Masa pandemi Covid-19 dapat dipetik hikmahnya, bagi perpustakaan FH UII, atau perpustakaan secara umum. Dengan pembatasan akses secara fisik, telah mendesak dilakukannya digitalisasi meski seadanya. Tentu, seharusnya melaksanakan digitalisasi tidak perlu menunggu adanya musibah, melainkan dilihat sebagai kebutuhan untuk mengembangkan perpustakaan secara umum. Digitalisasi koleksi perpustakaan pada dasarnya merupakan salah satu cara dalam melestarikan bahan pustaka.[1] Misalnya terhadap koleksi yang tergolong tua, namun ilmu yang terkandung di dalamnya masih digunakan. Terkadang koleksi tersebut merupakan cetakan lama dan rapuh atau bahkan sulit dibaca. Dengan alih media digitalisasi, maka koleksi yang demikian masih dapat diakses tanpa risiko kerusakan fisiknya. Koleksi yang telah digitalisasi juga menjamin bahwa informasi yang terkandung dalam koleksi tersebut tetap terpelihara. Melalui digitalisasi, perpustakaan juga dapat menyimpan lebih banyak bahan pustaka secara fisik. Perpustakaan FH UII berusaha sebaik mungkin dalam mempercepat proses digitalisasi tersebut. Diantaranya yakni dengan menambah mesin scannerserta dengan menggunakan bantuan sumber daya manusia yang diambil dari unit kerja lain. Digitalisasi dilakukan setiap hari, dengan jumlah buku per hari yang bervariasi, terutama karena perbedaan ketebalan buku. Digitalisasi koleksi perpustakaan sebagai langkah untuk memberikan pelayanan bagi mahasiswa maupun dosen selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan metode daring. Meski masih terdapat kekurangan, namun digitalisasi bahan pustaka dinilai mampu untuk menjawab kebutuhan terhadap koleksi perpustakaan FH - UII, setidaknya selama pembatasan akses perpustakaan secara fisik dilakukan.