Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

“Makrifat Sasak” Memahami Konsep Mengenal Diri dalam Simbol Budaya Sasak Sirajun Nasihin
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 14, No 2 (2018): JURNAL STUDI AGAMA DAN MASYARAKAT
Publisher : LP2M IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.766 KB) | DOI: 10.23971/jsam.v14i2.755

Abstract

This study is aimed at describing the philosophical meaning of advice of Sasak parents from the perspective of Sufism. The advice reads: mbe mbe laine lampaq dendeq lupaq jauq gaman mane manen besi polka”. This study is a literature study attempting to investigate the concept of Sasak Makrifat theoretically and philosophically. The researcher believes that the advice besides having an outward meaning also holds a very depth spiritual meaning in which gaman is not only a weapon as is generally, but also, gaman is another term for religion. After describing the meaning behind the term of the gaman, it can be concluded that the meaning of the advice is: "wherever you go, do not forget your religious teachings. Please continue to repent so that the door of the search will open that will bring you to the climax point to meet the Lord. Then, you express your thanks. If you are not able to walk through these stages, it is enough to understand the meaning of His name from the initial letter of ba ' from the piece of bismillah word which means the beginning of everything ".
Polarisasi Spiritualitas Ummat Islam di Era Pandemi Covid-19 Sirajun Nasihin
AS-SABIQUN Vol 3 No 1 (2021): MARET
Publisher : Pendidikan Islam Anak Usia Dini STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36088/assabiqun.v3i1.1327

Abstract

This paper aims to present the results of an analysis of the phenomenon of religious communities, especially Muslims in the Covid-19 pandemic era which shows various patterns of spirituality. This paper is a review of the attitude patterns that appear to the surface, not providing justification or criticism of the attitudes of each pattern that appears. The methodology used is phenomenological analysis on social media which is currently emerging with various presentations. The author sees it from the point of view of epistemology proposed by a modern Muslim philosopher Muhammad Abid al-Jabiri who suggests three kinds of reasoning that humans have taken throughout the ages to produce their knowledge, namely bayani, irfani, and burhani reasoning. The religious phenomenon of the Muslim community in this pandemic era is the embodiment of its scientific system so that it will automatically show which epistemology is the basis for understanding the teachings of Islam. The conclusion of this analysis is that Muslims are divided into several attitudes of spirituality in response to government policies, namely; 1) intolerant (counter-active) attitude towards government policies based on their religious understanding, 2) tolerant attitude (pro-active) and providing support to the government based on their understanding and 3) indifferent attitude towards government policies.
Reformasi Pendidikan Islam Berbasis Pesantren Modern Sirajun Nasihin
PALAPA Vol 5 No 2 (2017): NOVEMBER
Publisher : LP2M STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.565 KB) | DOI: 10.36088/palapa.v5i2.50

Abstract

This paper aims to describe the concepts of Islamic education reform based on modern pesantren both from the perspective of experts and referring to the prevailing laws and regulations. In it the author presents; understanding, pattern, and urgency of Islamic education reform based on modern pesantren with the support of data collected using literature review methods either in the form of books or papers and journals downloaded through the internet. From several views that have been collected, the authors conducted a qualitative data analysis and drew the conclusion that the reform of Islamic education based on modern pesantren in the context of this era is absolutely necessary because this education system that can elaborate between rational intelligence, emotional and spiritual integrally so that it can bear output educational, moral, creative, and always able to put themselves in all situations of the nation without having to change its identity as a muslim Indonesia who berpencasila who can realize national goals as embodied in the opening of the 1945 Constitution.
Menejemen Shalat menuju Hakikat Penciptaan Manusia Sirajun Nasihin
PALAPA Vol 1 No 2 (2013): NOVEMBER
Publisher : LP2M STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.061 KB) | DOI: 10.36088/palapa.v1i2.729

Abstract

Shalat sebagai ibadah fardlu bagi semua muslim, merupakan sarana komunikasi antara hamba dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Di dalam komunikasi ini harus terjalin keseimbangan antara zahir dan bathin dengan memadukan keduanya sehingga focus shalat yang dilaksanakan tetap dalam koridor Zikrullah (mengingat Allah) secara penuh. Agar tetap terjaga keseimbangannya, maka menjalankan shalat membutuhkan suatu tata laksana yang dalam tulisan ini disebut menejemen shalat. Menejemen Shalat bukan berarti melakukan penataan ulang mengenai pelaksanaan shalat, karena hal itu sudah ditetapkan secara baku dalam syari'at Islam. Akan tetapi ia adalah rangkaian aktivitas untuk mengelola shalat dengan segala sendi dan aspek yang sudah ada di dalam sistemnya agar dapat mencapai tujuannya yakni mengingat Allah secara penuh. Menejemen shalat terdiri dari aktivitas planning, organizing, leading/actuating, dan controlling. Fungsi-fungsi ini akan diaplikasikan sejak sebelum mulai melakukan shalat sampai shalat itu sendiri selesai dilaksanakan secara sempurna syarat dan rukunnya. Tulisan ini hadir untuk memberikan sekilas gambaran tentang bagaimana melaksanakan shalat secara khusyu' dengan mengacu pada konsep menejemen shalat. Yang simpulannya adalah bahwa fungsi vital untuk menuju kekhusyu'an itu terdapat pada aspek control yang merupakan komando tertinggi yang dipegang oleh hati (bathin).
Menata Ibadah Meniti Shirotal Mustaqiem Sirajun Nasihin
PALAPA Vol 3 No 1 (2015): MEI
Publisher : LP2M STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.267 KB) | DOI: 10.36088/palapa.v3i1.749

Abstract

Ibadah adalah hak Allah atas hambaNya dan sekaligus merupakan kewajiban hamba kepada Tuhannya. Sesungguhnya ibadah bukan sekedar ritual yang berisi kewajiban-kewajiban dengan segala sistem yang ada di dalamnya, akan tetapi ia merupakan strategi pendekatan menuju ke suatu dimensi kehidupan sejati di sisi Allah SWT, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan abadi (surga) di akhirat. Untuk mencapai surga itu, dibutuhkan keseimbangan lahir dan bathin agar tidak terpeleset pada saat melintasi titian di atas Jahannam. Titian itu, disebut shirot yang di dalam al-Qur'an diperkenalkan dengan istilah shirotal mustaqiem. Shirotal mustaqiem sesungguhnya adalah agama Islam yang ajarannya meliputi beberapa dimensi peribadatan; syari'at, thoriqat, hakikat, dan ma'rifat. Untuk dapat melintas dengan selamat di atas shirotal mustaqiem sampai ke surga, maka seorang hamba harus tetap konsisten melaksanakan tugas kehambaannya kepada Allah swt dengan menjalankan ibadah secara sempurna syarat, rukun, sunnah dan hal lain yang dapat menambah kebaikan ibadahnya. Allah SWT berfirman yang artinya : “ Dan sembahlah aku ! Inilah Shirotal Mustaqiem”. (Qs. Yāsiin: 61 ).
Dimensi Lain Ilmu Nahwu (Kajian Tasawuf terhadap Matan Al-ajurumiyyah) Sirajun Nasihin
PALAPA Vol 3 No 2 (2015): NOVEMBER
Publisher : LP2M STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.981 KB) | DOI: 10.36088/palapa.v3i2.765

Abstract

Tulisan ini berjudul “Dimensi Lain Ilmu Nahwu (Kajian Tasawuf Terhadap Matan Al-Ajurumiyyah)” merupakan sebuah kajian tasawuf terhadap kitab nahwu dasar Matan alAjurumiyyah yang memuat dasar-dasar ilmu nahwu (linguistic bahasa Arab). Kajian ini merupakan kajian pustaka yang bertujuan untuk menemukan pesan-pesan tasawuf yang -menurut hemat penulis - terdapat di dalamnya, baik dari urutan penyajian bab demi bab maupun penggunaan istilah-istilah. Adapun metode pengkajian yang digunakan adalah analisis kata-kata ditinjau dari sisi makna yang kemudian dirangkaikan dengan lainnya yang tentu sekali bersandar pada apa yang telah dilakukan banyak ulama meskipun metode ini jarang sekali ditemukan. Bahkan cara ini ditemukan dalam Sunnah Rasulullah saw. Hasil daripada kajian ini adalah menemukan pesan-pesan tasawuf terutama sekali mengenai perilaku makhluk terhadap sesama maupun terhadap Sang Khaliq yang berawal dari urutan kejadian alam semesta di alam perintah (‘alam al-amri) yang dimulai dengan ucapan atau kalam sampai dunia terendah di alam perilaku/ciptaan (‘alam alkhalqi). Kehidupan dimulai dari “kun” yang berupa perintah “jadilah” dimana perintah ini adalah ucapan/kalam, kemudian terjadilah Perubahan/i'rab dengan semua tanda-tandanya yang harus dikenal/ma'rifat. Penyajian ditutup dengan membuka pintu “nama-nama yang rendah” atau “al-makhfuudlatil asma'i”. Seluruh penyajian dalam kitab ini memberikan kesimpulan bahwa manusia diciptakan oleh Allah swt pada posisi tertinggi/terbaik (ahsani Taqwiim) kemudian dihempaskan ke posisi terendah (asfala saafiliin) kecuali orang-orang yang percaya dan melakukan tindakan positif.