This Author published in this journals
All Journal Sulesana
Nihaya Nihaya
Fakultas Ushuluddin dan filsafat UIN Alauddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SINERGITAS FILSAFAT DAN TEOLOGI MURTHADHA MUTHAHHARI Nihaya Nihaya
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v8i1.1291

Abstract

Spiritual (yang selanjutnya disebut ‘irfan) adalah kecenderungan dalam menguak rahasia dan mengenal pengetahuan-pengetahuan bathiniah melalui keyakinan terhadap wilayah dan ajaran-ajaran Ahlul Bayt. Pengertian dan ciri-ciri seperti ini secara umum telah menghubungkan teosofi dengan makna tasawuf (‘irfan). Dari satu sisi penjelasan ini mengungkapkan bahwa hahekat Tasyayyu’ (Tasyayyu’bid-dzat) sebagai suatu jalan untuk mengenal rahasia-rahasia. Syi’ah memberi ruang lingkup yang tidak terbatas terhadap ajaran-ajaran yang mengenalkan pada rahasia dan pengetahuan-pengetahuan bathin. Syi’ah dengan keyakinan terhadap para Imam Suci yang merupakan ciri khasnya, telah mempersiapkan diri untuk menerima ajaran-ajaran tersebut dari para Imam Suci mereka Pada mulanya dalam dunia Islam hanya ada aliran besar dalam filsafat, yaitu: aliran iluminasi (mazhab al-Isyraqi) dan aliran paripatetik (mazhab al-Masysya’iy). Keduanya secara historis dan konseptual berkaitan dengan filsafat Yunani kuno.[i] Kemudian dalam perkembangan berikutnya muncul sebuah aliran baru dalam filsafat yaitu aliran Hikmah al-Muta’alliyah.[i]Ibid.,
Demokrasi dan Problematikanya di Indonesia Nihaya Nihaya
Sulesana Vol 6 No 2 (2011)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v6i2.1398

Abstract

Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal dimasa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi. Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing masa demokrasi tersebut pada dasarnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita. Demokrasi liberal ternyata pada saat itu belum bisa memberikan perubahan yang berarti bagi Indonesia. Namun demikian,berbagai kabinet yang jatuh-bangun pada masa itu telah memperlihatkan berbagai ragam pribadi beserta pemikiran mereka yang cemerlang dalam memimpin namun mudah dijatuhkan oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Sementara demokrasi terpimpin yang dideklarasikan oleh Soekarno (setelah melihat terlalu lamanya konstituante mengeluarkan undang-undang dasar baru) telah memperkuat posisi Soekarno secara absolut.