Arif Hidayat
Departemen Teknik Sipil Jl.Prof.Ir. Soedarto, Tembalang Semarang. 50275

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISA KEBUTUHAN JENIS DAN LUAS FASILITAS SITE PLAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG DI WILAYAH SEMARANG Dolly Anugrah; Mohammad Lazuardi Imaduddin; Frida Kistiani; Arif Hidayat
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPerencanaan site plan merupakan syarat penting dalam pekerjaan konstruksi karena berhubungannya dengan efisiensi pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Salah satu tujuan pokok dalam perencanaan site plan adalah untuk mengatur  tata letak dan kebutuhan fasilitas siteplan agar proyek dapat berjalan dengan nyaman, aman, mudah, produktif, dan minim hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kebutuhan jenis fasilitas dan luasan fasilitas pada site plan proyek konstruksi gedung di wilayah Semarang. Peraturan KDB wilayah Semarang mensyaratkan batas maksimum persentase KDB adalah sebesar 60%. Sehingga terdapat 40% luas lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai siteplan. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah kuesioner dan profil responden. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah gambar site lay out proyek untuk mendapatkan luas fasilitas site plan. Metode yang digunakan dalam pengambilan data dengan melakukan wawancara dan survey objek penelitian. Pada penelitian ini akan digunakan dua analisa yaitu analisa jenis dan luas fasilitas untuk memperoleh fasilitas apa saja yang harus ada pada proyek pembangunan gedung serta analisa bobot untuk mengetahui karakteristik site plan berdasarkan lima indikator yaitu kenyamanan, kemudahan, keamanan, produktivitas, dan tidak ada hambatan.Berdasarkan hasil analisis, proyek Hotel Tentrem Semarang masih memenuhi peraturan dengan nilai 59,2% sedangkan proyek Srondol Mixed Use tidak memenuhi dengan persentase sebesar 79,66%. Jenis fasilitas yang harus ada pada proyek gedung adalah pos security, kantor owner, kantor kontraktor, gudang material, gudang peralatan, fabrikasi besi, tower crane, dan toilet. Total luas fasilitas pada siteplan proyek pembangunan Hotel Tentrem Semarang adalah sebesar 1115,92 m² atau 13,95% dari luas lahan total. Sedangkan proyek pembangunan Srondol Mixed Use Development menggunakan total luasan fasilitas siteplan sebesar 2581,04 m² atau 11,47% dari luas lahan total. Siteplan proyek Srondol Mixed Use Semarang unggul pada indikator kenyamanan, keamanan, dan tidak ada hambatan. Sedangkan siteplan proyek Hotel Tentrem Semarang unggul pada indikator kemudahan dan produktivitas.
ANALISIS VALUE ENGINEERING PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN (STUDI KASUS : PROYEK APARTEMEN TAMANSARI D’PAPILIO-SURABAYA) Muhammad Iqbal P; Ridho Ramadhan; arif hidayat; riqi Radian
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah salah satu negara berkembang yang sedang giat dalam membangun bangunan konstruksi di setiap daerah. Perkembangan waktu dan teknologi membuat harga untuk konstruksi juga semakin mahal, maka dari itu diperlukan sebuah upaya untuk bisa menghemat dan mempercepat waktu pelaksanaan, salah satu caranya adalah dengan Value Engineering. Value Engineering bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengefisienkan biaya-biaya yang tidak perlu dengan batasan fungsional dan mutu pekerjaan (Aziz, dkk 2016). Penelitian pada proyek pembangunan Apartemen D’Papilio Surabaya dilakukan dengan mengikuti tahapan Value Engineering yaitu tahap informasi, tahap kreatif, tahap analisa dan tahap rekomendasi. Dari hasil informasi, dipilihlah pekerjaan plat lantai dari lantai 8 sampai dengan lantai 29 yang akan dilakukan analisa value engineering, salah satu alasannya adalah karena desain dari lantai 8 sampai dengan lantai 29 adalah tipikal. Munculah ide kreatif untuk mengganti desain plat lantai dengan metode konvensional dengan desain alternatif yaitu plat lantai dengan metode halfslab precast swakelola. Setelah melakukan analisa biaya, mutu dan waktu, maka plat lantai halfslab precast swakelola dapat diterapkan dan direkomendasikan sebagai desain alternatif dari desain awal yaitu plat lantai dengan metode konvensional. Cost saving yang didapat dari desain alternatif ini adalah sebesar Rp. 557.035.443,17 atau sebesar 8,52% dari desain awal. Selain penghematan dalam biaya terdapat penghematan juga dalam penggunaan bekisting sebesar 100%, 52,91% untuk penggunaan tulangan, dan 41,67% pada penggunaan beton untuk pengecoran.
PENGUKURAN KINERJA KONSULTAN MANAJEMEN KONSTRUKSI PADA TAHAP IMPLEMENTASI PROYEK KONSTRUKSI M.Syihabul Umam; Dhani Syafitri; Arif Hidayat; Frida Kistiani
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.581 KB)

Abstract

Industri konstruksi merupakan industri yang memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi. Tercermin dari banyaknya tahapan dalam suatu siklus hidup proyek atau Life Cycle Project. Dari semua tahapan tersebut, tahapan implementasi (construction) merupakan tahap yang perlu mendapat perhatian yang serius, karena pada tahap ini harus tercapai tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu atau yang sering disebut sebagai triangle project constraint. Untuk itu diperlukan sistem manajemen proyek yang baik seperti ditawarkan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi (KMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membuat instrument pengukuran kinerja  KMK pada tahap implementasi. 5 indikator kinerja yang dikembangkan menjadi 22 variabel digunakan untuk mengukur kinerja KMK pada proyek pemerintah dan pada proyek swasta. Selanjutnya dilakukan analisis dengan tiga metode yaitu metode analisis kesenjangan (GAP), Importance Performance Analysis (IPA), dan Customer Satisfaction Index (CSI). Dari hasil analisis dan perhitungan pengukuran kinerja KMK yang diukur dengan  metode analisis GAP dan IPA secara garis besar menunjukan bahwa kinerja KMK pada proyek swasta memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan kinerja pada proyek pemerintah, didapatkan pula nilai CSI untuk kinerja KMK pada proyek pemerintah sebesar 52,51% (cukup puas) dan CSI untuk kinerja KMK pada proyek swasta 85,88% (sangat puas).