Broto Sunaryo
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEBERADAAN MODA TRANSPORTASI UMUM TIDAK BERMOTOR DALAM MENDUKUNG AKTIVITAS PARIWISATA DI KAWASAN MALIOBORO, YOGYAKARTA Yuliana Trisnawati; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.637 KB)

Abstract

Keberadaan moda kendaraan tidak bermotor saat ini sudah semakin menghilang dan tergeser oleh kendaraan bermotor yang dirasa lebih efisien dan efektif dalam melakukan perjalanan ke suatu tempat. Perubahan fungsi kadangkala terjadi dimana kendaraan tidak bermotor sudah tidak lagi menjadi transportasi umum namun beralih peran menjadi transportasi wisata yang menjual daya tarik wisatawan terhadap kendaraan kuno yang sudah jarang ditemui. Kawasan wisata Malioboro merupakan salah satu tempat wisata di Kota Yogyakarta yang hingga kini masih menjadi tempat keberadaan transportasi umum tidak bermotor seperti becak dan delman. Keberadaannya juga tidak lepas dari adanya aktivitas wisata di kawasan tersebut yang menjadikan kendaraan tidak bermotor sebagai primadona bagi wisatawan. Fenomena yang demikian menarik untuk diteliti, dengan pertanyaan penelitian: Seberapa besar keberadaan moda transportasi umum tidak bermotor dalam mendukung aktivitas wisata di kawasan Malioboro? Hal ini penting dalam mempertahankan keberadaan moda kendaraan tidak bermotor ditengah-tengah tingginya penggunaan kendaraan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh keberadaan transportasi umum tidak bermotor di sekitar kawasan wisata Malioboro dalam mendukung aktivitas pariwisata. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan data di kumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan informan yang dipilih melalui teknik penelitian sampel snowbal sampling untuk tukang becak dan tukang andong, accidental sampling untuk wisatawan dan sensus untuk pengelola toko souvenir. Hasil akhir dari penelitian ini bahwa keberadaan moda transporatsi umum tidak bermotor di Malioboro masih dipertahankan sebagai daya tarik bagi wisatawan melalui berbagai upaya peningkatan baik dari kualitas, kemampuan, kelayakan sehingga mampu menjadi daya dukung bagi aktivitas pariwisata di Malioboro
FAKTOR-FAKTOR PENENTU NILAI VERTIKAL RUANG BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN SEWA KRANGGAN KECAMATAN AMBARAWA Rizky Syaiful Ramadhan; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.557 KB)

Abstract

Pembangunan di kota-kota besar semakin maju pesat, akibatnya perkembangan kota bergerak menuju daya sentrifugal dan memicu pemekaran ke wilayah hinterlandnya. Kabupaten Semarang merupakan penyangga dari Kota Semarang yang pertumbuhan penduduknya semakin tinggi. Proses pertumbuhan yang cepat di Kabupaten Semarang disebabkan oleh tarikan kegiatan dan fungsi kota sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat industri dan  fungsi-fungsi lainnya. Pembangunan rumah susun menjadi salah satu bagian dari program pembangunan perumahan massal (mass housing) yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan menengah kebawah,. Rumah susun di Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang tepatnya di Kelurahan Kranggan merupakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) berlantai 4 yang diperuntukan untuk pekerja pabrik dan lain sebagainya yang bermunculan di Kabupaten Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai Vertikal Ruang Bangunan (NVRB) serta kontribusinya dalam mempengaruhi NVRB. Berdasarkan Grand Theory Bergel, karena faktor aksesibilitas, dimana semakin tinggi letak ruang nya semakin kecil nilai vertikal ruangnya. Dilihat berdasarkan Teori Bergel, mengenai “Height Building Theory” nilai vertikal ruang terdapat pada jumlah lantai atau ketinggian bangunan. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik dan rasionalistik, yang dianalisis melalui metode kuantitatif dengan teknik R Factor Analysis. Data yg digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan pengumpulan data melalui pengamatan, kuesioner,literatur, wawancara dan mencari dokumen dari instansi terkait. Penelitian ini menggunakan teknik sensus dimana batasan populasi yang dipilih di rusunawa kranggan adalah 98 orang. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor penentu NVRB Rusunawa Kranggan berdasarkan Lin I dibagi menjadi dua variabel penentu yaitu Variabel ekonomi yaitu variabel ekonomi dengan parameter aksesibilitas, pendapatan dan resiko kebakaran, serta untuk variabel ekonomi parameternya yaitu lingkungan dengan komponen keamanan lingkungan, gangguan binatang kecil, kualitas lingkungan, harga sewa, pemandangan dan parameter kenyamanan komponennya yaitu kenyamanan dan kebisingan. Kedua variabel tersebut mempunyai kontribusi sebesar 62,93% untuk variabel ekonomi dan 37,07% untuk variabel psikologi. Setelah diverifikasi penelitian ini terhadap Grand Theory Bergel menjelaskan bahwa penelitian ini selaras dan searah. Kemudian penelitian yang dilakukan Broto Sunaryo terlihat perbedaan yang jelas antara apartemen dengan rumah susun sederhana sewa, namun untuk penelitian Tegrasia di Rusunawa Kaligawe dan Chika di Rusunawa Bandaharjo terlihat adanya kesamaan dengan adanya kesamaan beberapa variabel penentu NVRB.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN KONSOLIDASI LAHAN DI KELURAHAN KRAMAS, SEMARANG Muhamad Dhimas Alhafidh; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.605 KB)

Abstract

Kelurahan Kramas merupakan Kelurahan yang termasuk dalam bagian Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang ditetapkan sebagai Bagian Wilayah Kota (BWK) VI dengan luas wilayah 4.420.057 Ha.Perkembangan Kota Semarang cenderung kearah selatan. Kebutuhan lahan untuk tempat tinggal sering menimbulkan permasalahan, tidak jarang terjadi pemecahan lahan menurut kehendak pemiliknya sehingga mengabaikan peraturan yang berlaku terutama penyediaan kawasan perumahan dan permukiman yang berdampak pada penataan lingkungan seperti jalan, saluran air, dan fasilitas umum lainnya. Oleh karena itu dalam rangka penataan lahan dan lingkungannya dikeluarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 1991 tentang konsolidasi lahan. Hal ini dimaksud untuk mengantisipasi timbulnya pemukiman yang tidak teratur dan kumuh seperti pada lokasi penelitian yang apabila dibiarkan terlalu lama akan mempersulit dalam penanganannya dari berbagai aspek nantinya. Untuk mengetahui proses pelaksanaan program konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas, maka diperlukan bentuk partisipasi dari masyarakat  yang tepat. Permasalahan ini menarik sebagai obyek penelitian untuk mendapatkan data-data tentang proses dari partisipasi masyarakat dalam mensukseskan pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas. Dari hasil analisis di atas, ditemukan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas, Semarang yaitu (1) Faktor Aksesibilitas yang terdiri dari 5 (lima) variable yaitu lokasi lahan terhadap jaringan jalan, kondisi fisik lahan, aksesibilitas lahan, ketersediaan fasilitas dan utilitas ,dan kepemilikan lahan. (2) Faktor Ekonomi yang terdiri dari 3 (tiga) variable yaitu tingkat penghasilan, tingkat pengeluaran, dan status lahan. Dan terakhir (3) faktor Sosial yang terdiri dari dua (dua) variabel yaitu tingkat pendidikan dan lama tinggal.