Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Identifikasi Waste pada Waktu Tunggu Pasien Rumah Sakit Nasional Diponegoro dengan Pendekatan Lean Hospital Jessica Christanti Pualamsyah; Sudiro Sudiro
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 5, No 2 (2017): Agustus 2017
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.177 KB) | DOI: 10.14710/jmki.5.2.2017.94-103

Abstract

Outpatient waiting time based on minimum standart of care is defined as a time duration since patient in registrated until they meet the doctor. Lean management is a method that could improve outpatient process. There was persistence complain in outpatient waiting time in Diponegoro National Hospital since May 2016 until November 2016. Therefore, lean is expected to improve outpatient wait time. Based on Lean theory, waste is comprised of waste defect, overproduction, transportation, waiting, inventory, motion, overprocessing, and non-utilized talent. This study is going to identified waste that occurred in internal medicine outpatient.     This was qualitative study research and conducted by observation, indepth interview, and focussed group disscusion. Total of key informant was 10 internal medicine patients and 6  hospital staffs, including  registration, administration, information technology (IT) , procurement, helper, and  nurse. Total of informant triangulation was 2 informants, including head of outpatient unit and medical records unit. Waste identification was done by value stream mapping analysis and value-added assessment. Root cause analysis (RCA) which used in this study was 5 whys method.     The longest activity in outpatient  was waiting in registration booth with mean value of 30,9 minutes, the second was waiting for doctor activity with mean value of 25,2 minutes and the third was waiting medical records to be given by helper with mean value of 8,8 minutes. Waste waiting, overprocessing,  defect,  inventory, motion  were  found in this study. It recommends an establisment of flowchart for patient, interdepartment coordination, and Standar Operation Procedure (SOP). Procrument for medical record facility and implementation of 6 S culture are mandatory.
Analisis Penyebab Putus Obat Pada Penderita HIV/AIDS Yang Berobat Di Klinik VCT Prihanto Prihanto; Sudiro Sudiro; Martha Irene K
Jurnal Kesehatan Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.125 KB) | DOI: 10.46815/jkanwvol8.v7i1.80

Abstract

Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung sampai akhir Tahun 2014 mencapai 260 penderita dan angkanya cenderung meningkat. Dari jumlah tersebut yang masih aktif menggunakan ARV hanya 107 penderita (41%), yang putus obat sejumlah 10 penderita (9%).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa penyebab putus obat pada Penderita HIV/AIDS yang berobat di Klinik VCT Kabupaten Temanggung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menganalisis penyebab putus obat ditinjau dari edukasi, akomodasi, modifikasi faktor lingkungan sosial, perubahan model terapi dan meningkatnya interaksi tenaga kesehatan dengan penderita. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam terhadap informan utama yaitu 3 penderita HIV yang putus obat, 1 penderita yang masih aktif  dan informan triangulasi pengelola KPA, Pengelola Klinik VCT, Kasi P2M Dinas Kesehatan dan KDS Smile Plus di Kabupaten Temanggung. Data diolah dan dianalisis berdasarkan kelima faktor tersebut dengan metode pengolahan diskripsi isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab putus obat adalah: 1).edukasi yang kurang berkelanjutan dan mendalam, 2). akomodasi dan fasilitas penderita yang kurang dan jarak tempuh, 3). sedangkan dari KPA adalah sarana dan prasarana yang kurang untuk memonitor penderita. Modifikasi faktor lingkungan perlu dilakukan akibat adanya stigma dari masyarakat yang dirasakan oleh penderita, dukungan dari keluarga cukup tapi tekanan dari luar lebih kuat terutama stigma yang ada,  kurangnya dukungan dari tenaga kesehatan dan motivasi diri yang kurang,  serta perubahan model terapi terkait dengan keluhan efek samping ARV yang dirasakan. Faktor lain adalah kebijakan dan regulasi dari pemerintah daerah terkait dengan sarana prasarana, pendanaan dan sistem koordinasi serta monitoring dalam penanganan penderita HIV/AIDS yang masih kurang memadai. Faktor pendukung pada penderita  yang  aktif adalah: dukungan dari tenaga kesehatan dan keluarga, serta komitmen penderita untuk terus menjalani pengobatan.  Kata Kunci:  HIV/AIDS; putus obat; anti retroviral virus; klinik VCT