Shiddiq Sugiono
Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi - Kemenristek/BRIN

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMANFAATAN CHATBOT PADA MASA PANDEMI COVID-19: KAJIAN FENOMENA SOCIETY 5.0 Shiddiq Sugiono
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Pembangunan Vol 22, No 2 (2021): Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan)
Publisher : Institution: Ministry of Communication and Information Technology of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31346/jpikom.v22i2.3833

Abstract

Dalam pandemi covid-19, berbagai lembaga pemerintahan di dunia berupaya untuk dapat memberikan informasi yang terpercaya. Hal ini perlu dilakukan karena informasi di media, terutama di media sosial, muncul dengan begitu cepat dan dalam volume yang besar sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi susah untuk memilih informasi yang akan menjadi acuannya dalam mengambil keputusan. Chatbot merupakan sarana komunikasi yang dikembangkan oleh beberapa lembaga pemerintahan di dunia untuk menyebarkan informasi resmi kepada warga negaranya melalui teknologi kecerdasan buatan. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep society 5.0 dimana suatu mesin yang dibangun atas teknologi revolusi industri 4.0 akan membantu manusia dalam mengatasi berbagai macam masalah secara berkelanjutan. Penelitian ini berjenis konseptual dengan tujuan untuk menganalisis fenomena pemanfaatan chatbot oleh manusia melalui perspektif society 5.0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur dengan memilih artikel ilmiah yang memiliki relevansi dengan topik utama. Hasil penelitian menyebutkan bahwa chatbot memiliki kontribusi dalam membangun society 5.0 melalui perannya dalam menyelesaikan permasalahan sosial dan mendukung tercapainya sustainable development goals. Melalui chatbot, seseorang tetap mampu mendapatkan pelayanan mengenai informasi kesehatan kapanpun dan dimanapun. Adapun pemanfaatan layanan informasi dari chatbot mampu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia disaat pandemi, khususnya di bidang kesehatan. Selain itu, pemanfaatan chatbot pada masa pandemi covid-19 menjadi suatu referensi teknologi di masa depan ketika menghadapi kondisi yang sama.
Polarization as The Impact of Strengthening of Anti-Vaccine Groups in Social Media (Echo Chamber Perspective) Shiddiq Sugiono
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 25, No 2 (2021): JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK - DESEMBER 2021
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.25.2.4194

Abstract

AbstrakPada masa pandemi Covid-19, kelompok anti-vaksin telah menggunakan media sosial untuk menyebarkan ketidakpercayaan terhadap dampak vaksin Covid-19 secara homogen dengan sesama anggotanya sehingga fenomena echo chamber tersebut dinilai mampu menciptakan polarisasi. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena polarisasi dari aspek penguatan opini, perdebatan yang memicu amarah dan upaya mempertahankan ideologi sebagai dampak kelompok anti-vaksin yang masuk dalam echo chamber. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian ini menyampaikan bahwa secara konseptual echo chamber memperkuat eksistensi kelompok anti-vaksin Covid-19 di media sosial dan mampu menciptakan polarisasi. Sifat media sosial yang mampu menyebarkan konten lintas negara dinilai memicu penguatan opini anti-vaksin. Dukungan tokoh publik di media sosial menjadi salah satu penyebab meluasnya kampanye tersebut karena pendukungnya turut menyuarakan hal yang sama. Adapun kelompok anti-vaksin kerap membalas pesan dengan bahasa yang memicu emosi. Pesan emosional menjadi salah satu karakteristik polarisasi karena merupakan mekanisme dalam mempertahankan ideologi. Selain itu, informasi perdebatan anti-vaksin cenderung memiliki kualitas informasi yang rendah karena banyak terjadi bias konfirmasi dimana kelompok anti-vaksin hanya percaya konten dengan pandangan yang sama. Sistem yang tertutup dari echo chamber menjadi pemicu bagaimana seseorang hanya akan mempercayai informasi yang disampaikan oleh kelompoknya.Kata kunci: echo chamber, anti-vaksin, misinformasi, Covid-19, polarisasi AbstractDuring the Covid-19 pandemic, anti-vaccine groups have used social media to spread distrust the impact of Covid-19 vaccine homogeneously with their members so the echo chamber phenomenon is considered capable of creating polarization. This study aims to analyze the polarization phenomenon from the aspect of strengthening opinions, debates that trigger anger and efforts to maintain ideology. The method used is a narrative literature review with a qualitative approach. The results convey that conceptually the echo chamber strengthens the existence of the anti-vaccine group on social media and able to create polarization. The nature of social media that is able to spread content across countries is considered to trigger the strengthening of anti-vaccine opinion. The support of public figures on social media was one of the causes of the spread of the campaign because their supporters also voiced the same thing. The anti-vaccine groups often reply a messages that triggers emotions. Emotional messages become one of the polarization characteristics because it is a mechanism in defending ideology. Information on anti-vaccine debates have low quality because there is a lot of confirmation bias. The closed system of the echo chamber triggers how someone will only believe the information conveyed by his group.     Keywords: echo chamber, anti-vaccination, misinformation, Covid-19, polarization
Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Augmented Reality di Perangkat Mobile dalam Komunikasi Pemasaran Shiddiq Sugiono
KOMUNIKA : Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika Vol 10, No 1 (2021): KOMUNIKA
Publisher : BPSDMP KOMINFO Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31504/komunika.v10i1.3715

Abstract

Augmented Reality (AR) merupakan teknologi digital yang telah memberikan banyak manfaat dalam berbagai aktivitas, tak terkecuali pemasaran. Sebagai teknologi yang dapat diakses melalui perangkat mobile, AR dinilai menjadi teknologi yang efektif dalam melakukan komunikasi pemasaran. Tidak hanya meningkatkan niatan seseorang dalam membeli produk, teknologi AR pada perangkat mobile dinilai dapat menjadi media komunikasi yang memberikan solusi sesuai kebutuhan pelanggan, dapat digunakan dimanapun dan mendorong competitive advantage dari pelanggan. Adapun sebagai teknologi yang diakses melalui perangkat digital maka AR tidak luput dari tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan. Dalam hal ini, pemetaan tantangan dan peluang menjadi salah satu bagian penting dalam penyusunan strategi komunikasi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai berbagai manfaat yang dapat dihadirkan oleh AR dalam komunikasi pemasaran melalui perangkat mobile. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur sistematis dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan 8 literatur yang diterbitkan dari tahu 2018 sampai dengan 2020. Penelitian ini menghasilkan sebuah kerangka berfikir mengenai tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh AR dalam konteks komunikasi pemasaran. Berdasarkan hasil analisis, AR menjadi teknologi memiliki peran penting dalam mengimplementasikan komunikasi pemasaran yang terintegrasi hal ini dikarenakan teknologi tersebut berfokus pada komunikasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya dan mampu membuka titik temu antara pelanggan dengan produk. Adapun dalam menjawab tantangan penggunaan teknologi AR dalam komunikasi pemasaran, organisasi harus mampu memberikan anggaran khusus untuk mengembangkan konten 3 dimensinya.
Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Augmented Reality di Perangkat Mobile dalam Komunikasi Pemasaran Shiddiq Sugiono
KOMUNIKA : Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika Vol 10 No 1 (2021): KOMUNIKA
Publisher : BPSDMP KOMINFO Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31504/komunika.v10i1.3715

Abstract

Augmented Reality (AR) merupakan teknologi digital yang telah memberikan banyak manfaat dalam berbagai aktivitas, tak terkecuali pemasaran. Sebagai teknologi yang dapat diakses melalui perangkat mobile, AR dinilai menjadi teknologi yang efektif dalam melakukan komunikasi pemasaran. Tidak hanya meningkatkan niatan seseorang dalam membeli produk, teknologi AR pada perangkat mobile dinilai dapat menjadi media komunikasi yang memberikan solusi sesuai kebutuhan pelanggan, dapat digunakan dimanapun dan mendorong competitive advantage dari pelanggan. Adapun sebagai teknologi yang diakses melalui perangkat digital maka AR tidak luput dari tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan. Dalam hal ini, pemetaan tantangan dan peluang menjadi salah satu bagian penting dalam penyusunan strategi komunikasi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai berbagai manfaat yang dapat dihadirkan oleh AR dalam komunikasi pemasaran melalui perangkat mobile. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur sistematis dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan 8 literatur yang diterbitkan dari tahu 2018 sampai dengan 2020. Penelitian ini menghasilkan sebuah kerangka berfikir mengenai tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh AR dalam konteks komunikasi pemasaran. Berdasarkan hasil analisis, AR menjadi teknologi memiliki peran penting dalam mengimplementasikan komunikasi pemasaran yang terintegrasi hal ini dikarenakan teknologi tersebut berfokus pada komunikasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya dan mampu membuka titik temu antara pelanggan dengan produk. Adapun dalam menjawab tantangan penggunaan teknologi AR dalam komunikasi pemasaran, organisasi harus mampu memberikan anggaran khusus untuk mengembangkan konten 3 dimensinya.