Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

IMPROVING CARRYING CAPACITY BY DEVELOPING RAINWATER HARVESTING: A CASE OF OYO WATERSHED, GUNUNGKIDUL, INDONESIA Widodo Brontowiyono; Ribut Lupiyanto; A.H. Malik
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2009): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol1.iss1.art6

Abstract

Oyo watershed, which mainly consists of rural area with 517,352 inhabitants and 0.65%/annum population growth, is one of degraded watersheds in Indonesia. Although the local government has formulated various watershed developments, the agriculture productivity of this area is still low. Water resources are the main factor that influences the low carrying capacity of its agriculture sector. Its abundant water availability (225,278,277 m3/year) indicates the potential water carrying capacity. With the annual rainfall of 1,858 mm and the low water demand (25,095,223 m3/year), it has a potential water surplus of 200,183,054 m3/year. In reality, due to the low rainwater harvesting, the carrying capacity is also low, indicated by the value of 0.67 with the population pressure of 1.49. This causes a revenue deficit for farmers who earn Rp 160,017.36 million/year while the normal living cost is Rp 2,483,289.60 million. This indicates the low optimality of water resources management. Therefore, the main target of Oyo Watershed management program is to use the available rainwater optimally to guarantee the stability of water availability in dry seasons.
Pengelolaan Kawasan Sungai Code Berbasis Masyarakat Widodo Brontowiyono; Ribut Lupiyanto; Donan Wijaya
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2010): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol2.iss1.art2

Abstract

Diantara beberapa sungai yang melintas di Yogyakarta, Sungai Code menjadi pusat perhatian banyak pihak dan memiliki tingkat kemendesakan dalam pengelolaannya. Kawasan Sungai Code memiliki potensi positif berupa letak yang strategis dalam orientasinya dengan lokasi lain, eksotisme lingkungan yang berpotensi bagi pengembangan ekowisata, juga potensi sosial budaya yang menarik. Semakin meningkatnya aktivitas pembangunan ekonomi, perubahan tata guna lahan dan meningkatnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan tingginya tekanan kawasan sungai terhadap lingkungan. Pemukiman yang padat telah menghiasi bantaran sungai dan kondisi kualitas airnya pun menunjukkan kecenderungan semakin memburuk. Salah satu prasyarat penting dalam implementasi penataan kawasan yang optimal adalah pelibatan peran seluruh stakeholder (community-based development), mulai dari perencanaan hingga operasionalisasi dan evaluasi. Partisipasi masyarakat lokal menjadi kunci strategis untuk dapat diberdayakan dan disinergiskan dengan komponen lainnya. Komunitas masyarakat lokal banyak terbentuk dan terorganisasi di setiap penggal kawasan sungai. Perguruan tinggi dan instansi pemerintah juga banyak melakukan program di Sungai Code. Permasalahan mendasarnya adalah pihakpihak terkait tersebut belum terkoordinasi secara terpadu dan program penataannya juga belum sistematis. Hasil analisa tulisan ini merekomendasikan agar supaya pelibatan partisipasi masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan komunitas lokal. Seluruh komunitas yang ada dapat dikoordinasikan dalam satu lembaga formal yang didukung penuh oleh pemerintah daerah. Dukungan pemerintah daerah berupa fasilitasi program, jaringan, hingga pendanaan. Pihak-pihak lain seperti perguruan tinggi, swasta, LSM, dan lainnya juga dapat berperan dengan turut menguatkan komunitas tersebut dengan program-program pemberdayaan.
Pengembangan RWH dari aspek WTP dan ATP : Studi Kasus Yogyakarta Widodo Brontowiyono; Ribut Lupiyanto
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2010): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol2.iss2.art1

Abstract

Rainwater harvesting (RWH) secara teknis dan ekologis layak dikembangkan di Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul) DIY dalam bentuk sumur resapan, penampungan air hujan (PAH), kolam konservasi, vegetasi, dan lahan terbuka. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kelayakan sosial ekonomi RWH. Kelayakan sosial ditentukan dengan metode Willingness To Pay (WTP) melalui penelitian survey. Kelayakan ekonomi ditentukan dengan metode Cost Benefit Ratio (CBR) dan Ability To Pay (ATP). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa teknik RWH yang layak secara sosial ekonomi di daerah surplus dan daerah kritis antropogenik adalah sumur resapan, kolam konservasi, vegetasi, biopori, dan lahan terbuka, sedangkan untuk daerah kritis alami adalah penampungan air hujan.
Pengembangan Kawasan Pinggiran Kota dan Permasalahan Lingkungan di Kampung Seni Nitiprayan, Bantul Widodo Brontowiyono; Ribut Lupiyanto
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2011): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol3.iss1.art3

Abstract

Pengembangan wilayah secara umum masih kurang menyentuh dan memperhatikan karakteristik khas daerah rurban (rural-urban). Daerah ini umumnya berada pada pinggiran perkotaan, yang terpengaruh oleh karakter kota (baik fisik maupun non fisik) dan di sisi lain juga masih memiliki karakter desa. Tanpa perhatian yang khusus dalam pengembangannya, wilayah ini akan semakin menerima implikasi problematika kota yang kompleks dan semakin pudar potensi asalnya. Kampung Nitiprayan adalah salah satu pinggiran kota yang mengkhawatirkan perkembangan lingkungan dan pembangunannya. Kawasan ini secara fisiografis terletak pada pinggiran Kota Yogyakarta dan secara administratif masuk dalam Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY. Tulisan ini bertujuan merancang arahan dan strategi pengembangan Kampung Nitiprayan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan optimalisasi potensi unggulan wilayah. Analisis dilakukan dengan metode SWOT berdasarkan data sekunder dan survei lapangan. Nitiprayan sebagai wilayah pinggiran kota memiliki potensi unggulan dalam bidang seni budaya. Nitiprayan diarahkan secara umum sebagai kampung wisata terpadu dan berkelanjutan. Basis pengembangan adalah seni budaya lokal dengan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, mempertahankan karakter asli, ramah terhadap kelestarian lingkungan hidup, dan penguatan partisipasi masyarakat.
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI LINGKUNGAN TPS3R PERKOTAAN (STUDI KASUS: TPS3R KENANGA, KABUPATEN SLEMAN, DIY) Ribut Lupiyanto; Hadian Pratama Hamzah; Nurhasanah Nurhasanah
Jurnal Education and Development Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No.3.2023
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v11i3.5467

Abstract

Penelitian bertujuan mengevaluasi kelayakan ekonomi lingkungan dan menganalisis skenario peningkatannya untuk keberlanjutan TPS3R Kenanga. Data yang digunakan berupa sumber primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi lapangan dan wawancara. Data sekunder antara lain berupa dokumen, regulasi, laporan, dan lainnya dari berbagai instansi. Analisis data menggunakan Extended Cost Benefit Analysis (ECBA). Evaluasi kelayakan ekonomi lingkungan TPS3R Kenanga pada kondisi sekarang (Bussiness As Usual/BAU) berdasarkan perhitungan ECBA memiliki nilai Rp. -72.007.464. Nilai negatif ini menunjukkan kondisi ketidaklayakan secara ekonomi lingkungan. Skenario peningkatan ekonomi lingkungan yang menghasilkan nilai ECBA tertinggi adalah skenario 5 yaitu Rp. 2.167.868.426. Skenario ini menargetkan pelanggan naik menjadi 100% kapasitas atau 200 KK dan reduksi sampah ke TPA hingga 90%. Target skenario hingga 100% pelanggan dan 90% reduksi sampah ke TPA perlu dirancang melalui roadmap dengan target peningkatan per tahun yang definitif dan dilakukan evaluasi secara rutin. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi TPS3R lain dalam hal kelayakan ekonomi lingkungan.