Rohayati Suprihatini
Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Daya Saing Nenas Kaleng Indonesia Rohayati Suprihatini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n2.1998.22-37

Abstract

EnglishThe aim of the study was to analyze the comparative and competitive advantage of lndonesian canning pineapple. Primary data were collected by interviewing pineapple farmer groups and enterprise management of canning pineapple in West Java and Lampung in September up to October 1997. The data were analyzed by Policy Analysis Matrix (PAM). Data analysis included sensitivity analysis showed that lndonesian pineapple canning have both comparative and competitive advantage with stable condition reflected by PCR and DRCR less than one. The comparative and competitive advantage able to increase by reducing government policies distortion on output and input tradable as well as domestic input. Deregulation can be started by reducing tariff import of tradable input especially tin plate, chemical materials, fertilizer, and pesticide.IndonesianPenelitian bertujuan untuk menganalisa daya saing nenas kaleng Indonesia. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan kelompok petani dan manajemen perusahaan nenas kaleng di Lampung, dan Jawa Barat pada bulan September hingga Oktober 1997. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisis, termasuk analisis sensitivitas, menunjukkan bahwa nenas kaleng Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang cukup tinggi dan stabil ditunjukkan oleh angka PCR dan DRCR yang kurang dari satu. Untuk meningkatkan daya saing, perlu dilakukan deregulasi untuk mengurangi distorsi kebijakan pemerintah baik pada output dan input tradable maupun input domestik. Deregulasi dapat dimulai dari penurunan tarif impor input tradable khususnya kaleng (tim plate), bahan kimia, pupuk, dan pestisida.
Optimasi Alokasi Produksi untuk Pasar Ekspor Teh Indonesia Rohayati Suprihatini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.786 KB) | DOI: 10.21082/jae.v18n2.1999.23-37

Abstract

EnglishIndonesian tea estate industry has faced the problem of deminishing the profit margin. The aggregate of the profit margin still has an opportunity to be increased such as by optimalizing production allocation for marketing of Indonesian tea. The aims of this research was to find the solution of that optimalization. The approach used was linear programming method. The results show that the optimal solution will increase the profit of national tea industry by US$ 1,826,155, or 16,5 percent of previous profit. The allocation production to Russia, United Kingdom, and Dutch should be increased. On the other hand, the allocation for Pakistan, USA, and domestic market should be decreased. To ease in implementing of this solution, the Marketing Joint Office (MJO) as the only one tea auction in Indonesia should actively invite more buyer candidates from Russia, United Kingdom, and Dutch.IndonesianIndustri perkebunan teh Indonesia masih menghadapi masalah semakin menurunnya marjin keuntungan. Marjin keuntungan agregat masih berpeluang untuk ditingkatkan antara lain melalui upaya optimasi alokasi produksi untuk pasar teh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan solusi optimal tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan linear programming. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan optimasi akan meningkatkan keuntungan total industri perkebunan teh nasional sebesar 1.826.155 dollar AS, atau 16,5 persen dari keuntungan semula. Alokasi produksi ke pasar Rusia, Inggris, dan Belanda perlu ditingkatkan. Di lain pihak, alokasi produksi ke pasar Pakistan, Amerika Serikat, dan pasar dalam negeri perlu dikurangi. Agar upaya optimasi tersebut mudah direalisasikan, maka pihak Kantor Pemasaran Bersama (KPB) sebagai lembaga penyelenggara lelang teh satu-satunya di Indonesia perlu aktif mengundang lebih banyak calon pembeli dari Rusia, Inggris, dan Belanda.
Analisis Daya Saing Nenas Kaleng Indonesia Rohayati Suprihatini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.434 KB) | DOI: 10.21082/jae.v17n2.1998.22-37

Abstract

EnglishThe aim of the study was to analyze the comparative and competitive advantage of lndonesian canning pineapple. Primary data were collected by interviewing pineapple farmer groups and enterprise management of canning pineapple in West Java and Lampung in September up to October 1997. The data were analyzed by Policy Analysis Matrix (PAM). Data analysis included sensitivity analysis showed that lndonesian pineapple canning have both comparative and competitive advantage with stable condition reflected by PCR and DRCR less than one. The comparative and competitive advantage able to increase by reducing government policies distortion on output and input tradable as well as domestic input. Deregulation can be started by reducing tariff import of tradable input especially tin plate, chemical materials, fertilizer, and pesticide.IndonesianPenelitian bertujuan untuk menganalisa daya saing nenas kaleng Indonesia. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan kelompok petani dan manajemen perusahaan nenas kaleng di Lampung, dan Jawa Barat pada bulan September hingga Oktober 1997. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisis, termasuk analisis sensitivitas, menunjukkan bahwa nenas kaleng Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang cukup tinggi dan stabil ditunjukkan oleh angka PCR dan DRCR yang kurang dari satu. Untuk meningkatkan daya saing, perlu dilakukan deregulasi untuk mengurangi distorsi kebijakan pemerintah baik pada output dan input tradable maupun input domestik. Deregulasi dapat dimulai dari penurunan tarif impor input tradable khususnya kaleng (tim plate), bahan kimia, pupuk, dan pestisida.