This Author published in this journals
All Journal TATANAN
Alvin Alvin
Mahasiswa S1 Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN RUANG TERBUKA DAN MASSA BANGUNAN APARTEMEN MARINA SEBAGAI BANGUNAN DI KAWASAN TEPI LAUT Fransisca Gunawan; Alvin Alvin
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe demand of housing supply in North Jakarta increases in each years, therefore made BPL Pluit must do the reclamation of North Jakarta shore area to be prepared as housing area. Through the vertical housing concept to respond the housing demand, the developer tries to speculate with the condition of north Jakarta area and built Marina apartment in seashore.As an apartment in seashore, the developer tries to use waterfront concept for building design that so far has been used in advanced country such as Japan and America. This article made to analyze wheter or not the Marina apartment is an waterfront building as its concept. The study enclose the open space ordering and also building mass concept that next will be compared with the literature about some design criterias and elements that must be watched in apartment planning and waterfront concept.A building can be said as a waterfront building not only from the location in seashore but also the optimal using from the sea area and orientation of the sea around it. After the analysis progress, we can say that Marina apartment is not a building with waterfront concept because there is no optimal using of the sea around it that represent an important element in waterfront concept building.AbstrakTuntutan penyediaan permukiman di kawasan Jakarta Utara semakin meningkat setiap tahunnya sehingga menyebabkan pihak BPL Pluit harus melakukan reklamasi wilayah pantai Utara Jakarta untuk dikembangkan menjadi area permukiman. Dengan menerapkan konsep hunian vertikal untuk menjawab kebutuhan akan permukiman, maka pihak pengembang mencoba berspekulasi dengan kondisi yang ada di Jakarta Utara dengan mendirikan sebuah apartemen di tepi laut, yaitu apartemen Marina.Sebagai apartemen yang berlokasi di tepi laut, pihak pengembang mencoba menerapkan konsep desain bangunan waterfront yang selama ini sudah banyak digunakan di berbagai negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tulisan ini dibuat untuk mengkaji apakah apartemen Marina sesuai dengan konsep desain bangunan waterfront. Pengkajian meliputi tatanan ruang terbuka serta desain massa bangunan yang kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai berbagai kriteria desain dan elemen-elemen yang pertu diperhatikan dalam perencanaan apartemen serta konsep waterfront. Sebuah bangunan dapat dinyatakan sebagai bangunan waterfront bukan hanya berdasarkan lokasinya yang berada di tepi laut, tetapi adanya pemanfaatan optimal dan orientasi dari perairan itu sendiri. Setelah melalui proses analisa, dapat disimpulkan bahwa apartemen Marina temyata bukan merupakan bangunan yang menggunakan konsep waterfront dikarenakan tidak mengoptimalkan pemanfaatan laut di sekitamya dimana hal tersebut merupakan elemen utama dalam sebuah konsep bangunan waterfront.
PENGARUH PEMILIHAN MATERIAL DINDING BANGUNAN HUNIAN ANTARA KAYU DAN TEMBOK SECARA EKOLOGIS Antya Jahani Sopannata; Alvin Alvin
TATANAN Vol. 1 No. 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                  In this development era, the housing prosperity is growing fast referring to resident prosperity that growing fast too. The more fast and advanced development, made the peoples need fulfilled fast. It can end in nature exploitation and nature ecosistem structure/progress is starting to move and change. Nature in the beginning can help human life, will be the human enemy because it human careless                  In this case, the holistic thought is begin to need, or in other word it can be said there was a relationship between nature as a place that human can live in and human made environment. This relationship is ecology.                  The ecological consideration for a built environment plan and design must be comprehensive. One of the ecological aspects is suitable material choosing for housing. Particularly in order to the material life-cycle and the material suitability with the local climate to fulfill the physical comfortness of housing. One of the aspect that caught in ecology is suitable material choosing for housing. The ecology is particularly caught with material holdness and material suitable against the local climate as a physical fitness for housing.                  To get a complete comprehension of the housing ecology, this study takes an object a house with brick material an a rarely house with wooden material almost as traditional house to compare.                  From the study result, we can said that the wooden house is ecologicaly better than the brick house, because the wood material is a regenerating material, different from the anorganic brick material. A wood house also can give us a physical comfortness for the human that lives in order to humidity, and also of solar radiation.  Keywords: building material, ecology, Bandung  Abstrak                  Pada masa pembangunan saat ini, pertumbuhan perumahan sangat pesat sejalan dengan semakin pesatnya populasi penduduk. Semakin cepat dan canggih pembangunan maka semakin cepat terpenuhi kebutuhan orang banyak. Hal ini dapat mengakibatkan pengeksploitasian alam dan bahkan struktur/proses ekosistem alam mulai bergeser dan berubah. Alam yang pada awalnya dapat menunjang kehidupan manusia bisa menjadi musuh manusia akibat keteledoran manusia sendiri.                 Dalam hal ini, mulai dibutuhkan pernikiran dengan penuh pertimbangan yang menyeluruh, atau dengan kata lain adanya hubungan timbal balik antara alam sebagai tempat hidup dan berkembangnya manusia dengan lingkungan buatan manusia. Hubungan inilah yang disebut dengan ekologi.                 Pertimbangan ekologis dalam suatu perencanaan lingkungan binaan haruslah bersifat menyeluruh. Dalam tulisan ini, salah satu aspek yang terkait dengan ekologi adalah pemilihan material yang layak untuk hunian. Segi ekologi yang dimaksud khususnya berkaitan dengan siklus hidup bahan dan kecocokan bahan terhadap iklim lokal dan kaitannya dengan pemenuhan kenyamanan fisik suatu hunian.                 Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang hunian ekologis, maka studi banding yang diambil adalah hunian tembok yang lazim digunakan dengan hunian kayu yang jarang dijumpai dan lebih mendekati hunian tradisional.                 Dari hasil studi, ternyata hunian kayu lebih mendekati pertimbangan ekologi dikarenakan siklus bahannya yang tertutup dan dapat dikembalikan serta diperbarui kembali oleh alam, berbeda dengan bahan anorganik hunian tembok. Hunian kayu juga dapat memenuhi tuntutan kenyamanan fisik baik terhadap kelembaban yang tinggi dan radiasi panas matahari yang tinggi. Kata Kunci: bahan bangunan, ekologis, Bandung