Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

METODOLOGI FIQH SOSIAL M.A. SAHAL MAHFUDH Arief Aulia
El-Mashlahah Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.185 KB) | DOI: 10.23971/el-mas.v7i2.1428

Abstract

Konstruksi masyarakat yang terdapat suatu tradisi yang tidak mudah dihilangkan yaitu percampuran antara hukum Islam (fiqh) dan budaya lokal atau nuansa sosial yang berkembang di daerah tertentu. Dalam hal ini budaya lokal diartikan lebih spesifik kepada permasalahan sosial yang terjadi, karena dampak yang jelas terjadi dari adanya budaya lokal tersebut adalah pengaruh yang kuat terhadap bentukan karakter sosial masyarakat yang mendiami tempat tertentu. Hal itulah yang menjadi kegelisahan para ahli fiqh di kalangan Indonesia dalam menemukan suatu alternatif hukum yang lebih fleksible dan kontekstual. Fiqh yang dibawa dan disampaikan dari Nabi, kemudian diteruskan para sahabat, tabi’in, kemudian para ulama terasa masih begitu kaku dan tidak selalu sesuai dengan kondisi sosial dan geografis daerah tertentu. Fiqh dipahami oleh masyarakat sebagai suatu yang sangat formal, sehingga tidak jarang masyarakat merasa terbatasi ruang sosialnya. Fiqih sosial M.A Sahal Mahfudz dibuat untuk mendapatkan suatu solusi atas probem-problem fiqh yang sering menemukan kejumudan dan deadlock (jalan buntu) karena nuansa fiqh klasik yang cendrung formalistik. Dalam konteks kenegaraan, kehadiran fiqh sosial bukan diartikan untuk menandingi hukum positif yang ada, namun merupakan tawaran solutif yang ditujukan kepada umat Islam, dan tidak ada keinginan untuk mempositifkan fiqh sosial tersebut. Keberadaan fiqh sosial itu juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang berkembang dalam masyarakat. Bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi pergeseran nilai-nilai sosial yang memuncak pada pembenahan fiqh sosial yang baru karena pengaruh dari kebudayaan masyarakat yang terus berubah.Kata kunci: Fiqh Sosial, Hukum Islam, M.A. Sahal Mahfudh
METODOLOGI FIQH SOSIAL M.A. SAHAL MAHFUDH Arief Aulia
El-Mashlahah Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/el-mas.v7i2.1428

Abstract

Konstruksi masyarakat yang terdapat suatu tradisi yang tidak mudah dihilangkan yaitu percampuran antara hukum Islam (fiqh) dan budaya lokal atau nuansa sosial yang berkembang di daerah tertentu. Dalam hal ini budaya lokal diartikan lebih spesifik kepada permasalahan sosial yang terjadi, karena dampak yang jelas terjadi dari adanya budaya lokal tersebut adalah pengaruh yang kuat terhadap bentukan karakter sosial masyarakat yang mendiami tempat tertentu. Hal itulah yang menjadi kegelisahan para ahli fiqh di kalangan Indonesia dalam menemukan suatu alternatif hukum yang lebih fleksible dan kontekstual. Fiqh yang dibawa dan disampaikan dari Nabi, kemudian diteruskan para sahabat, tabi’in, kemudian para ulama terasa masih begitu kaku dan tidak selalu sesuai dengan kondisi sosial dan geografis daerah tertentu. Fiqh dipahami oleh masyarakat sebagai suatu yang sangat formal, sehingga tidak jarang masyarakat merasa terbatasi ruang sosialnya. Fiqih sosial M.A Sahal Mahfudz dibuat untuk mendapatkan suatu solusi atas probem-problem fiqh yang sering menemukan kejumudan dan deadlock (jalan buntu) karena nuansa fiqh klasik yang cendrung formalistik. Dalam konteks kenegaraan, kehadiran fiqh sosial bukan diartikan untuk menandingi hukum positif yang ada, namun merupakan tawaran solutif yang ditujukan kepada umat Islam, dan tidak ada keinginan untuk mempositifkan fiqh sosial tersebut. Keberadaan fiqh sosial itu juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang berkembang dalam masyarakat. Bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi pergeseran nilai-nilai sosial yang memuncak pada pembenahan fiqh sosial yang baru karena pengaruh dari kebudayaan masyarakat yang terus berubah.Kata kunci: Fiqh Sosial, Hukum Islam, M.A. Sahal Mahfudh
Prostate-Specific Antigen (PSA) as a Predictor of Prostate Cancer on Transrectal Biopsy: A Meta-Analysis Arief Aulia; Hafiz Mirza Fadrian
Open Access Indonesian Journal of Medical Reviews Vol. 4 No. 5 (2024): Open Access Indonesian Journal of Medical Reviews
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/oaijmr.v4i5.650

Abstract

Prostate cancer is a leading cause of cancer-related death in men globally. Early detection is critical for improving patient outcomes. Prostate-specific antigen (PSA) testing is a widely used screening tool, but its accuracy in predicting prostate cancer on transrectal biopsy remains a topic of debate. This meta-analysis aims to evaluate the diagnostic accuracy of PSA in predicting prostate cancer on transrectal biopsy. A systematic search of electronic databases (PubMed, Scopus, Web of Science) was conducted to identify relevant studies published between 2013 and 2024. Studies reporting the sensitivity, specificity, and area under the receiver operating characteristic curve (AUC) of PSA for predicting prostate cancer on transrectal biopsy were included. Data were extracted, and the pooled sensitivity, specificity, positive likelihood ratio (PLR), negative likelihood ratio (NLR), and diagnostic odds ratio (DOR) were calculated using a random-effects model. Six studies met the inclusion criteria, comprising a total of 1,245 patients. The pooled sensitivity and specificity of PSA for predicting prostate cancer on transrectal biopsy were 0.77 (95% CI, 0.75 - 0.82) and 0.68 (95% CI, 0.62-0.73), respectively. The pooled PLR, NLR, and DOR were 3.27 (95% CI, 2.45-4.37), 0.20 (95% CI, 0.14-0.28), and 16.39 (95% CI, 10.27-26.21), respectively. The pooled AUC was 0.87 (95% CI, 0.84-0.90). In conclusion, PSA demonstrates good diagnostic accuracy in predicting prostate cancer on transrectal biopsy. However, it is essential to consider its limitations, including false positives and negatives. Further research is needed to identify strategies to improve the accuracy of PSA testing and reduce unnecessary biopsies.