Mulyani Mudis Taruna
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KESIAPAN MADRASAH DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 Mulyani Mudis Taruna
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.723

Abstract

Secara umum kesiapan guru MTs Negeri di Jawa Tengah dilihat dari aspek penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berada pada kategori BAIK (81,59). Apabila dibedakan antara kesiapan guru mapel umum dengan guru mapel PAI, maka terdapat perbedaan, yaitu kesiapan guru mapel dalam penyusunan RPP terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah Lebih Baik (84,84 / Baik) dari pada guru mapel PAI (78,13 / Cukup). Adapun dilihat dari kesiapan guru MTs Negeri di Jawa Tengah dari aspek pelaksanaan pembelajaran di kelas berada pada kategori Cukup(78,26). Apabila dibedakan antara kesiapan guru mapel umum dengan guru mapel PAI, maka terdapat perbedaan, yaitu kesiapan guru mapel dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan menggunakan kurikulum 2013 adalah Lebih Baik (81,45) dari pada guru mapel PAI (74,66)Faktor pendukung dalam kesiapan pelaksanaan kurikulum 2013 adalah 1). adanya sosialisasi kurikulum 2013 untuk kepala madrasah, pengawas dan guru serta mengadakan koordinasi dengan KKM, MGMP, Pokjawas secara mandiri dan intens, 2). menciptakan suasana kelas yang standar dengan tuntutan kurikulum 2013, 3). SDM guru cukup baik terutama guru yang sudah mengikuti sosialisasi kurikulum 2013 sebagai peserta inti dari pusat dan siap bekerjasama. Adapun faktor Penghambat adalah 1). dari aspek waktu, materi, dan narasumber ketika sosialisasi, workshop, dan diklat kurang proporsional, 2). Buku pegangan guru dan peserta didik belum terpenuhi terutama untuk buku PAI, 3). tidak semua guru memiliki atau terampil dalam mengoperasikan laptop, 4). Tidak semua alat peraga maupun perlengkapan laboratorium IPA tersedia sesuai dengan tuntutan materi, 5). Belum tersedianya ruangan khusus bagi guru untuk mengadakan evaluasi maupun sharing pembelajaran, 6). Mindset Guru di mana guru masih menggunakan metode klasik dengan ceramah yang lebih dominan, dan 7). Faktor pendampingan bagi guru yang dilakukan oleh pengawas tidak berjalan dengan baik.
PERGESERAN MITOS DI TENGAH-TENGAH PERUBAHAN SOSIAL (Mitologi Gua Kiskendo dan Dusun Betetor Kabupaten Kendal) Shifting The Myth In The Middle Of Social Change (The Myth of Kiskendo Cave and Betetor Hamlet in Kendal) Mulyani Mudis Taruna
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 2, No 01 (2016): Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.969 KB) | DOI: 10.18784/smart.v2i01.303

Abstract

There are many myths existed in some areas in Indonesia that forbid government officers entering in certain places. This leads to the development of those areas blocked. This research explores and compares between the myth of Kiskendo cave and Betetor village in Kendal district Central Java including how does the origin of those myths, what are the effects of those myths to the surrounding community, and the shifting of its meaning in the society. This study uses phenomenology approach, and data was gathered through in-depth interviews and observation. Analysis was conducted during and after field work using descriptive analysis. Results of this study illustrate that structure of the myth story of Kiskendo cave comes from the story of pewayangan, while the myth of Betetor village is from the story of Kiai Rujak Beling Sabuk Alu who was chased by Dutch army and he enters to Betetor village. The myth of Kiskendo cave does not affect on the government officers’ attitude including police, army, and civil servant. In addition, this myth does not influence to the social change in the village. On the other hand, the myth of Betetor village influence on the government officers’ attitudes, they are afraid to enter the village. However, nowadays they are no longer afraid to enter the village; even some residents become civil servants.