Agita Arrasy Asthu
Ministry of Tourism and Creative Economy Republic of Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Demographical Analysis and Cultural Characteristic to Attract Japanese Tourists to Indonesia Agita Arrasy Asthu; William Kalua Putra
Binus Business Review Vol. 12 No. 3 (2021): Binus Business Review
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/bbr.v12i3.6789

Abstract

Japan is one of the biggest international tourist contributors to Indonesia. However, in recent years, there is a negative growth. It is caused by the demographical change of the Japanese population and outbound. Hence, research about the cultural ethnicity and social conditions affecting international travelers' behavior in tourism activities is needed. The research focused on the segmentation and strategies to attract foreign tourist which Indonesia would carry. The applied research method was a qualitative descriptive approach that utilized secondary data, such as demographical data and cultural characteristics. Data were taken from the Central Bureau of Statistics of the Republic of Indonesia, Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia, World Bank, and Statistics Bureau of Japan. Then, those data were analyzed by a descriptive statistics method. The result intends to formulate a strategy to seek more potential tourist growth from a Japanese market. The result shows four strategic efforts that Indonesia can take to maximize the potential for the arrival of foreign tourists from Japan. The government can consider the increased number of “silver age” and adult female workers (Joshitabi), which dominate the travelers’ segment to Indonesia, and pay attention to air connectivity and unique cultural characteristic of Japan.
PENGEMBANGAN WILAYAH PERBATASAN INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PARIWISATA Agita Arrasy Asthu
Jurnal Sosioteknologi Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2020.19.1.6

Abstract

Wilayah perbatasan sering terabaikan dan tidak menjadi fokus pembangunan, hal ini menyebabkan wilayah perbatasan semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan. Penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierrarchy Process untuk memeringkatkan perbatasan mana saja yang menjadi prioritas pembangunan, kemudian disandingkan dengan pembangunan yang telah pemerintah lakukan. Variabel yang digunakan adalah data kunjungan wisman (mobile positioning data), populasi per kecamatan, pengeluaran per kapita, dan PDRB per kapita. Penelitian dilakukan di sejumlah 323 kecamatan yang tersebar di 29 kabupaten kota atau sembilan provinsi yang menjadi objek kajian. Dari data tersebut, penulis mengambil 10 skor AHP tertinggi yang terbagi menjadi dua kategori pembangunan, yaitu kategori (1) sudah tepat sasaran program pemerintah dan (2) daerah yang belum tepat sasaran program pemerintah. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pembangunan di perbatasan mengalami ketimpangan atau kurang tepat sasaran. Untuk mengikis ketimpangan yang terjadi, pendekatan pariwisata dapat menjadi salah satu alternatif. Pendekatan ini menggunakan konsep pembangunan destinasi pariwisata yang fokus pada pembangunan tiga pilar, yaitu atraksi (pasar dan ruang publik), aksesibilitas (jalan raya, gerbang pintu masuk, dan transportasi umum), serta amenitas (Homestay dan Hotel).