Ramadhita Ramadhita
UIN Maulana Malik Ibrahim

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Nilai Keadilan Sebagai Landasan Putusan Sengketa Wanprestasi: Studi Putusan Nomor 5/Ptd.Sus-BPSK/2017/PN.Lmj Ramadhita Ramadhita; Sahlan Roy Matua Hasibuan
Jurnal Suara Hukum Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Suara Hukum
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wanprestasi merupakan salah satu problem yang dihadapi para pihak dalam sebuah penjanjian. Para pihak dapat menyelesaikan wanprestasi melalui berbagai cara seperti musyawarah, mediasi, arbitrase, maupun pengadilan. Jalur pengadilan sering dianggap hanya mengutamakan nilai kepastikan hukum dan mengesampingkan nilai keadilan dan kemanfaatan. Namun hal ini tidak terjadi dalam penanganan kasus PT. DSF melawan AH di Pengadilan Negeri Lumajang. Artikel ini bertujuan mendiskripsikan kewenangan Pengadilan Negeri Lumajang dalam memutus perkara Nomor 5/Ptd.Sus-BPSK/2017/PN.Lmj. Selain itu, dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam perkara Nomor 5/Ptd.Sus-BPSK/2017/PN.Lmj. Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis normative dengan pendekatan kasus (case approach). Bahan hukum penelitian ini terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder. Metode pengumpulan bahan hukum dengan inventarisasi berupa putusan No. 5/Ptd.Sus-BPSK/2017/PN.Lmj dan bahan hukum kepustakaan. Metode pengolahan bahan hukum menggunakan analysis interactive dengan membagi dalam tiga tahap yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi kesimpulan (conclutions). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pengadilan Negeri Lumajang tidak mempunyai kewenangan atau kompetensi relatif dalam mengadili perkara No. 5/Ptd.Sus-BPSK/2017/PN.Lmj. Majelis Hakim dalam pertimbanggana lebih mengutamakan asas keadilan daripada asas kepastian hukum sebagaimana yang telah disepakati oleh para pihak dalam perjanjian lease (sewa guna usaha).
Pemahaman Hukum Masyarakat Terhadap Pembelian Akun Premium Netflix Tanpa Hak Komersil Frisca Indra Rukmana; Ramadhita Ramadhita
Journal of Islamic Business Law Vol 6 No 1 (2022): Journal of Islamic Business Law
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang pemahaman hukum dan faktor-faktor penyebab maraknya pembelian akun premium Netflix tidak resmi yang diperjualbelikan secara bebas lewat sosial media. Artikel ini merupakan hasil penelitian yuridis empiris dengan menggunakan pendekatan fenomologi yang berhubungan dengan pemahaman tentang kehidupan keseharian dan menggunakan sumber data primer berupa wawancara dengan penjual dan pembeli akun Netflix premium di sosial media. Hasil pembahasan artikel ini menunjukkan bahwa pembelian akun premium Netflix yang diperjualbelikan secara komersil dengan harga yang lebih murah tidak sesuai dengan harga resmi dalam aplikasiNetflix menyalahi hak ekonomi. Hal tersebut dikatakan menyalahi hak ekonomi karena Netflix merupakan sebuah ciptaan yang dilindungi oleh Undang –Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta dalam Pasal 9 menjelaskan sangat rinci tentang hak ekonomi bagi pencipta. Dalam hal tersebut adabeberapa faktor penyebab dan kurangnya pemahaman hukum tentang minat pembelian lebih banyak memilih membeli akun Netflix premium tidak resmi atau lewat di sosial media.Kata Kunci : Pemahaman Hukum; Akun Premium; Netflix; Undang-Undang Hak Cipta ; Pembelian
ECONOMIC RIGHT JUSTICE FOR INDIGENOUS PEOPLES IN CARBON TRADING IN THE FORESTRY SECTOR IN INDONESIA Khoirul Hidayah; Musataklima Musataklima; Syabbul Bachri; Dwi Fidhayanti; Ramadhita Ramadhita
Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah Vol 17, No 1 (2026): Jurisdictie
Publisher : Fakultas Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j.v17i1.43696

Abstract

Carbon trading in the forestry sector is vital for reducing greenhouse gas emissions to the targeted level and for implementing a green economy in Indonesia. Within this scope, indigenous peoples hold a strategic position, as major carbon-potential forests are located in areas that they cultivate and preserve. Although several regulations have recognised the involvement of indigenous peoples in carbon trading, its implementation still faces issues over economic rights justice. Departing from this issue, this research analyses the standing of indigenous peoples in carbon trading, particularly in the forestry sector, identifies economic rights justice issues, and formulates a reinforcement model from the perspective of green economy law. Using a normative method, supported by statutory, conceptual, and philosophical approaches, this research reveals that the legal framework for carbon trading has enabled the participation of indigenous peoples by recognising customary forests and several forest management schemes. However, access to economic benefits is hampered by communal carbon rights issues, procedural complexity, limited institutional capacity, and the suboptimal benefit-sharing mechanism. Therefore, regulation reinforcement and a transparent, proportional distribution model are necessary. This research, therefore, offers a model of economic rights justice for indigenous peoples that integrates green economy law, justice theory, and the protection of customary rights into more inclusive and just carbon trading governance. Perdagangan karbon di sektor kehutanan sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga mencapai tingkat yang ditargetkan dan untuk menerapkan ekonomi hijau di Indonesia. Dalam lingkup ini, masyarakat adat memegang posisi strategis, karena sebagian besar hutan yang berpotensi karbon berada di wilayah yang mereka kelola dan lestarikan. Meskipun beberapa regulasi telah mengakui keterlibatan masyarakat adat dalam perdagangan karbon, implementasinya masih menghadapi persoalan terkait keadilan hak ekonomi. Berangkat dari isu tersebut, penelitian ini menganalisis kedudukan masyarakat adat dalam perdagangan karbon, khususnya di sektor kehutanan, mengidentifikasi masalah keadilan hak ekonomi, dan merumuskan model penguatan dari perspektif hukum ekonomi hijau. Dengan menggunakan metode normatif yang didukung oleh pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan filosofis, penelitian ini mengungkapkan bahwa kerangka hukum perdagangan karbon telah memungkinkan partisipasi masyarakat adat melalui pengakuan hutan adat dan beberapa skema pengelolaan hutan. Namun, akses terhadap manfaat ekonomi terhambat oleh masalah hak karbon komunal, kompleksitas prosedural, keterbatasan kapasitas kelembagaan, dan mekanisme pembagian keuntungan yang belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi serta model distribusi yang transparan dan proporsional. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan model keadilan hak ekonomi bagi masyarakat adat yang mengintegrasikan hukum ekonomi hijau, teori keadilan, dan perlindungan hak-hak adat ke dalam tata kelola perdagangan karbon yang lebih inklusif dan berkeadilan.