Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Indikator Kualitas Tanah pada Lahan Bekas Penambangan Achmad Rachman; Sutono sutono; Irawan Irawan; I Wayan Suastika
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n1.2017.1-10

Abstract

Abstrak. Lahan dalam kawasan tambang-tambang mineral mengalami perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta lansekap yang sangat signifikan sebagai akibat dari berbagai aktifitas penambangan seperti land clearing, pembangunan fasilitas pendukung kegiatan penambangan, lalu lintas kendaraan berat, penggalian, penimbunan bahan galian, pengolahan hasil tambang atau bahan mineral, dan lainnya. Sangat penting untuk mengembalikan kualitas tanah seperti kondisi sebelum kegiatan penambangan sehingga lahan dapat difungsikan kembali untuk pertanian. Makalah ini membahas metode penilaian indeks kualitas tanah sehingga dapat dievaluasi dampak berbagai perlakuan reklamasi. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan indeks kualitas tanah untuk tujuan tersebut memberikan hasil yang baik, mudah dilaksanakan dan mudah dipahami oleh pengguna. Pemilihan indikator kunci (minimun data set) dan nilai ambang batasnya, pada batas mana tanah dapat berfungsi optimal, sangat menentukan akurasi penetapan indeks kualitas tanah. Penskoran dan pembobotan dilakukan terhadap setiap individu indikator kunci yang kemudian diintegrasikan untuk mendapatkan satu nilai indeks kualitas tanah. Indikator kunci untuk mengevaluasi kualitas tanah pada lahan bekas tambang disarankan sebagai berikut: kandungan bahan organik tanah (SOM), reaksi tanah (pH), berat isi tanah (BD), kapasitas air tersedia (AWC), agregasi (WSA), dan respirasi tanah, namun dapat ditambahkan indikator lain sesuai tujuan evaluasi dan kondisi geografis lahan yang akan dievaluasi. Penilaian kualitas tanah dapat juga dilakukan menggunakan metode Scorecard. Evaluasi kualitas tanah pasca penambangan sebaiknya dilakukan sebelum pelaksanaan reklamasi untuk menentukan prioritas sifat-sifat tanah yang perlu perhatian lebih sehingga perlakuan reklamasi lebih terarah dan terukur dan selama pelaksanaan reklamasi untuk mengetahui arah perubahan yang terjadi.Abstract. Land in the mining areas undergo changes in soil physical, chemical, and biological properties as well as landscape as a result of various mining activities namely land clearing, construction of facilities to support the operations, movement of vehicles, excavation, storage of overburden dump materials backfilling of excavated material, and mineral mined processing. It is essential to restore soil quality similar to the condition before mining operation so that it can be utilized for agriculture purposes. This paper discusses method for assessing soil quality index to allow evaluation of the impact of different reclamation treatments. Studies indicated that the use of soil quality index gave good result, easy to perform, and easy to understand by the end user. Selection of key indicators (minimum data set) and its threshold values, in which soil is functioning optimally, is essential for the accuracy of soil quality index determination. Scoring and weighing of the individual soil indicator was performed before integrating all key indicators to obtain a soil quality index. Key indicators for evaluating soil quality of reclaimed mine soils is recommended to include soil organic matter (SOM), soil reaction (pH), bulk density (BD), available water capacity (AWC), water stable aggregate (WSA), and soil respiration, however, other indicators could be added depending upon the goal of assessment and geographical condition of land that is subject to evaluation. Qualitative assessment of soil quality can also be conducted using scorecard method. Evaluation of post-mining soil quality should be conducted before any reclamation activities to priorities soil properties that need more attention, so that reclamation treatments will be more focus and measurable and on on-going reclamation to monitor the trend of change.
Indikator Kualitas Tanah pada Lahan Bekas Penambangan Achmad Rachman; Sutono sutono; Irawan Irawan; I Wayan Suastika
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.554 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v11n1.2017.1-10

Abstract

Abstrak. Lahan dalam kawasan tambang-tambang mineral mengalami perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta lansekap yang sangat signifikan sebagai akibat dari berbagai aktifitas penambangan seperti land clearing, pembangunan fasilitas pendukung kegiatan penambangan, lalu lintas kendaraan berat, penggalian, penimbunan bahan galian, pengolahan hasil tambang atau bahan mineral, dan lainnya. Sangat penting untuk mengembalikan kualitas tanah seperti kondisi sebelum kegiatan penambangan sehingga lahan dapat difungsikan kembali untuk pertanian. Makalah ini membahas metode penilaian indeks kualitas tanah sehingga dapat dievaluasi dampak berbagai perlakuan reklamasi. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan indeks kualitas tanah untuk tujuan tersebut memberikan hasil yang baik, mudah dilaksanakan dan mudah dipahami oleh pengguna. Pemilihan indikator kunci (minimun data set) dan nilai ambang batasnya, pada batas mana tanah dapat berfungsi optimal, sangat menentukan akurasi penetapan indeks kualitas tanah. Penskoran dan pembobotan dilakukan terhadap setiap individu indikator kunci yang kemudian diintegrasikan untuk mendapatkan satu nilai indeks kualitas tanah. Indikator kunci untuk mengevaluasi kualitas tanah pada lahan bekas tambang disarankan sebagai berikut: kandungan bahan organik tanah (SOM), reaksi tanah (pH), berat isi tanah (BD), kapasitas air tersedia (AWC), agregasi (WSA), dan respirasi tanah, namun dapat ditambahkan indikator lain sesuai tujuan evaluasi dan kondisi geografis lahan yang akan dievaluasi. Penilaian kualitas tanah dapat juga dilakukan menggunakan metode Scorecard. Evaluasi kualitas tanah pasca penambangan sebaiknya dilakukan sebelum pelaksanaan reklamasi untuk menentukan prioritas sifat-sifat tanah yang perlu perhatian lebih sehingga perlakuan reklamasi lebih terarah dan terukur dan selama pelaksanaan reklamasi untuk mengetahui arah perubahan yang terjadi.Abstract. Land in the mining areas undergo changes in soil physical, chemical, and biological properties as well as landscape as a result of various mining activities namely land clearing, construction of facilities to support the operations, movement of vehicles, excavation, storage of overburden dump materials backfilling of excavated material, and mineral mined processing. It is essential to restore soil quality similar to the condition before mining operation so that it can be utilized for agriculture purposes. This paper discusses method for assessing soil quality index to allow evaluation of the impact of different reclamation treatments. Studies indicated that the use of soil quality index gave good result, easy to perform, and easy to understand by the end user. Selection of key indicators (minimum data set) and its threshold values, in which soil is functioning optimally, is essential for the accuracy of soil quality index determination. Scoring and weighing of the individual soil indicator was performed before integrating all key indicators to obtain a soil quality index. Key indicators for evaluating soil quality of reclaimed mine soils is recommended to include soil organic matter (SOM), soil reaction (pH), bulk density (BD), available water capacity (AWC), water stable aggregate (WSA), and soil respiration, however, other indicators could be added depending upon the goal of assessment and geographical condition of land that is subject to evaluation. Qualitative assessment of soil quality can also be conducted using scorecard method. Evaluation of post-mining soil quality should be conducted before any reclamation activities to priorities soil properties that need more attention, so that reclamation treatments will be more focus and measurable and on on-going reclamation to monitor the trend of change.
Pengaruh Amelioran terhadap Perbaikan Sifat Tanah dan Produksi Cabai Rawit (Capsicum frutescens) pada Lahan Bekas Tambang Timah Umi Haryati; Sutono Sutono; I Gusti Made Subiksa
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.127-138

Abstract

Abstrak. Lahan bekas tambang timah merupakan lahan yang terdegradasi berat dan memerlukan amelioran (pembenah tanah) untuk rehabilitasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh amelioran terhadap produktivitas tanah dan hasil tanaman cabai rawit pada lahan bekas tambang timah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (Randomized Block Design) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuannya adalah: Kontrol (tanpa amelioran) (B-0), Pupuk kandang 25 t ha-1 (B-1), Biochar Accasia mangium 25 t ha-1 (B-2), Biochar sekam 25 t ha-1 (B-3), Biochar Accasia mangium + pupuk kandang (1:1) 25 t ha-1 (B-4), Biochar sekam + pupuk kandang (1:1) 25 t ha-1 (B-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah pada lahan bekas tambang mempunyai sifat fisik yang kurang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Tanah tersebut mempunyai bulk density (BD) dan particle density (PD) yang cukup tinggi, ruang pori total (RPT), pori air tersedia dan pori drainase lambat yang rendah serta pori drainase cepat yang tinggi . Dengan demikian tanah mempunyai kapasitas memegang air (water holding capacity) yang rendah. Campuran biochar sekam dan pupuk kandang (1:1) memberikan hasil tanaman tertinggi (8,7 t ha-1); nyata lebih tinggi dari perlakuan tanpa pemberian amelioran (1,7 t ha-1). Amelioran biochar Accasia mangium atau biochar sekam yang dicampur dengan pupuk kandang (1:1), memberikan hasil tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian amelioran tersebut secara tunggal.Abstract. Tin mined land is highly degraded land with low soil fertility status and hence requires ameliorant for fertility improvement. This research aimed to study the effects of ameliorant on soil physical and chemical properties and cayenne pepper yield in tin mined land. The experimental design used was Randomized Block Design with six treatments and four replications. The treatments were: control (without ameliorant) (B0), 25 t ha-1 cattle manure (B1), 25 t ha-1 Acacia mangium biochar (B2), 25 t ha-1 rice husk biochar (B3), Acacia mangium biochar + cattle manure (1:1) 25 t ha-1 (B-4), and rice husk biochar + cattle manure (1:1) 25 t ha-1 (B-5). The results showed that the soil physical and chemical properties of the tin mined land were so poor to support plant growth. The soil had a high bulk density (BD) and particle density (PD), low total pore space, low percentage of available water pores, and high percentage of rapid drainage pore. The mixture beetwen biochar of rice husk and cattle manure (1:1) gave the highest crop yield of 8.7 t ha-1; and it was significantly higher than that of the treatment without ameliorants of 1.7 t ha-1. Application of Acacia mangium biochar or rice husk biochar mixed with cattle manure (1:1) gave a higher yield than that of individual biochar without cattle manure.