This Author published in this journals
All Journal Jurnal Jaffray
Peniel C.D. Maiaweng
Lembaga Penelitian STFT Jaffray

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Tinjauan Teologis Tentang Takut Akan Tuhan Berdasarkan Kitab Amsal Dan Implementasinya Dalam Hidup Kekristenan Tampasigi, Ril; Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.68

Abstract

Sebagai tujuan penelitian adalah Untuk memaparkan konsep Takut akanTUHAN berdasarkan kitab Amsal, Untuk menjelaskan manfaat dari TakutakanTUHAN. Dan Untuk menjelaskan implementasinya dalam kehidupan Kekristenansetiap hari.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifyaitu metode penelitian Kepustakaan (library research), terhadap berbagai sumberdata antara lain: Alkitab, tafsiran-tafsiran kitab Amsal dan buku-buku yangmembahas tentang Takut akan TUHAN serta penulis menggunakan metode eksegesis.Yang disusun secara deskriptif untuk mencapai sasaran dan tujuan penulisan.Dalam penelitian ini, ditemukan hasil bahwa Kekristenan seharusnya hidupberdasarkan takut akan TUHAN dengan menyadari akan kemahakuasaan-Nya,kekudusan-Nya, kemahahadiran-Nya dan kemahatahuanNya dalam setiap aspekkehidupan manusia lewat tindakan dan perilaku manusia. Banyak hal dalam duniaini yang akan membuat manusia merasa takut dan gentar, baik itu ketakutanterhadap sesamanya manusia maupun ketakutan terhadap hal-hal yang lainnya.Takutakan TUHAN merupakan suatu perasaan takut yang positif bukan negatif.Takutakan TUHAN bukan seperti perasaan takut yang dialami oleh manusiaterhadap hal-hal yang biasa, tetapi takutakan TUHAN merupakan penghormatanmanusia terhadap TUHAN.
Exegesis Yehezkiel 18:30-32 Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v6i2.107

Abstract

Dosa adalah pelanggaran dan pemberontakan umat TUHAN terhadap Pencipta dan Penyelamatnya. Menyikapi keberadaan umat TUHAN yang demikian,TUHAN sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Hakim yang akan menghikimi setiap orang sesuai dengan lni adalah pertobatan yang menyatakan perubahan seseorang di hadapan Allah, yaitu ia menjadi orang percaya.Adapun pelanggaran-pelanggaran yang dengan sadar dilakukan oleh rumah Israel, umumnya adalah kejahatan terhadap sesama (Yeh. 18:5-8), tetapi bagi TUHAN, perbuatanperbuatan itu adalah pemberontakan yang secara langsung mereka tujukan kepada-Nya, danakibat dari perbuatan yang demikian adalah kematian (I8:4,13, 18,24). TUHAN memerintahkan mereka agar mereka membuang jauh dari diri mereka segala pelanggaranyang telah mereka lakukan, tidak menaruh perhatian lagi, dan tidak melakukannya lagi, agar tidak menjadi malapetaka bagi mereka.
Perceraian dan Pernikahan Kembali Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.237

Abstract

Menyikapi konsep tentang perceraian dan pernikahan kembali, umumnya terdapat tiga pandangan yang dipraktikkan di kalangan Kristen.  Pertama, menyetujui perceraian dan pernikahan kembali; kedua, menyetujui perceraian, tetapi tidak menyetujui pernikahan kembali; ketiga, tidak menyetujui perceraian dan pernikahan kembali. Munculnya ketiga pandangan tersebut didasarkan pada frasa yang terdapat dalam Matius 19:9, “kecuali karena zina.”  Berdasarkan pengajaran Yesus dalam Mat. 5:32; 19:9; Mark. 10:11-12; Luk. 16:18, dapat disimpulkan bahwa kategori perzinaan adalah 1) jika suami yang menceraikan istrinya, maka suami menjadikan istrinya berzina; 2) jika laki-laki yang kawin dengan istri yang diceraikan suaminya, maka laki-laki itu berbuat zina; 3) jika suami yang menceraikan istrinya dan kawin dengan perempuan lain, maka suami berbuat zina; 4) jika istri yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain, maka istri berbuat zina.  Dengan demikian, bagi Yesus, perceraian dan pernikahan kembali sama dengan perzinaan, karena Yesus tidak menganjurkan perceraian dan pernikahan kembali.  Hanya maut yang dapat memisahkan seseorang dari pasangannya dan menikah kembali.  Penyelesaian masalah perceraian dan pernikahan kembali yang telah terjadi adalah tanggung jawab jemaat secara keseluruhan untuk mendapatkan kembali mereka yang telah berpisah dari pasangannya karena masalah-masalah rumah tangga.  Jika ada seorang yang tidak ingin ditolong untuk merubah sikapnya agar bersatu dengan pasangannya, maka ia dianggap sebagai seorang yang tidak mengenal Allah.
Tinjauan Teologis Tentang Takut Akan Tuhan Berdasarkan Kitab Amsal Dan Implementasinya Dalam Hidup Kekristenan Tampasigi, Ril; Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.68

Abstract

Sebagai tujuan penelitian adalah Untuk memaparkan konsep Takut akanTUHAN berdasarkan kitab Amsal, Untuk menjelaskan manfaat dari TakutakanTUHAN. Dan Untuk menjelaskan implementasinya dalam kehidupan Kekristenansetiap hari.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifyaitu metode penelitian Kepustakaan (library research), terhadap berbagai sumberdata antara lain: Alkitab, tafsiran-tafsiran kitab Amsal dan buku-buku yangmembahas tentang Takut akan TUHAN serta penulis menggunakan metode eksegesis.Yang disusun secara deskriptif untuk mencapai sasaran dan tujuan penulisan.Dalam penelitian ini, ditemukan hasil bahwa Kekristenan seharusnya hidupberdasarkan takut akan TUHAN dengan menyadari akan kemahakuasaan-Nya,kekudusan-Nya, kemahahadiran-Nya dan kemahatahuanNya dalam setiap aspekkehidupan manusia lewat tindakan dan perilaku manusia. Banyak hal dalam duniaini yang akan membuat manusia merasa takut dan gentar, baik itu ketakutanterhadap sesamanya manusia maupun ketakutan terhadap hal-hal yang lainnya.Takutakan TUHAN merupakan suatu perasaan takut yang positif bukan negatif.Takutakan TUHAN bukan seperti perasaan takut yang dialami oleh manusiaterhadap hal-hal yang biasa, tetapi takutakan TUHAN merupakan penghormatanmanusia terhadap TUHAN.
Inkarnasi:Realitas Kemanusiaan Yesus Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i1.114

Abstract

Inkarnasi adalah doktrin Kristen yang bersumber pada Alkitab, yaitu Firman adalah kekal, Ia bersama Allah, Ia adalah Allah, dan Ia menjadi manusia.  Ia adalah Anak Tunggal Bapa yang menjadi manusia yang sempurna.  Kehadiran-Nya di bumi menyatakan Bapa dan melaksanakan kehendak Bapa, yaitu mengerjakan keselamatan bagi orang berdosa melalui kehidupan, pelayanan, kesengsaraan, penyaliban, dan kematian di Kayu Salib.  Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus selama Ia berada di bumi berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia telah menunjukkan realita kemanusiaan-Nya, relasi sosial-Nya, pelayanan-Nya, dan mempersiapkan para murid sebagai pemimpin yang meneruskan pelayanan yang telah dilaksanakan-Nya dan melaksanakan pemberitaan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dunia.Incarnation is a Christian doctrine which originates from the Bible and which explains that the Word is eternal, the Word was together with God, the Word was God, and the Word became human. The Word is the one and only Son of the Father who became the perfect man. His coming to earth manifested the Father and implemented the will of the Father, that is, effected the salvation of sinful man through His life, ministry, suffering, death on the Cross, and resurrection. All of the events that happened in the life of Jesus as long as He was on earth are directly related to the salvation of mankind. Before Jesus ascended to heaven, He showed the reality of His humanity through His social relationships and His ministry, and prepared the disciples as leaders to continue the ministry that He initiated and to promulgate the preaching that Jesus is the one and only Savior of the world.
Manfaat Kebenaran Perbuatan: Suatu Analisis Terhadap Ajaran Filsafat Pragmatisme Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.69

Abstract

Pragmatisme adalah pandangan filsafat yang menekankan bahwa kebenaranadalah manfaat dari sebuah tindakan atau perbuatan. Tokoh-tokoh yangberpengaruh dan yang mengembangkan filsafat pragmatisme adalah Charles SandersPeirce (1839-19I4), Willian James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), dan RichardRorty (1931-2007). Inti pengaran filsafat pragmatisme adalah, Pertama, Etikabukanlah apa yang benar, tetapi prilaku dan tujuan diri. Kedua, Keyakinan manusiaterdapat pada manusia itu sendiri karena menjadi dasar baginya untuk melakukanyang benar, dan keyakinan dimulai dari proposisi yang dinilai benar. Ketiga,Kebenaran adalah relatif karena setiap fakta baru akan memunculkan kebenaranbaru yang pengujiannya melalui pembahasan diskusi. Keempat, Kebenaran yangmenjadi tuntutan agama dapat ditemukan secara ilmiah. Kelima, Manusiamemercayai bahwa kehendaknya yang membebaskannya dari kekasaran, ketakutan,dan kematian, dan manusia harus diperbudak oleh kebebasannya. Keenam, Wahyuadalah mistik, tidak dapat diklaim sebagai kebenaran jika tanpa pengalaman pribadi.Ketujuh, Pengalaman manusia menjadi unsur penting untuk menentukan kebenarandan metode digunakan untuk mencapai kebenaran yang terdapat dalam pengalaman.Kedelapan, Pengalaman spiritualis dan kesusilaan bukan hasil pembentukan secarakeagamaan, tetapi pemberdayaan seluruh potensinya yang direalisasikan dalammasyarakat. Kesembilan, Penyataan bukanlah dari Tuhan, tetapi penemuan yangdilakukan manusia dan kebenaran supernatural tidak diakui karena masalahadikodrati. Kesepuluh, Kesalahan bukanlah dosa, tetapi ketidaksesuaian antarametode dengan akal. Kesebelas, Kebenaran keagamaan bukanlah sesuatu yangdiwahyukan, tetapi muncul dari keinginan, dorongan, perasaan dan kebiasaanmanusia.