Witjaksono Witjaksono
Department of Crop Protection, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada Jln. Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Turnera subulata and Cosmos sulphureus Flowers in the Life of Anagrus nilaparvatae (Hymenoptera: Mymaridae) Wiwik Sugiharti; Y. Andi Trisyono; Edhi Martono; Witjaksono Witjaksono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.24806

Abstract

Anagrus nilaparvatae is a potential egg parasitoid to control the rice brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) The parasitoid needs to consume suitable food to maximize its biotic potential and parasitizing ability. This study was aimed to determine the benefits provided by the presence of Turnera subulata and Cosmos sulphureus flowers on the life of A. nilaparvatae. This study consisted of two experiments. The first experiment was designed to determine the effects of the tested flowers on the parasitism and hatching rate of A. nilaparvatae on N. lugens eggs. The flowers were set inside the rearing cage of parasitoid in the presence of N. lugens eggs in Ciherang rice seedlings. In addition, honey and the control (no feed added) were included into the treatments, totalling of four treatments. The parasitism rate of A. nilaparvatae fed with the flowers or honey was similar to those unfed. However, the hatching rate of A. nilaparvatae was much higher on those fed with flower or honey than those unfed. The number of A. nilaparvatae unable to eclose from eggs of N. lugens for the unfed parasitoid was 37.4% in comparison with 8.19 to 15.67% for those fed with flower or honey. The second experiment was a follow-up to address the question on the fitness of progeny of A. nilaparvatae fed with the tested flowers. The flowers and honey did not increase the longevity of A. nilaparvatae progeny. However, A. nilaparvatae fed with flowers or honey produced progeny that resulted in higher number of offspring compared to those unfed. C. sulphureus flower significantly increased the number of offspring produced by A. nilaparvatae. This suggest that the diet of the parental parasitoid determines the fitness of the progeny. Improving the hatching rate and the fecundity of progeny produced by the adults of A. nilaparvatae fed with the flower of T. subulata and C. sulphureus would contribute to the increasing population of this parasitoid which could lead to a better control of N. lugens in the rice field. IntisariAnagrus nilaparvatae merupakan parasitoid telur yang potensial untuk mengendalikan serangan wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stal.). Parasitoid perlu mendapatkan sumber pakan yang sesuai untuk memaksimalkan potensi biologis dan kemampuan memarasit inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manfaat pemberian bunga Turnera subulata dan Cosmos sulphureus pada kehidupan A. nilaparvatae. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama dirancang untuk mengetahui pengaruh bunga yang diuji terhadap tingkat parasitasi dan penetasan telur A. nilaparvatae pada telur N. lugens. Bunga diletakkan di dalam tabung rearing parasitoid yang di dalamnya terdapat bibit padi varietas Ciherang yang mengandung telur N. lugens. Selain itu, terdapat pula perlakuan madu dan kontrol (tanpa bunga dan tanpa madu), dengan total empat perlakuan. A. nilaparvate yang diberi pakan bunga atau madu memiliki tingkat parasitasi yang sama dengan yang tidak diberi pakan. Namun, tingkat penetasan telur A. nilaparvatae yang diberi pakan bunga atau madu jauh lebih tinggi daripada yang tidak diberi pakan. Jumlah A. nilaparvatae yang tidak menetas dari telur N. lugens pada parasitoid yang tidak diberi pakan adalah 37,4% dibandingkan dengan parasitoid yang diberi pakan bunga atau madu yang berkisar 8,19 - 15,67%. Percobaan kedua adalah tindak lanjut untuk menjawab pertanyaan tentang kebugaran keturunan A. nilaparvatae yang diberi pakan dengan bunga yang diuji. Bunga dan madu tidak meningkatkan lama hidup keturunan A. nilaparvatae. Namun, A. nilaparvatae yang diberi pakan dengan bunga atau madu menghasilkan keturunan yang memiliki fekunditas lebih tinggi dibandingkan dengan keturunan dari A. nilaparvatae yang tidak diberi pakan. Bunga C. sulphureus secara signifikan mampu meningkatkan jumlah keturunan yang dihasilkan oleh A. nilaparvatae. Ini menunjukkan bahwa jenis pakan induk parasitoid menentukan kebugaran keturunannya. Peningkatan penetasan dan fekunditas dari keturunan yang dihasilkan oleh induk A. nilaparvatae yang diberi pakan bunga T. subulata dan C. sulphureus akan berkontribusi pada peningkatan populasi parasitoid sehingga dapat mengendalikan serangan N. lugens di pertanaman padi dengan lebih baik.
Diversity of Feed Storage Pest Beetle in Banten Province Nasrul Friamsa; Witjaksono Witjaksono; Arman Wijonarko
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.26126

Abstract

Banten province is a growing industrial area, where many industrial items were prepared including animal feed whose raw materials are mostly imported from abroad. Therefore, monitoring feed storage is very important to ensure the existence of pest insects in storage warehouse and to prevent the entry of plant quarantine pest organism (OPTK) which may be carried by imported feed raw materials. The identification, diversity and evenness of pest beetle species in five feed storages in Banten province region have been done. Feed sampling was done using hand sampling method. Samples taken from the diagonal corner and center of storage, respectively as much as 250 grams four times within one-week interval. The results were that 13 species of pest beetles from seven families were intercepted. Cryptolestes ferrugineus, Rhizoperta dominica, and Tribolium castaneum pest beetles were the dominant insects attacking five storages. Specifically, the dominant pest beetles in each commodity were: T. castaneum on soybean meal (SBM); C. ferrugineus and T. castaneum on corn; T. castaneum and R. dominica on corn gluten meal (CGM); T. castaneum and Sitophilus zeamais on wheat; T. castaneum on soybeans; and Oryzaephilus surinamensis in sorghum. Environmental factors, the type and duration of stored commodities were found to be the factors supporting the existence of pest beetle species. The highest diversity of pest beetle varieties was found in warehouse A with a value of 1.552 which was considered as moderate diversity. The evenness index of pest beetle species showed that warehouses A and E were in unstable conditions. Meanwhile, the warehouses B, C, and D were in  depressed conditions dominated by certain species of pest beetle. IntisariProvinsi Banten merupakan daerah industri yang terus berkembang, termasuk industri pakan ternak yang bahan bakunya sebagian besar diimpor dari luar negeri. Oleh sebab itu, pengawasan terhadap gudang penyimpanan pakan sangat penting dilakukan untuk mengawasi keberadaan serangga hama pada gudang penyimpanan dan mencegah masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang mungkin terbawa bahan baku pakan yang diimpor. Identifikasi, keanekaragaman serta kemerataan jenis kumbang hama pada lima gudang penyimpanan pakan di wilayah Banten telah dilakukan. Pengambilan sampel bahan pakan menggunakan metode hand sampling. Sampel diambil pada bagian sudut dan bagian tengah secara diagonal masing-masing sebanyak 250 gram sebanyak 4 kali dengan interval waktu 1 minggu sekali. Hasil penelitian diperoleh 13 jenis kumbang hama dari 7 famili. Kumbang hama jenis Cryptolestes ferrugineus, Rhyzoperta dominica, dan Tribolium castaneum merupakan serangga yang dominan menyerang kelima gudang penyimpanan. Jenis kumbang hama yang dominan pada masing-masing komoditas adalah T. castaneum pada soybean meal (SBM); C. ferrugineus dan T. castaneum pada komoditas jagung; T. castaneum dan R. dominica pada corn gluten meal (CGM); T. castaneum dan Sitophilus zeamais pada gandum; T. castaneum pada kedelai; dan Oryzaephilus surinamensis pada sorgum. Faktor lingkungan, jenis dan lama komoditas yang disimpan merupakan faktor pendukung keberadaan suatu jenis kumbang hama. Indeks keanekaragaman jenis kumbang hama tertinggi ditemukan pada gudang A dengan nilai 1,552 menggambarkan keanekaragaman tergolong sedang. Nilai indeks kemerataan jenis kumbang hama menunjukkan bahwa gudang A dan gudang E termasuk dalam kondisi labil; sedangkan gudang B, C, dan D termasuk dalam kondisi tertekan dengan didominasi oleh jenis kumbang hama tertentu.