Muhammad Erpian Maulana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Kritis terhadap Metode Tafsir Maudhu’i Ihsan Nursidik; Muhammad Erpian Maulana
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 1, No 4 (2021): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v1i4.13015

Abstract

The interpretation of the Qur'an is a scientific activity in the scientific family of usuluddin or covers the central affairs of the Islamic religion. The existence of this science is so important because without it the Qur'an cannot be understood clearly. Especially considering the context of the times that continue to develop and change. This reality encourages scholars, commentators, and reviewers of the Qur'an to create new methodologies in interpreting the Qur'an. Maudu'i's interpretation is one of the scientific products. This Tafsir method is part of the scientific development of Tafsir in the contemporary era. However, this does not mean that its new presence will outperform other interpretation methods, of course, as a scientific methodology, there will always be advantages and disadvantages. This study aims to reveal Tafsir Maudu'i and its advantages and disadvantages as one of the Quranic research methodologies related to it as a methodology. This research shows that Tafsir maudu'i has elementary things, which are the keys that distinguish the Tafsir Maudu'i method from other methods. Then another thing is regarding the advantages and disadvantages of this interpretation which can be seen from the relation that uses tartib al-nuzul in the way it is presented.
DAKHĪL AL-NAQLI KISAH NABI AYYUB PADA TAFSIR AL-QUR’ĀN AL-‘AZIM KARYA IBNU KATHIR Muhammad Erpian Maulana
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 2 (2019): Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Qur’anic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.48 KB) | DOI: 10.15575/al-bayan.v4i2.7114

Abstract

Nilai kebenaran penafsiran sebagai produk olah pikir manusia (dalam hal ini seorang mufassir) bersifat subjektif. Bahkan, pada nyatanya sebagian penafsiran mengandung kecacatan. Dakhīl merupakan salah satu disiplin ‘ulūm al-Qur’ān yang baru yang dengannya seorang pembaca tafsir dapat membedakan antara penafsiran yang valid dan penafsiran yang tidak valid. Kecacatan dalam penafsiran seringkali terjadi dalam penafsiran mengenai kisah-kisah para nabi. Salah satu cerita yang masyhur adalah ditinggalkannya Nabi Ayyub oleh keluarga dan para pengikutnya disebabkan oleh penyakit kulit akut yang dimiliki Nabi Ayyub. Ibnu Kathir merupakan seorang mufasir yang menggunakan corak kritik dalam tafsirnya yang fenomenal, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Aẓim dalam mengupas muatan penafsiran, terutama dalam penafsiran kisah para nabi dalam Alquran. Kendatipun demikian, beberapa penafsiran Ibnu Kathir terhadap beberapa kisah Alquran mengandung kecacatan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jumlah dakhīl al-naqli dalam QS. Al-Anbiyā[21]: 83-84 QS. ṣād [38]: 41-44. Dan untuk mengidentifikasi bahwa Nabi Ayyub tidak mengalami penyakit kulit yang menjijikkan. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis-isi. Dalam penelitian ini ditemukan delapan bentuk dakhīl al-naqli dalam empat kategori dakhīl al-naqli (dari sembilan kategori ) pada QS. Al-Anbiyā[21]: 83-84. Diantaranya menafsirkan Alquran dengan hadis yang lemah, menafsirkan Alquran dengan cerita Isrā’iliyyāt, menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang tidak valid dan menafsirkan Alquran dengan pendapat tabiin yang tidak valid. Sementara dalam QS. ṣād [38]: 41-44 penulis hanya menemukan satu bentuk dakhīl al-naqli saja, yakni menafsirkan Alquran dengan hadis yang lemah. Simpulan yang didapatkan penulis dari penafsiran Ibnu Kathir terkait kisah nabi Ayyub adalah bahwa nabi Ayyub tidak mengalami penyakit kusta. Nabi Ayyub hanya mengalami penyakit diantara tulang kaki, sejenis penyakit rematik.