Penelitian ini mencoba menyoroti kondisi pekerja anak yang terpaksa harus melakoni pekerjaannya sebagai konsekuensi kemiskinan keluarganya, sehingga diberi beban oleh orang tuanya untuk mencari nafkah, karena dianggap sangat strategis untuk mencari nafkah. Namun yang menjadi persoalan adalah hilangnya kesempatan anak untuk menuntut pendidikan, kebebasan bermain dan bersosialisasi terlebih kurangnya penanaman nilai agama sebagai acuan dalam menata kehidupan. Hal yang menjadi tantangan berat adalah upaya pemberdayaan fungsi agama pada pekerja anak. Penelitian ini adalah deskriptif sehingga analisisnya adalah kualitatif dengan harapan untuk menggambarkan secara kongkrit tentang fenomena pekerja anak sebagai masalah perkotaan dalam kaitannya dengan pemberdayaan fungsi agama pada pekerja anak sebagai generasi pelanjut. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman dan penerapan agama pada pekerja anak, utamanya dalam shalat, puasa, pendidikan agama, mengaji sangat rendah. Hal ini dimungkinkan karena pada karakteristik pekerja anak adalah hampir semua waktunya dihabiskan pada pekerjaannya, selain itu juga lebih mengutamakan bekerja daripada belajar agama karena itu yang menjadi tuntutan keluarganya yakni mencari nafkah. Maka upaya yang dilakukan dalam menerapkan fungsi agama yakni fungsi kontrol, edukasi, persaudaraan dan penyelamatan melalui rumah singgah, kelompok pengajian, majelis taklim, pendidikan formal, namun belum berjalan maksimal dan menjadikan pekerja anak belum terlalu tertarik untuk memanfaatkan sarana tersebut mereka tetap konsentrasi pada mencari nafkah. Maka model kebijakan yang efektif adalah mendekatkan sarana pemberdayaan pada konsentrasi pemukiman pekerja anak.