Efa Ida Amaliyah
STAIN Kudus

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TEOLOGI KONSTRUKSI DALAM MERESPONS BENCANA (STUDI PEMIKIRAN MAHASISWA STAIN KUDUS MELALUI MATA KULIAH IAD, IBD, DAN ISD) Efa Ida Amaliyah
Jurnal Penelitian Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v7i2.818

Abstract

THEOLOGY OF CONSTRUCTION IN RES- PONDING TO DISASTER (THE STUDY OF STAIN KUDUS STUDENTS’ THOUGHTS THROUGH IAD, IBD, ISD COURSES). Indonesia has experienced various natural disasters. After some natural disasters stroke, there is no serious concern about the disaster and the consequences. Students as agents of  change is expected to take an active role in dealing with disasters through productive thoughts. The active role of students is one of  them realized through the course IAD, ISD, and IBD. This paper elaborates on the meaning of  the disaster among students and formulate theological construction that is able to influence him in the handling of  the disaster. Through the method of reviewing secondary data, observation, and interviews, it is concluded that there are ten reasons religious beliefs and practices have significant positions in disaster mitigation, that religion gives a positive view of the disaster, religion gives meaning and purpose in life, belief  systems of  religion enable someone’s ready to face the bad things that befall human life, religious give hope and motivation, religion provides the power personally, religion provides a sense of  control, religion provides examples of exemplary in the face of  suffering, religion provides guidance in making decisions, religion give answers to questions that are not able to be answered by the secular culture and science, and religion provide social support. Thus, students should be prudent in defining the disaster. Do not let them use the arguments that would discourage the victims.Keywords: Teological Construction, Disaster, Student Thought, IAD, IBD, and ISD Courses.Indonesia sudah mengalami bermacam bencana alam. Setelah beberapa bencana alam menimpa, tidak ada perhatian serius tentang bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan ikut berperan aktif  dalam menangani bencana melalui pemikiran-pemikiran yang produktif. Peran aktif mahasiswa tersebut salah satunya direalisasikan melalui mata kuliah IAD, ISD, dan IBD yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Tulisan ini mengelaborasi makna bencana di kalangan mahasiswa dan merumuskan teologi konstruksi yang mampu memengaruhinya dalam penanganan bencana. Lewat metode mereview data sekunder, observasi, dan wawancara, disimpulkan bahwa ada sepuluh alasan keyakinan dan praktik keagamaan memiliki posisi yang signifikan dalam mitigasi bencana, yaitu agama memberikan pandangan yang positif terhadap bencana, agama memberikan pemaknaan dan tujuan dalam hidup, sistem keyakinan dalam agama memungkinkan seseorang untuk  siap  menghadapi  kejadian-kejadian  buruk  yang  menimpa hidup manusia, agama memberikan harapan dan motivasi, agama memberikan kekuatan secara personal, agama memberikan sense of control, agama memberikan contoh-contoh teladan dalam menghadapi penderitaan, agama memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan, agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh kultur sekuler dan sains, serta agama memberikan dukungan sosial. Dengan demikian, mahasiswa harus bijaksana dalam memaknai bencana yang ada. Jangan sampai mereka menggunakan dalil-dalil atau argumentasi yang akan membuat kecil hati para korban.Kata Kunci: Teologi Konstruksi, Bencana, Pemikiran Mahasiswa, Mata Kuliah IAD, IBD, dan ISD.
TEOLOGI KONSTRUKSI DALAM MERESPONS BENCANA (STUDI PEMIKIRAN MAHASISWA STAIN KUDUS MELALUI MATA KULIAH IAD, IBD, DAN ISD) Efa Ida Amaliyah
Jurnal Penelitian Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v7i2.818

Abstract

THEOLOGY OF CONSTRUCTION IN RES- PONDING TO DISASTER (THE STUDY OF STAIN KUDUS STUDENTS’ THOUGHTS THROUGH IAD, IBD, ISD COURSES). Indonesia has experienced various natural disasters. After some natural disasters stroke, there is no serious concern about the disaster and the consequences. Students as agents of  change is expected to take an active role in dealing with disasters through productive thoughts. The active role of students is one of  them realized through the course IAD, ISD, and IBD. This paper elaborates on the meaning of  the disaster among students and formulate theological construction that is able to influence him in the handling of  the disaster. Through the method of reviewing secondary data, observation, and interviews, it is concluded that there are ten reasons religious beliefs and practices have significant positions in disaster mitigation, that religion gives a positive view of the disaster, religion gives meaning and purpose in life, belief  systems of  religion enable someone’s ready to face the bad things that befall human life, religious give hope and motivation, religion provides the power personally, religion provides a sense of  control, religion provides examples of exemplary in the face of  suffering, religion provides guidance in making decisions, religion give answers to questions that are not able to be answered by the secular culture and science, and religion provide social support. Thus, students should be prudent in defining the disaster. Do not let them use the arguments that would discourage the victims.Keywords: Teological Construction, Disaster, Student Thought, IAD, IBD, and ISD Courses.Indonesia sudah mengalami bermacam bencana alam. Setelah beberapa bencana alam menimpa, tidak ada perhatian serius tentang bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan ikut berperan aktif  dalam menangani bencana melalui pemikiran-pemikiran yang produktif. Peran aktif mahasiswa tersebut salah satunya direalisasikan melalui mata kuliah IAD, ISD, dan IBD yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Tulisan ini mengelaborasi makna bencana di kalangan mahasiswa dan merumuskan teologi konstruksi yang mampu memengaruhinya dalam penanganan bencana. Lewat metode mereview data sekunder, observasi, dan wawancara, disimpulkan bahwa ada sepuluh alasan keyakinan dan praktik keagamaan memiliki posisi yang signifikan dalam mitigasi bencana, yaitu agama memberikan pandangan yang positif terhadap bencana, agama memberikan pemaknaan dan tujuan dalam hidup, sistem keyakinan dalam agama memungkinkan seseorang untuk  siap  menghadapi  kejadian-kejadian  buruk  yang  menimpa hidup manusia, agama memberikan harapan dan motivasi, agama memberikan kekuatan secara personal, agama memberikan sense of control, agama memberikan contoh-contoh teladan dalam menghadapi penderitaan, agama memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan, agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh kultur sekuler dan sains, serta agama memberikan dukungan sosial. Dengan demikian, mahasiswa harus bijaksana dalam memaknai bencana yang ada. Jangan sampai mereka menggunakan dalil-dalil atau argumentasi yang akan membuat kecil hati para korban.Kata Kunci: Teologi Konstruksi, Bencana, Pemikiran Mahasiswa, Mata Kuliah IAD, IBD, dan ISD.
KONSEP DAN KOMITMEN MAHASISWA STAIN KUDUS TENTANG PLURALITAS AGAMA Efa Ida Amaliyah
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.117 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.663

Abstract

RELASI AGAMA DAN BUDAYA LOKAL: Upacara Yaqowiyyu Masyarakat Jatinom Klaten Efa Ida Amaliyah
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.842 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1825

Abstract

Perayaan Yaqowiyyu di desa Jatinom sudah menjadi ritualyang dilaksanakan setiap hari Jum’at minggu kedua dibulan Safar penanggalan Jawa. Ritual tersebut berlangsunghingga saat ini sebagai ungkapan penghormatan terhadapKi Ageng Gribig berupa menyebar kue apem ke halayakramai yang sudah menunggu di lapangan yang sudahdisediakan. Penelitian ini secara khusus membahas tentangmakna dari semua unsur yang ada dalam ritual tersebut,seperti pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar desaJatinom. Selain itu juga masuknya modernitas yang tidak bisaterelakkan lagi. Untuk mengetahui bahasan tersebut, makapendekatan penelitian ini adalah pendekatan fungsionalis.Pendekatan fungsionalis mengadaikan bahwa suatumasyarakat dipandang sebagai suatu jaringan kelompokyang bekerjasama secara terorganisasi, yang bekerja dalamsuatu cara yang relatif teratur menurut seperangkat aturandan nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat tertentu.Sebuah perilaku atau tindakan sosial bisa dibenarkankarena hal tersebut dalam masyarakat dinilai sebagaifungsional. Makna yang muncul sangat beraneka ragamtergantung harapan dari mereka yang datang di ritual tersebut. Makna keberkahan adalah yang paling dominan.Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kue apemdari lemparan panitia, hajat-hajat yang mereka inginkanakan cepat terkabul. Sebagai contoh, bagi petani berharappanennya akan melimpah dengan menyebarkan apemhasil tangkapan di Yaqowiyyu ke sawah mereka. Begitujuga yang menghendaki adanya jodoh, berhasil dan suksesdalam pekerjaannya, serta usahanya yang lancar. Salah satuyang mereka lakukan dengan apem tersebut menyimpannyadi tempat-tempat yang dianggap bisa aman, seperti lemaridan di bawah tempat tidur. Makna lain didapat oleh parapedagang dadakan, tukang parkir, dan masyarakat sekitarkarena kedatangan keluarga jauh mereka. Dengan adanyaantusiasisme dari kalangan masyarakat, maka pemerintahsetempat mengapresiasi untuk keberlangsungan ataumelanggengkan ritual tersebut. Salah satunya denganmenggandeng perusahaan rokok sebagai sponsor tunggal.Karenanya tidak salah kalau ritual Yaqowiyyu dijadikansebagai wisata religi yang ada di Kabupaten Klaten.Sehingga, unsur-unsur modernitas yang diwakili olehpemerintah dan perusahaan rokok mendukung untukmelestarikan ritual yang dilakukan oleh pendirinyayaitu Ki Ageng Gribig sebagai bentuk kearifan local bagimasyarakat yang mempercayainya.
MASYARAKAT BADUY DALAM PERGULATAN TIGA JARINGAN MAKNA Efa Ida Amaliyah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v12i2.1294

Abstract

This article tries to explore about Bernard Adeney-Risakotta’ theory, that are agama (religion), modernitas (modernity), and budaya nenek moyang (culture of the ancestors), that relates with Baduy society (Baduy Dalam and Baduy Luar). This article uses library research. There are differences between Baduy Luar and Baduy Dalam, Baduy Luar tends to influenced by modernity, because they receive modernity product, such as technology, idea, and also institutions. In religiosity’ view, they are influenced by traditional religion. They accept modernity in technology form, such as transportation, television, the watch, clothes, etc.Tujuan tulisan ini mengeksplorasi tentang tiga jaringan makna yang menjadi teori Bernard Adeney-Risakotta, yaitu agama, modernitas, dan budaya nenek moyang pada masyarakat Baduy yang mempunyai pola sedikit berbeda, karena ada dua Baduy, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tulisan ini menggunakan analisa kepustakaan. Analisa didasarkan pengumpulan data sekunder berbasis kepustakaan yang dihimpun dari berbagai literatur yang mendukung. Masyarakat Baduy masih melaksanakan gotong royong, misalnya pada pembuatan rumah, panen, acara ritual atau berdo’a. Baduy Luar sudah terpengaruh pada modernitas, yaitu teknologi (televisi dan transportasi), institusi dan gagasan (ide). Tidak ada konfrontasi dari luar Baduy, karena mengedepankan kebersamaan dan saling menghormati. Baduy Luar masih memegang teguh budaya nenek moyang dengan patuh pada puun sebagai kepala suku. Mereka tetap memakai identitas sebagai masyarakat Baduy, yaitu pakaian yang merupakan ciri khas Baduy. Menurut Bernard, budaya nenek moyang bisa berupa kesetiaan pada nenek moyang, kepatuhan pada adat istiadat. Berbeda dengan Baduy Dalam dalam menerima tiga jaringan di atas. Baduy Dalam merupakan masyarakat yang menonjolkan budaya nenek moyang. Dalam hal modernitas, mereka sangat jauh dari yang telah didefinisikan oleh Bernard, baik dalam modernitas gagasan (ide) dan tehnologi.Keywords: Religion, cultural ancestors,Modernity,Baduy