalism to the Salman Mosque in Bandung was examined using descriptive qualitative and rationalistic methods through direct observation of the object of study and study of literature related to the object of study. The analysis is carried out referring to data from field observations based on architectural aspects in the form of architectural forms and elements. The results of the study also showed that the application of the concept of rationalism to the architectural design of the mosque of Masjid Salman was well applied. One of them is the simplicity of form from the Salman Mosque which has a flat roof with exposed concrete material. Keywords: architectural rationalism, building elements, mosque architecture, contemporary style