Fadhlina Arief Wangsa
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KECERDASAN INTELEKTUAL NABI MUHAMMAD SAW. DALAM PERSPEKTIF HADIS Fadhlina Arief Wangsa
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.15587

Abstract

Daniel Goleman (pakar psikolog ternama) yang menyatakan bahwa Intelligence Quotient / IQ (kecerdasan intelektual), adalah salah satu yang ikut menentukan kesuksesan seseorang, walaupun bukan yang dominan, karena di luar sana, masih ada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Di sisi lain, penulis Michael H Hart dalam bukunya ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History, menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai rangking pertama orang yang paling berpengaruh di dunia. Kesuksesan ini menjadi tanda tanya besar, mengingat Nabi Muhammad SAW. lahir kondisi sosial, politik, ekonomi di negara Arab yang buruk, kacau dan memprihatinkan. Bahkan, Nabi Muhammad dikenal sebagai seorang yang ummi, sebagaimana masyarakat Arab Quraish pada masa itu. Kata “ummi”, ditafsirkan oleh mayoritas mufassir, yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan membuktikan Intelligence Quotient (kecerdasan intelektual) Nabi Muhammad berdasarkan Hadis-hadis.Intelligence Quotient menurut Kecerdasan intelektual menurut Robbins adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.Sementara menurut Ree, Earles, & Teachout mengacu pada kemampuan individu untuk bertindak secara mental, seperti berpikir dan merenungkan. Kecerdasan intelektual diklasifikasikan ke dalam dua kategori: kemampuan kognitif umum dan kemampuan khusus. Umumnya, G-faktor yang dikenal sebagai kemampuan kognitif berarti, misalnya, kemampuan individu untuk berpikir dan ingat, sedangkan S-faktor adalah kemampuan khusus dari seorang individu.Jenis penelitian ini adalah librarly research, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis, menggunakan pendekatan ilmu Hadis, psikologi, dan sejarah. Peneliti dalam hal ini, telah membuktikan beberapa Hadisyang menjelaskan kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi SAW., seperti bagaimana Nabi SAW. menghafal ayat-ayat Allah dengan cara menghafalnya di dada, tidak dengan tulisan, yang membuktikan kekuatan hafalan dan ingatannya; bagaimana Nabi mempersaudarakan suku Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan dan berperang satu sama lain, juga mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar di Medinah. Menunjukkan kecerdasan berfikir Nabi dalam menyelesaikan masalah-masalah besar; bagaimana Nabi berbicara kepada orang dengan menyesuaikan kemampuan akalnya, bagaimana Nabi berkomunikasi dengan jelas dan analogi-analogi yang logis dan sangat mudah  difahami, bagaimana Nabi menalar, dan berhitung dengan cepat dan tepat, kesemuanya menunjukkan indikator-indikator kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi.
Universalitas Ajaran Islam fadhlina arief wangsa
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.968 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v10i1.10065

Abstract

Penjelasan tentang konsep Studi Islam Komprenhensif  dalam perspektif Qur’an dan Hadis Nabi SAW. menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang Universal. Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang, golongan dan negri tertentu. Islam adalah nama yang diberikan oleh Allah SWT. yang tidak hanya mendatangkan rahmat bagi manusia, tetapi lebih dari itu, Islam datang untuk rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya bagi manusia, tapi juga binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lingkungan alam semesta. Di sisi lain, Islam juga merupakan ajaran yang sempurna dan menyeluruh yang mengatur keseimbangan hidup, antara dunia dan akhirat, membahas aspek-aspek kehidupan secara menyeluruh. Hadis yang terkait dengan berbuat baik pada hewan sembelihan, dengan cara menajamkan pisau, larangan menelantarkan tanah. Demikianlah ajaran Islam, yang tak dapat dilihat atau difahami secara parsial saja, yang dikhawatirkan akan menimbulkan kesalah fahaman tentang Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh.