Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PELAYANAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF NPM Muharsono, Muharsono
Jurnal PUBLICIANA Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Tulungagung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.207 KB)

Abstract

                                                  ABSTRAKPelayanan dalam sektor publik lebih berorientasi pada atasan, membelanjakan dari pada menghasilkan sehingga kurang memperhatikan kepentingan dinamika dan mobilitas masyarakat. Konsep NPM berupaya memasukkan unsur privat kedalam sektor publik sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan pendapatan disektor publik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan transportasi publik, upaya untuk meningkatkan pendapatan, strategi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung serta merekomendasikan model pelayanan transportasi publik dalam perspektif NPM. Kajian pelayanan dalam perspektif NPM ini diharapkan dapat mengutakan aplikasi NPM dalam sektor publik sehingga pendekatan NPM benar-benar dapat berkembang disemua sektor publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, pendekatannya studi kasus sehingga mampu merekontruksi teori yang bermula dari data yang ada.Hasil temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa perspektif NPM telah dipernekalkan di Dishub Kabupaten Tulungagung namun belum dilaksanakan secara maksimal. Pelayanan transportasi publik dalam perspektif NPM sangat ditentukan dari: 1) Kualitas pelayanan yang diukur melalui realiability, responsibility, empathy, accountability dan comfort yang ditetapkan sesuai keinginan masyarakat dan konsisten dalam pelaksanaan dan pemberian sanksi jika terjadi pelanggaran 2) Upaya peningkatan pendapatan yang ditentukan oleh identifikasi sumber-sumber penerimaan yang berasal dari retribusi ijin usaha/trayek, pengujian kendaraan bermotor, parkir, terminal dan hasil pengelolaan bus sekolah. Upaya untuk meningkatkan pendapatan dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. 3) Strategi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dilakukan dengan a) Revitalisasi organisasi untuk mencapai format organisasi yang sesuai antara tugas dan tanggung jawab melalui reformasi struktur dan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) yang profesional b) Meningkatkan partisipasi masyarakat baik internal maupun eksternal untuk terlibat dalam pelayanan publik. c) meningkatkan fasilitas pendukung 4) Faktor yang mendukung adalah lingkungan kelembagaan, kondisi sumberdaya aparatur birokrasi dan insentif yang harus dimanfaatkan dalam pelayanan. Sedangkan faktor yang menghambat adalah budaya patrimonial, perkembangan tehnologi dan harga/tarif yang harus dikendalikan agar mempu meningkatkan kualitas pelayanan Dishub Tulungagung.Penelitian ini merekomendasikan model pelayanan publik dalam perspektif NPM sebagai berikut: 1) Mendasarkan pada konsep yang relevan yaitu konsep NPM dan pelayanan publik 2) Menekankan pada manajemen yang berorientasi pelayanan publik yang dikembangkan NPM dari makna managerialisme yang merujuk pada pengelolaan sektor swasta ke sektor publik dengan menekankan pada pelayanan yang berkualitas dan berorientasi pada hasil. 3) manajemen pelayanan publik mencakup proses pelayanan, strategi pencapaian kepuasan publik dan pendapatan bagi Dishub Tulungagung. 4) Dalam penetapan model masing-masing unsur saling terkait dan menguatkan satu sama lain sehingga layak digunakan.Untuk mewujudkan pelayanan publik dalam perspektif NPM maka Dishub Tulungagung sebagai lembaga pelayanan dan penghasil harus mampu memberi pelayanan yang berkualitas dan meningkatkan pendapatannya. Perlu dilakukan reformasi struktur dan peningkatan kualitas SDM yang profesional. Intensifikasi dan ekstensifikasi dijalankan secara efektif. Mempertimbangkan strategi yang tepat dan faktor yang mendukung serta mengantisipasi faktor yang mendukung serta mengantisipasi faktor penghambat sehingga memberikan kepuasan kepada publik sekaligus meningkatkan penerimaan daerah.
PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG (Studi Kasus Jembatan Ngujang II) Muharsono, Muharsono
Jurnal PUBLICIANA Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Tulungagung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.681 KB)

Abstract

ABSTRAKJembatan Ngujang II merupakan permintaan dari pemerintah pusat khususnya anggota DPR baru untuk menjadi anggota legislative yang selanjutnya berinisiatif membuat sebuah proyek yaitu Jembatan Ngujang II ini. Berawal dari pembebasan lahan yang sudah dilakukan sejak 2014 lalu tidak diikuti dengan pembangunan jembatan. Pembangunan yang rencananya dilakukan selepas pembebasan lahan itu harus berkali-kali tertunda lantara belum cairnya anggaran dari pusat. Warga Kota Marmer yang memimpikan bisa melintasi Sungai Brantas tanpa kemacetan.Proyek jembatan ini termasuk proyek tahap lelang. Proyek yang penandatangan kontrak sejak 6 April lalu direncanakan untuk memecah kemacetan di Jembatan Ngujang I. Seperti diketahui, Jembatan Ngujang II yang melintasi Sungai Brantas diproyeksikan dapat memecahkan kemacetan arus lalu lintas yang sering terjadi di Jembatan Ngujang I saat jam sibuk, akhir pekan dan libur panjang. Selain itu, Jembatan Ngujang II diharapkan dapat membuat masyarakat setempat tidak lagi mengandalkan jasa penyebrangan sungai ketika harus mobilisasi dari Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol ke Desa Pucunglor Kecamatan Ngantru atau sebaliknya. Jembatan Lingkar Timur atau Jembatan Ngujang II dipastikan dimulai pada awal tahun 2018 sampai kini sejumlah pekerja sudah membangun pondasi-pondasi jembatan. Pengerjaan dilakukan oleh PT Ridlatama Bangun Usaha seperti di papan pengumuman proyek.Dengan bertambahnya proges pembangunan Jembatan Ngujang II dapat mengatasi kemacetan di sekitar Jembatan Ngujang II ketika terjadi liburan panjang dan banyak kendaraan yang melintas dari maupun ke Tulungagung. Tentu dengan adanya jembatan baru bisa memecahkan arus dan membuat arus lalu lintas menjadi lancar dan warga sekitar jembatan tidak perlu mengambil jalur memutar melintasi Jembatan Ngujang I sehingga berharap Jembatan Ngujang II dapat difungsikan mulai tahun 2019 mendatang.Proyek jalan lingkar atau ringroad bertujuan untuk mengatasi kemacetan arus lalu lintas dari kota Tulungagung menuju Kediri dan sebaliknya.Fungsi pembangunan Jembatan Ngujang II diantaranya adalah1)  Untuk meningkatkan perekonomian Tulungagung agar lebih lancar dalam hal transportasi2)  Mengurangi kemacetan di Ngujang I khususnya pada tahun baru dan lebaran ABSTRACTNgujang II Bridge is a request from the central government, especially new members of the DPR to become legislative members who then took the initiative to make a project namely the Ngujang II Bridge. Starting from land acquisition that has been carried out since 2014 and not followed by the construction of bridges. The construction, which is planned to be carried out after the land acquisition has to be delayed repeatedly, has not yet been disbursed from the central budget. Residents of the City of Marble who dreamed of being able to cross the Brantas River without congestion.This bridge project is included in the auction phase project. The project that signed the contract since April 6 is planned to break the traffic jam at Ngujang Bridge I. As is known, the Ngujang II Bridge that crosses the Brantas River is projected to solve traffic jams that often occur at the Ngujang I Bridge during peak hours, weekends and long holidays . In addition, the Ngujang II Bridge is expected to make local people no longer rely on river crossing services when they have to mobilize from Bukur Village Sumbergempol District to Pucunglor Village, Ngantru District or vice versa. The East Ring Bridge or Ngujang II Bridge is confirmed to begin in early 2018 until now a number of workers have built bridge foundations. The work carried out by PT Ridlatama Bangun Usaha was like on the project bulletin board.With the increasing progress of the Ngujang II Bridge construction can overcome the congestion around the Ngujang II Bridge when a long vacation took place and many vehicles passed from and to Tulungagung. Of course, with a new bridge, it can break the current and make the traffic flow  smooth and the residents around the bridge do not need to take a detour along the Ngujang I Bridge so that they hope the Ngujang II Bridge can be started starting in 2019.Ringroad or ring road project aims to overcome traffic congestion from the city of Tulungagung to Kediri and vice versa.The function of building the Ngujang II Bridge includes1)  To improve the economy of Tulungagung to be more smooth in terms of transportation2)  Reducing congestion in Ngujang I especially in the new year and Eid
PELAYANAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF NPM Muharsono Muharsono
Publiciana Vol. 10 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

                                                  ABSTRAKPelayanan dalam sektor publik lebih berorientasi pada atasan, membelanjakan dari pada menghasilkan sehingga kurang memperhatikan kepentingan dinamika dan mobilitas masyarakat. Konsep NPM berupaya memasukkan unsur privat kedalam sektor publik sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan pendapatan disektor publik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan transportasi publik, upaya untuk meningkatkan pendapatan, strategi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung serta merekomendasikan model pelayanan transportasi publik dalam perspektif NPM. Kajian pelayanan dalam perspektif NPM ini diharapkan dapat mengutakan aplikasi NPM dalam sektor publik sehingga pendekatan NPM benar-benar dapat berkembang disemua sektor publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, pendekatannya studi kasus sehingga mampu merekontruksi teori yang bermula dari data yang ada.Hasil temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa perspektif NPM telah dipernekalkan di Dishub Kabupaten Tulungagung namun belum dilaksanakan secara maksimal. Pelayanan transportasi publik dalam perspektif NPM sangat ditentukan dari: 1) Kualitas pelayanan yang diukur melalui realiability, responsibility, empathy, accountability dan comfort yang ditetapkan sesuai keinginan masyarakat dan konsisten dalam pelaksanaan dan pemberian sanksi jika terjadi pelanggaran 2) Upaya peningkatan pendapatan yang ditentukan oleh identifikasi sumber-sumber penerimaan yang berasal dari retribusi ijin usaha/trayek, pengujian kendaraan bermotor, parkir, terminal dan hasil pengelolaan bus sekolah. Upaya untuk meningkatkan pendapatan dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. 3) Strategi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dilakukan dengan a) Revitalisasi organisasi untuk mencapai format organisasi yang sesuai antara tugas dan tanggung jawab melalui reformasi struktur dan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) yang profesional b) Meningkatkan partisipasi masyarakat baik internal maupun eksternal untuk terlibat dalam pelayanan publik. c) meningkatkan fasilitas pendukung 4) Faktor yang mendukung adalah lingkungan kelembagaan, kondisi sumberdaya aparatur birokrasi dan insentif yang harus dimanfaatkan dalam pelayanan. Sedangkan faktor yang menghambat adalah budaya patrimonial, perkembangan tehnologi dan harga/tarif yang harus dikendalikan agar mempu meningkatkan kualitas pelayanan Dishub Tulungagung.Penelitian ini merekomendasikan model pelayanan publik dalam perspektif NPM sebagai berikut: 1) Mendasarkan pada konsep yang relevan yaitu konsep NPM dan pelayanan publik 2) Menekankan pada manajemen yang berorientasi pelayanan publik yang dikembangkan NPM dari makna managerialisme yang merujuk pada pengelolaan sektor swasta ke sektor publik dengan menekankan pada pelayanan yang berkualitas dan berorientasi pada hasil. 3) manajemen pelayanan publik mencakup proses pelayanan, strategi pencapaian kepuasan publik dan pendapatan bagi Dishub Tulungagung. 4) Dalam penetapan model masing-masing unsur saling terkait dan menguatkan satu sama lain sehingga layak digunakan.Untuk mewujudkan pelayanan publik dalam perspektif NPM maka Dishub Tulungagung sebagai lembaga pelayanan dan penghasil harus mampu memberi pelayanan yang berkualitas dan meningkatkan pendapatannya. Perlu dilakukan reformasi struktur dan peningkatan kualitas SDM yang profesional. Intensifikasi dan ekstensifikasi dijalankan secara efektif. Mempertimbangkan strategi yang tepat dan faktor yang mendukung serta mengantisipasi faktor yang mendukung serta mengantisipasi faktor penghambat sehingga memberikan kepuasan kepada publik sekaligus meningkatkan penerimaan daerah.
PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG (Studi Kasus Jembatan Ngujang II) Muharsono Muharsono
Publiciana Vol. 11 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJembatan Ngujang II merupakan permintaan dari pemerintah pusat khususnya anggota DPR baru untuk menjadi anggota legislative yang selanjutnya berinisiatif membuat sebuah proyek yaitu Jembatan Ngujang II ini. Berawal dari pembebasan lahan yang sudah dilakukan sejak 2014 lalu tidak diikuti dengan pembangunan jembatan. Pembangunan yang rencananya dilakukan selepas pembebasan lahan itu harus berkali-kali tertunda lantara belum cairnya anggaran dari pusat. Warga Kota Marmer yang memimpikan bisa melintasi Sungai Brantas tanpa kemacetan.Proyek jembatan ini termasuk proyek tahap lelang. Proyek yang penandatangan kontrak sejak 6 April lalu direncanakan untuk memecah kemacetan di Jembatan Ngujang I. Seperti diketahui, Jembatan Ngujang II yang melintasi Sungai Brantas diproyeksikan dapat memecahkan kemacetan arus lalu lintas yang sering terjadi di Jembatan Ngujang I saat jam sibuk, akhir pekan dan libur panjang. Selain itu, Jembatan Ngujang II diharapkan dapat membuat masyarakat setempat tidak lagi mengandalkan jasa penyebrangan sungai ketika harus mobilisasi dari Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol ke Desa Pucunglor Kecamatan Ngantru atau sebaliknya. Jembatan Lingkar Timur atau Jembatan Ngujang II dipastikan dimulai pada awal tahun 2018 sampai kini sejumlah pekerja sudah membangun pondasi-pondasi jembatan. Pengerjaan dilakukan oleh PT Ridlatama Bangun Usaha seperti di papan pengumuman proyek.Dengan bertambahnya proges pembangunan Jembatan Ngujang II dapat mengatasi kemacetan di sekitar Jembatan Ngujang II ketika terjadi liburan panjang dan banyak kendaraan yang melintas dari maupun ke Tulungagung. Tentu dengan adanya jembatan baru bisa memecahkan arus dan membuat arus lalu lintas menjadi lancar dan warga sekitar jembatan tidak perlu mengambil jalur memutar melintasi Jembatan Ngujang I sehingga berharap Jembatan Ngujang II dapat difungsikan mulai tahun 2019 mendatang.Proyek jalan lingkar atau ringroad bertujuan untuk mengatasi kemacetan arus lalu lintas dari kota Tulungagung menuju Kediri dan sebaliknya.Fungsi pembangunan Jembatan Ngujang II diantaranya adalah1)  Untuk meningkatkan perekonomian Tulungagung agar lebih lancar dalam hal transportasi2)  Mengurangi kemacetan di Ngujang I khususnya pada tahun baru dan lebaran ABSTRACTNgujang II Bridge is a request from the central government, especially new members of the DPR to become legislative members who then took the initiative to make a project namely the Ngujang II Bridge. Starting from land acquisition that has been carried out since 2014 and not followed by the construction of bridges. The construction, which is planned to be carried out after the land acquisition has to be delayed repeatedly, has not yet been disbursed from the central budget. Residents of the City of Marble who dreamed of being able to cross the Brantas River without congestion.This bridge project is included in the auction phase project. The project that signed the contract since April 6 is planned to break the traffic jam at Ngujang Bridge I. As is known, the Ngujang II Bridge that crosses the Brantas River is projected to solve traffic jams that often occur at the Ngujang I Bridge during peak hours, weekends and long holidays . In addition, the Ngujang II Bridge is expected to make local people no longer rely on river crossing services when they have to mobilize from Bukur Village Sumbergempol District to Pucunglor Village, Ngantru District or vice versa. The East Ring Bridge or Ngujang II Bridge is confirmed to begin in early 2018 until now a number of workers have built bridge foundations. The work carried out by PT Ridlatama Bangun Usaha was like on the project bulletin board.With the increasing progress of the Ngujang II Bridge construction can overcome the congestion around the Ngujang II Bridge when a long vacation took place and many vehicles passed from and to Tulungagung. Of course, with a new bridge, it can break the current and make the traffic flow  smooth and the residents around the bridge do not need to take a detour along the Ngujang I Bridge so that they hope the Ngujang II Bridge can be started starting in 2019.Ringroad or ring road project aims to overcome traffic congestion from the city of Tulungagung to Kediri and vice versa.The function of building the Ngujang II Bridge includes1)  To improve the economy of Tulungagung to be more smooth in terms of transportation2)  Reducing congestion in Ngujang I especially in the new year and Eid
Coordination of Effectiveness in Implementing Public Services: Study in Sumbergempol District, Tulungagung Muharsono Muharsono; Teguh Pramono; Zulfaisya Nurhalimah
Jurnal Manajemen Pelayanan Publik Vol 7, No 1 (2023): Jurnal Manajemen Pelayanan Publik
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmpp.v7i1.45681

Abstract

This study aims to determine how effective coordination is in the implementation of public services, especially in Sumbergempol District and Tulungagung. Public service refers to a service activity conducted by government officers (apparatus) who must provide the best service to the community to create community welfare. This study used the descriptive-qualitative research method. Researchers use data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. While data analysis and interpretation are carried out by the analysis process, which is data reduction, data display, and conclusion. The results showed that coordination in the implementation of public services in Sumbergempol District generally has been running well, yet the results have not been effective. From the results of this study, it can be concluded that public services in Sumbergempol District and Tulungagung Regency need changes to improve public service efforts so that the results are more effective.