Yustina Devi Ardhiani
The Religious And Cultural Studies Program, Sanata Dharma University Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sahita’s Performance, Satire of the Life of Javanese Women Yustina Devi Ardhiani
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v3i2.1846

Abstract

Sahita is a performance art group established in Surakarta-Central Java with four members of Javanese women who are in their forties to fifties. On stage performance, Sahita acts upon old women who are not pretty, but plump, attractive, energic, and humorous. Their performance is considered “uncommon” considering the fact that Sahita’s cultural background is Javanese which is dominated by youth, beauty, proportional body as the beauty of female bodily form, and gentle manner as women described on stage performance. The research questions highlights why Sahita prefers to have satire style and chooses traditional art as the basis in producing new works? The data are gained through field observation, deep interview and library study. The finding reveals that Sahita prefers the satire style to express what is hard to talk in the daily life and to express critics in humorous ways so that the critized party can also enjoy the performance. In their works, Sahita makes traditional art as its base because of its strong background in traditional art and because of its unlimited exploration. What makes Sahita unique besides its members who are all women voicing women’s anxiety, Sahita also presents traditional art with contemporary taste in their works.
Mural Bonek: Identitas dan Kuasa Fan Sepak Bola Obed Bima Wicandra; A Supratiknya; Yustina Devi Ardhiani
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 22 No. 1 (2022): JANUARY 2022
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.548 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.22.1.27-40

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis identitas Bonek yang terbangun melalui seni mural di jalanan kota Surabaya. Selama ini Bonek adalah stigma bagi fan Persebaya yang suka membuat onar, penampilan yang gahar, suka menjarah, dan berbagai stigma lain yang melekat. Artikel ini juga ditulis untuk mengetahui hal-hal yang tersampaikan melalui pesan yang tersembunyi di mural Bonek, termasuk bagaimana relasi kuasa yang dimunculkan melalui persepsi visual tersebut. Pada penelitian ini, konsep identitas yang digunakan adalah studi komunitas sebagaimana yang dilakukan oleh Anthony Cohen (1985). Sedangkan untuk membongkar relasi kuasa dalam mural menggunakan konsep perilaku suporter sepak bola menurut Spaaij (2008) yang sejalan dengan Michel Foucault (1991). Penelitian ini menyimpulkan mengenai bagaimana mural yang dihasilkan merepresentasikan Surabaya yang semakin padat serta tekanan hidup yang semakin berat, menjadikan Bonek yang sebagian besar kelas pekerja menyandarkan harapannya pada Persebaya. Persebaya adalah harga diri bagi Bonek. Mural Bonek bukanlah sebagai pencitraan mengenai Bonek yang berubah atau alih-alih memberi semangat pada Persebaya. Mural yang dibuat oleh Bonek menyiratkan tentang kelas sosial yang dipandang sebagai liyan dalam konstelasi masyarakat Surabaya yang berdaya menghadapi tekanan. Sebagus apapun usaha yang dilakukan Bonek untuk citra positifnya, tetap saja Bonek akan dipandang pilihan negatif namun di sisi lain membanggakan.