Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LI CHANGGENG, MARX & UANG Goenawan Mohamad
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1974.%p

Abstract

Dalam dunia modern uang bukanlah sekedar sarana transaksi atau alat tukar. Lebih dari itu ia adalah infrastruktur berbagai differensiasi sosial dan salah satu unsur pokok yang membentuk - atau memanipulasi- gambaran dunia (worldview). Uang memang berperan melebihi fungsi ekonominya saja. Pada lapisan lebih dalam ia sekaligus merepresentasikan spirit dasar modernitas: rasionalitas, kalkulabilitas dan impersonalitas.Bila dalam dunia kuno realitas dipahami dan dikelola berdasarkan imajinasi dan rasa, dan masyarakat lantas dihayati sebagai paguyuban dengan kohesi sosial yang erat, dalam era modern realitas dipahami melalui kalkulasi rasional dan abstraksi, dan masyarakat terpecah ke dalam bermacam differensiasi sosial, yang ditandai dengan uang sebagai ukuran kuantitatif pembedanya.  Dari sisi ini uang adalah salah satu faktor yang melahirkan pergeseran mendasar dari Gemeinschaft ke Gesellschaft, dari pola relasi estetik ke pragmatik, kerangka pandang kualitatif ke kuantitatif,  sistem yang personal ke impersonal. Akibatnya di dunia modern orientasi nilai dan faktor penentu utama  adalah profit, akumulasi kapital, dan kekayaan material. Segala nilai lain hanya penting sejauh mendukung hal-hal tersebut. 
Seni dan Politik Goenawan Mohamad
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1988.%p

Abstract

Pada millenium ketiga ini, seni mengalami situasi paradoksal : di satu sisi konon ia ‘telah berakhir’ (‘The end of art’ kata Arthur Danto dll), di sisi lain seni melebur ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi apa pun juga. Di satu sisi, dalam konstelasi teknokultur hari ini seni selalu dianggap sekedar hal sekunder –seperti tampak dalam kurikulum pendidikan umum-, di sisi lain pada strata masyarakat papan atas seni justru diapresiasi sebagai simbol kemewahan dan keberadaban. Situasi ini menarik, memaksa kita meninjau kembali keterkaitan antara seni dan kehidupan.  Barangkali sebenarnya yang berakhir hanyalah pemisahan ketat antara  ‘seni tinggi’ dan ‘seni populer’ yang semakin lama semakin dirasa artifisial dan tendensius, yang juga tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan ‘seni tinggi’ itu sendiri. Barangkali juga yang sebenarnya menghilang hanyalah pretensi ‘eksklusif’ dari dunia seni itu, sebab dalam kenyataannya kini seni justru dianggap sebagai paradigma utama yang lebih tepat untuk memahami berbagai fenomena kreatif pokok dalam dunia manusia, sejak fenomena kreatif dalam sains, teknologi, industri, ekonomi, hingga politik, gaya hidup dan agama. Dunia manusia tetaplah dunia yang diciptakan dan‘dibuat-buat’nya sendiri alias dunia yang di’seni’kannya. Barangkali akhirnya seni memang bukan hanya soal ‘keindahan’, melainkan lebih perkara ‘kebenaran’, kebenaran tentang bagaimana hidup ini ditafsirkan dan dimaknai secara khas oleh manusia. Extension Course Filsafat kali ini hendak merenungi dan mengkaji lebih jauh posisi seni yang paradoksal itu, untuk memperjelas seberapa penting sesungguhnya seni itu dalam kehidupan kita kini.
Filsafat, Transformasi, Politik Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.624 KB)

Abstract

Filsafat adalah proses, bukan bangunan kesimpulan. Ia merupakan laku menyimak kehidupan secara tekun dan mendalam. Pengetahuan terlaksana dengan perbuatan, teori terjadi melalui praxis. Filsafat tidak serta merta dapat membelokkan arah peradaban, karena masih membutuhkan hal lain seperti politik dan demokrasi.