Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kinerja Simpang Bersinyal Pada Jalan Kaligarang – Jalan Kelud Raya – Jalan Bendungan Raya Warsiti Warsiti; Sukoyo Sukoyo; Galih Pamungkas; Muhamad Ryan Herdiansyah
Bangun Rekaprima Vol 2, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.401 KB) | DOI: 10.32497/bangunrekaprima.v2i2.455

Abstract

Sejalan dengan  pesatnya perkembangan kota, tuntutan lalu lintas yang semakin padat, dan permintaan masyarakat terhadap kendaraan yang semakin besar memerlukan perhatian maupun penilaian kerja untuk kondisi persimpangan. Tidak seimbangnya jumlah lalu lintas dengan lebar efektif jalan, pendeknya waktu hijau akan menyebabkan tundaan serta antrian lalu lintas pada persimpangan. Perencanaan lebar pendekat, pengaturan fase dan waktu siklus optimum ditujukan untuk menaikkan kapasitas persimpangan dan sedapat mungkin menghindari terjadinya konflik lalu lintas.Sebagaimana hal tersebut diatas, dicoba untuk mengadakan studi pada persimpangan bersinyal. Studi ini menggunakan metode pendekatan dari MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesia) dengan meninjau persimpangan “Jalan Kaligarang  –  Jalan  Kelud Raya – Jalan Bendungan Raya”. Setelah dilakukan analisis dari data yang diperoleh di lapangan, didapat nilai derajat kejenuhan untuk tiap pendekat adalah antara 0,907-0,927.Hal ini menunjukkan bahwa kinerja persimpangan tidak layak dioperasikan. Solusi yang dilakukan adalah dengancara perubahan waktu hijau sebanyak 14 detik pada lengan bagian barat (Jalan Kaligarang Barat), waktu siklus berubah dari 157 detik menjadi 171 detik dan penambahan lebar satu lajur (sepanjang 3,5 meter) pada pendekat T (Jalan Kaligarang Timur), penambahan satu lajur (sepanjang 3,5 meter) pada pendekat U (Jalan Bendungan Raya) dan penambahan 1,4 meter (dari 5,6 meter menjadi 7 meter) pada pendekat S (Jalan Kelud Raya). Setelah dilakukan perubahan tersebut, nilai derajat kejenuhan pada tiap pendekat menurun menjadi 0,494-0,794 dengan tingkat pelayanan simpang E.Kata kunci: Kinerja Simpang, Derajat Kejenuhan, Panjang Antrian, Tundaan.
PRODUKTIVITAS PEMASANGAN DINDING BATA RINGAN MENGGUNAKAN POLYURETHANE SEBAGAI PEREKAT Primasiwi Harprastanti; praharseno Fikri; Sukoyo Sukoyo; Wasino Wasino; Diah Wulan
Wahana Teknik Sipil: Jurnal Pengembangan Teknik Sipil Vol. 31 No. 1 (2026): Wahana Teknik Sipil
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32497/wahanats.v31i1.7277

Abstract

Time and cost efficiency are critical factors in the construction industry. In the installation of lightweight brick walls, the selection of adhesive type (mortar or polyurethane glue) significantly affects labor productivity. This study aims to empirically validate and compare the installation productivity values, expressed as the number of working hours per square meter (hours/m²), for the two adhesive types. This study employed a controlled experimental method using a 1 m² lightweight brick wall specimen. The two installation methods were tested separately by the same workers to ensure consistency. Installation productivity was calculated based on the ratio of working time to installation area. The results showed that the installation productivity value of lightweight brick walls using mortar was 0.2719 hours/m² (equivalent to 16.32 minutes/m²), whereas the use of polyurethane glue resulted in a productivity value of 0.1264 hours/m² (equivalent to7.58 minutes/m²). This difference indicates a 53.5% improvement in time efficiency when polyurethane glue was used. The increased efficiency was primarily attributed to the elimination of the mixing process and the application of a thinner adhesive layer. The use of polyurethane glue significantly improved the installation productivity of lightweight brick walls. Although polyurethane glue has a higher material cost, its substantially lower installation coefficient makes it an effective option, particularly for projects requiring rapid construction progress, as it can reduce total labor costs and shorten the overall project duration.