Articles
Tayangan Arkeologi di Televisi: Catatan Ringan tentang Sebuah Peluang
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 7 No. 13 November 2011
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v7i13.170
Fenomena selama dekade terakhir menunjukan kecenderungan meningkatnya tayangan bertema arkeologi pada televisi nasional dan lokal di Indonesia. Meskipun kuantitas dan kualitasnya masih jauh dibanding tayangan sejenis di kanal-kanal internasional, kemajuan ini perlu direspon secara positif. Tulisan ini mencoba mengulas fenomena ini sebagai sebuah peluang bagi pengembangan studi arkeologi di Indonesia.
Survei Arkeologis di Kawasan Halmahera Bagian Tengah
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 9 No. 1, Juli 2013
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v9i1.196
Halmahera is one main island in the northeast region of Wallacea. Having a uniquely environmental profile, Halmahera also serves as a home for a long cultural historical process of this region. Including for archaeological studies. Numbers of preliminary studies have been conducted to understand the dynamic of region’s culture in the past. Unfortunately, the quantity and the depth of these studies have not equivalent to the colossal potential of Halmahera’s culture history. This research is a part of the efforts to contribute in completing our knowledge on the dynamics of culture history in Halmahera. Focus of this research is to identify the archaeological potential in the geographic area of Central Halmahera. The opening of the large scale nickel mines in this region which is potentially threaten the preservation of the cultural heritage is the main consideration in chosing the research locus. Prelimenary survey has been adopted as an approach in this research. This study found that the region of Central Halmahera is a high potentially area for archaeological research according to the large coverage of the karst area in this region. Rescue and preservation action of sites in the mining area is absolutely necessary in order to maintaining the existence of all cultural heritage in the region.Halmahera merupakan salah satu daratan utama di timur laut kawasan Wallasea. Tidak hanya memiliki profil lingkungan yang khas, Halmahera juga merupakan rumah bagi proses panjang sejarah budaya kawasan. Termasuk bagi studi arkeologis. Berbagai kajian awal telah dilakukan untuk memahami dinamika budaya masa lalu di wilayah ini. Meski demikian kuantitas dan kedalamannya kiranya belum berbanding lurus dengan potensi raya sejarah budaya Halmahera sebagai sebuah kawasan. Kajian ini merupakan bagian dari upaya dalam berkontribusi melengkapi pengetahuan terkait dinamika sejarah budaya di wilayah Halmahera. Fokus penelitian diarahkan untuk menemukan segenap potensi arkeologis dalam lingkup geografis Halmahera Bagian Tengah. Pembukaan tambang nikel berskala besar di wilayah ini yang mengancam kelestarian warisan budaya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penentuan lokus. Survei penjajakan diadopsi sebagai metode dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa wilayah Halmahera Tengah memiliki potensi tinggi secara arkeologis mengacu pada bentang luas kawasan karst yang potensial sebagai hunian masa lalu dan segenap jejak tradisi yang masih melekat dalam keseharian masyarakat. Tindakan penyelamatan dan pelestarian atas situs-situs dalam pertambangan nikel mutlak diperlukan untuk menjaga eksistensi segenap warisan budaya dalam kawasan.
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 9 No. 2, November 2013
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v9i2.204
The Aru islands is one of the key regions in the cultural historical study of Southeast Asia and Australia. This major role is represented at least by two aspects: firstly, the paleogeographical character of the Aru Islands as an extension of Sahul land that included New Guinea and Australia and secondly the role as a resource regio for exotic commodities such as pearl and bird of paradise. With this specific profile, Aru islands is potential to be studied archaeologically. Few archaeological studies had been initiated over last decade but still not balance with the colossal profile of regoin’s cultural history. This study tries to contribute in improving such condition by focusing on the archeological potential in the kobror island. As an initial study, this research has adopted the reconnaissance survey as a key method to collect data. Referential study also has been adapted to reconigze the historical background of the region. This study found that two major aspects : firstly, the prehistotic character of the archaeological profile of the region as represented by the presence of a rock art sites and secondly, living tradition as reflected by the representation of cave burial that associated with the application of boat as a symbol and traditional religion.Kepulauan Aru adalah salah satu kawasan terpenting dalam studi sejarah budaya di Asia Tenggara dan Australia. Peran penting ini setidaknya diwakili oleh dua aspek: pertama, karakter paleogeografi Kepulauan Aru yang merupakan bagian dari perluasan daratan besar Sahul yang mencakup juga Papua dan Australia serta kedua, peran khas wilayah ini sebagai salah satu kawasan sumber komoditi eksotik seperti mutiara dan bulu burung cendrawasih. Dengan profil yang sedemikian kepulauan ini sejatinya memiliki potensi arkeologis yang cukup raya untuk dikaji. Beberapa penelitian arkeologis pada tahap mula memang telah dilaksanakan. Namun dirasa belum berbanding lurus dengan luasnya cakupan sejarah budaya wilayah ini. Tulisan ini mencoba untuk mengisi ruang dimaksud dengan memberi perhatian pada tinjauan atas potensi arkeologis yang ada di Pulau Kobror Kepulauan Aru. Sebagai sebuah kajian yang bersifat inisiasi, pendekatan yang digunakan adalah survei penjajakan guna merekam segenap data arkeologis yang ada di wilayah Kobror. Kajian pustaka juga dilakukan untuk menemukan kerangka historis wilayah kajian. Hasil penelitian menemukan aspek penting dalam tinjauan sejarah budaya di Kepulauan Aru: pertama adalah jejak budaya prasejarah yang teramati lewat situs lukisan cadas dan kedua, ragam tradisi berlanjut sebagaimana terekam dalam situs penguburan kuno yang tekait dengan aplikasi perahu sebagai simbol dan religi tradisional.
Pengetahuan Arkeologi sebagai Muatan Lokal: Penerapannya di Maluku
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v10i1.214
Diversity is essentially an element that unites Indonesia. The broad geographical character of the region and the complexity of its cultural profile has established a nation with such a colorful appearance. An ability to manage this major diversity has become an absolute requirement as a country. The sensitivity to identify any specific needs of each element of the nation would always be an aspect that must be reviewed and reshaped periodically. Which is also included the need in the education sphere. Local content may be considered as a national solution to answer the breadth dimension of necessity in the school level for the teaching materials that linked with the local characteristics. Connected to this aspect is the interest to provide the knowledge of local culture. Archaeology is a discipline that adequate to share this strategic role for public. This article tries to discuss the contribution of the archaeological study in the development of local content in Moluccas. Literature study have been chosen as an approach to collect data. This study found that archaeology is potential to be developed as a part of local content material in Moluccas.Keberagaman sejatinya adalah elemen yang menyatukan Indonesia. Bentang luas geografis dan wajah kompleks budaya nusantara telah membentuk suatu bangsa dengan warna yang begitu raya. Maka kemampuan untuk mengelola kebhinekaan menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki sebagai negara. Kepekaan untuk menemukenali kebutuhan-kebutuhan spesifik setiap elemen bangsa kiranya menjadi aspek yang senantiasa harus ditinjau dan dibentuk kembali. Termasuk kebutuhan dalam ranah pendidikan. Muatan lokal pada hakekatnya merupakan solusi nasional dalam menjawab luasnya dimensi kebutuhan di tingkat sekolah akan materi yang bertautan dengan karakteristik daerah. Melekat dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyajikan pengetahuan budaya lokal. Arkeologi juga menjadi bidang yang dituntut berbagi peran dimaksud. Tulisan ini mencoba untuk mendiskusikan kontribusi studi arkeologi dalam pengembangan muatan lokal di Maluku. Studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam pengumpulan data. Kajian ini menemukan bahwa arkeologi dan pengetahuan sejarah budaya potensial untuk dikembangkan sebagai bagian dari materi muatan lokal di Maluku.
Peneliti Arkeologi di Indonesia: Antara Idealisme dan Kenyataan
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v11i1.281
The archaeological research in Indonesia is in positive progress in the last years. This situation is reflected by the increasing of public and media interest in the archaeological and cultural historical research activity. A main factor which is determine the quality of research result and the performance of the archaeological institution is the human capital. The quality and competence of researcher serve as the main factors in developing archaeological research institution in Indonesia. This paper will discuss the performance of archaeology researchers in Indonesia with the main focus on the researcher in Balai Arkeologi Ambon. Analysis on the perfomance was conducted based on the synopsis of National Research Result Evaluation 2013. We hope that this paper might serves as the discussion medium to evaluate the performance of archaeological research and develop solution for the better perfomance in the future.Penelitian arkeologi di Indonesia semakin berkembang selama tahun-tahun belakangan. Hal mana tercermin dari meluasnya perhatian masyarakat dan media atas aktifitas riset arkeologi dan sejarah budaya. Hal mana juga berimplikasi pada meningkatnya ekspektasi publik atas hasil penelitian. Salah satu faktor kunci yang menentukan kualitas hasil penelitian dan kinerja lembaga riset termasuk bidang arkeologi adalah sumber daya manusia. Kualitas kemampuan dan kompetensi peneliti merupakan penentu kinerja dan capaian institusi penelitian arkeologi di Indonesia. Makalah ini membahas mengenai tinjauan atas kinerja peneliti arkeologi di Indonesia dengan fokus pada kinerja peneliti di Balai Arkeologi Ambon. Telaah atas kinerja dilakukan dengan mengacu pada tujuh parameter kinerja yang disampaikan dalam sinopsis kegiatan Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi Nasional 2013. Diharapkan makalah sederhana ini bisa menjadi ruang diskusi untuk melakukan evaluasi kinerja peneliti arkeologi dan membangun solusi bagi kinerja yang lebih baik ke depan.
Abad Baru Purbakala: Memilih Arah Menentukan Peran Penelitian Arkeologi di Maluku
Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 2, November 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/kapata.v11i2.288
A year has passed since the celebration of 100th years of Indonesian archaeology. On June 14th 2013, this golden moment was commemorated by institutions and individuals. The nostalgic euphoria has been transformed into the festive spirit of various events. Ranging from seminars to exhibitions. From small gatherings to the colosal stages. There is a pride that rised from the establishment of this 100th anniversary. This article tries to discuss the current situation in the Indonesian archaeology by dissect the anatomy of archaeological research in the Moluccas Archipleago. The ideas disscussed will cover the review of archaeological research in the Moluccas historically; followed by observing the recent activities to understand the impacts of archaeological research for the region and its communities; and finally initiate the discussion on choosing the direction and the role of archaeological research for the academic and social purpose in the near future.Tak terasa hampir setahun telah dilewati sejak perayaan satu abad purbakala Nusantara. Tepat tanggal 14 Juni 2013 silam, momentum emas ini diperingati segenap insan arkeologi Indonesia. Gempita nostalgia dikemas menjadi semangat perayaan dalam berbagai kegiatan. Mulai dari seminar sampai pameran. Sekedar sukuran hingga pentas kolosal. Ada kebanggaan yang membuncah dari angka mapan usia ke-100. Kini pesta telah usai. Segalanya kembali senyap. Rasanya tepat untuk mulai merenung. Tentang makna menjadi lembaga dengan umur yang bahkan lebih sepuh dari negara. Memikirkan kembali kiprah pun capaian. Menemukenali kekurangan dan kendala. Adakah arkeologi akan terus mengalir dengan wawasan klasik business as usual? Ataukah memilih bercermin pada jernih kondisi kekinian dan bergegas membenahi diri? Makalah ini mencoba mengamati kondisi terkini arkeologi nasional dengan membedah anatomi penelitian arkeologi di Kepulauan Maluku dalam kerangka kronologis. Alur gagasan yang dibahas mencakup tinjauan atas rekam historis penelitian yang membentuk wajah arkeologi Maluku; dilanjutkan dengan mengamati aktivitas masa kini guna melihat aktualisasi studi arkeologi bagi kemajuan wilayah dan masyarakat; serta membuka ruang diskusi tentang memilih arah dan menentukan peran penelitian arkeologi bagi tujuan akademis dan sosial di masa mendatang.
ARKEOLOGI KAWASAN TAPAL BATAS: KONEKSITAS KEPULAUAN MALUKU DAN PAPUA
Marlon NR Ririmasse
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (54.191 KB)
|
DOI: 10.24832/papua.v3i1.92
Maluku and Papua are two areas with the specific characters that geogaphically slocated close to each other. As an archipelagic region Maluku has a dominant maritime background while Papua shows a large and complex continent profile. The specific character as a region has made Maluku became the part of an ecological terminal between Asia and Australia known as Wallacea. Papua, which was the part of Greater Australia Continent in the past, has the similar role as a main corridor to the Pacific. This similarity has made the role of these two region is important in the study of cultural history of Southeast Asia , Australia and the Pacific Islands. This paper is a short review to observe the connecting aspects of Maluku Archipelago and Papua as a border area in the study of regional archaeology.
PEMUJAAN LELUHUR DI KEPULAUAN MALUKU TENGGARA: JEJAK BUDAYA MATERI DAN PERANNYA BAGI STUDI ARKEOLOGI KAWASAN
Marlon NR Ririmasse
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (629.962 KB)
|
DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.153
AbstrakPemujaan leluhur adalah salah satu aspek penting dalam konstruksi sosial masyarakat masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Model kepercayaan tradisional ini berlangsung setidaknya hingga pergantian abad ke-20 menyusul introduksi agama modern di wilayah ini. Praktek pemujaan leluhur juga dimanifestasi secara materi dalam ragam produk budaya masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Tulisan ini mencoba untuk meninjau kembali aktivitas pemujaan leluhur masa lalu dalam kawasan dan secara khusus berusaha mengamati bentuk-bentuk representasi material atas aktivitas khas ini. Diskusi atas peran tema spesifik ini dalam studi arkeologi akan dihadirkan untuk melengkapi opsi tema penelitian yang sejalan dengan karakter Kepulauan Maluku Tenggara. Observasi lapangan dan studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa pemujaan leluhur dipraktekkan secara luas pada masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Wahana pemujaan umumnya ditampilkan dalam bentuk patung dengan ciri beragam antarsatu komunitas dengan komunitas lainnya serta berasosiasi dengan rencana ruang tradisional. Akhirnya, pengetahuan spesifik terkait religi masa lalu ini dapat menjadi wahana untuk memperkaya kedalaman kajian arkeologi dan sejarah budaya dalam kawasan. Abstract Ancestor worship is one of the important aspects in social construction of past society in Southeast Maluku Islands. This traditional model of beliefs lasted, at least, up to the change of 20th century following the introduction of modern religions in the region. It is manifested materially in various products of past culture. The purpose of this research is to review past ancestor-worship activities in the region and, specifically, try to observe forms of material representations of this unique activity. The author presents discussion on the role of this specific theme in archaeological study in line with characteristics of the Southeast Maluku Islands. Field observation and bibliographical study are chosen for this study. The author finds that ancestor worship was practiced vastly in Southeast Maluku Islands in the form of statues that had various characteristics from one community to another, and it was associated with the traditional space design. It is hoped that this research would become a way to enrich the depth of archaeological study and culture history in a region.