This Author published in this journals
All Journal Kapata Arkeologi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Menelusuri Keberadaan Budaya Hindu-Budha pada Masyarakat Maluku Tenggara Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 1 No. 1 Agustus 2005
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v1i1.18

Abstract

No Abstract
Tradisi Penguburan Prasejarah di Desa Aboru Pulau Haruku Maluku Tengah Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 2 No. 2 Juli 2006
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v2i2.26

Abstract

No Abstract
Tinggalan Megalitik di Desa Tuhaha Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 2 No. 3 November 2006
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v2i3.39

Abstract

No Abstract
Megalitik di Maluku Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 3 No. 4 Juli 2007
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v3i4.59

Abstract

Tradisi megalitik di Indonesia menandai lahirnya kepercayaan masyarakat prasejarah akan adanya suatu kekuatan yang menggerakkan alam semesta serta makhluk di dalamnya. Salah satu bentuknya adalah percaya terhadap arwah leluhur yang turut berperan dalam kehidupan manusia untuk mendatangkan kemakmuran maupun malapetaka. Peninggalan arkeologi bercorak megalitik merupakan bukti yang dapat menggambarkan tentang kehidupan manusia pada masa berjayanya tradisi tersebut.
Peninggalan Kolonial di Kampung Makian Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 3 No. 5 November 2007
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v3i5.70

Abstract

Mace Producer or recognized with term spice island, Moluccas become Europe nations capture. Initially Portugis, later; then Spanyol and Dutch. Occupying Footstep nation Europe can be traced [by] through archaeological ommission [is] which leaving of. Moluccas represent very rich region with colonial epoch ommission. This article try to lift somes archaeology ommissiion from a period of to colonial which is there are Kampung Makian, one of countrified in Bacan, South Halmahera. Archaeological data in Kampung Makian show the regional role at a period of colonial.
Situs Lukisan Cadas di Desa Wamkana Kabupaten Buru Selatan Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 5 No. 8 Juli 2009
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v5i8.111

Abstract

No Abstract
Jejak Permukiman Kuno di Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tala Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 6 No. 10 Juli 2010
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v6i10.134

Abstract

No Abstract
Suku Huaulu di Seram Utara Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 7 No. 12 Juli 2011
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v7i12.160

Abstract

No Abstract
Tradisi Megalitik dan Sistem Nilai Budaya Maluku Marlyn Salhuteru; Lucas Wattimena
Kapata Arkeologi Vol. 7 No. 13 November 2011
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v7i13.169

Abstract

Kepulauan Maluku memiliki tinggalan arkeologis yang sangat kaya dan melimpah tersebar ke seluruk pelosok daerah di Maluku. Kekayaan sumberdaya budaya arkeologis menjadikan substansi identitas sebagai bangsa yang berbudaya, berbangsa dan bertanah air. Tradisi megalitik merupakan suatu sumberdaya budaya arkeologi yang perlu untuk dijaga, dipelihara serta dirawat. Sebab tradisi megalitik masyarakat Maluku adalah kesatuan sistem nilai budaya yang berkelanjutan (tradisi berlanjut) yang selalu terintegrasi dalam siklus masyarakat Maluku yang dahulu, sekarang maupun pada masa-masa mendatang.
Situs Permukiman Kuno di Waeyasel Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 8 No. 2, November 2012
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v8i2.187

Abstract

Situs permukiman kuno yang terdapat di dusun Waeyasel, penduduk setempat menyebutnya Kota Mulu adalah sebuah dataran di antara bukit karang yang cukup terjal. Penduduk di sekitar situs meyakini bahwa Kota Mulu adalah lokasi permukiman masyarakat Waeyasel pada masa lampau. Tim penelitian Balai Arkeologi Ambon melakukan penelitian di situs ini dengan menerapkan metode survei permukaan bertujuan untuk mendata dan mendokumentasikan sebanyak mungkin data arkeologi. Penelitian ini  menghasilkan sejumlah data arkeologi yang berciri megalitik berupa dolmen, sejumlah fragmentaris keramik lokal maupun keramik asing, dan sebuah makam. Sementara dapat disimpulkan bahwa situs kota mulu adalah situs permukiman yang didalamnya juga berlangsung kegiatan sakral sesuai dengan kepercayaan penghuninya, yang dibuktikan dengan keberadaan dolmen sebagai media upacara megalitik. Sedangkan keberadaan makam pada situs ini oleh penduduk sekitar dikatakan merupakan makam dari seorang pesiar agama Islam yang menyebarkan ajaran agama di waeyasel dan sekitarnya. Beliau kemudian meninggal dan dimakamkan di lokasi ini. Site of ancient settlements located in the hamlet Waeyasel, the locals call it the City Mulu is a plateau in between fairly steep cliff. Residents around the site believes that the City Mulu is Waeyasel community settlements in the past. Ambon Archaeological Institute research team conducted research at this site by applying the method of surface survey aims to assess and document the archaeological data as much as possible. This study resulted in a number of archaeological data, characterized by megalithic dolmen form, a number of fragmentary local and foreign ceramics ceramics, and a tomb. While it can be concluded that the site Mulu city is the site of settlements which also takes place in accordance with the trust sacred activity occupants, as evidenced by the presence of megalithic dolmen as a media ceremony. While the existence of the tomb on this site by people around say is the tomb of a cruise Islam spread religion in Waeyasel and surrounding areas. He then died and was buried at this location.