Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Budaya Makan di Luar Rumah di Perkotaan Jawa pada Periode Akhir Kolonial Gregorius Andika Ariwibowo
Kapata Arkeologi Vol. 12 No. 2, November 2016
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v12i2.322

Abstract

Eating out behavior is one of picturesque studies which reviewing about people behavior and life style. This article developed from author thesis which described about culinary culture in Javanese Cities during late colonial era. This development is done by inserting Alan Warde and Lydia Martens concept that’s research about eating out culture in England. They resumed that eating out behavior related with pleasure and amusement. According with that concept this research will describe about how eating out behavior provide an influence to life style behavior on Javanese urbans people, especially for elite and middle class society. This study used Historical studies method that focus on research of mass media, advertisement publicity, and traveloque from that’s period. This study inference that eating out culture and behavior not just related with need complianced but furthemore to show a behavior and life style which  measure to a social and cultural symbol for the subject. Perilaku makan di luar rumah merupakan salah satu kajian yang menarik terutama dalam mengkaji mengenai perilaku dan gaya hidup dalam masyarakat. Kajian merupakan pengembangan dari tesis penulis yang sebelumnya membahas mengenai budaya makan d perkotaan Jawa pada periode kolonial. Pengembangan ini dilakukan dengan memasukan konsep Alan Warde dan Lydia Marteens yang mengkaji mengenai budaya makan luar rumah di Inggris. Mereka menyimpulkan bahwa perilaku makan di luar rumah berkaitan dengan perilaku kesenangan dan hiburan. Maka berdasarkan konsep tersebut pada tulisan ini dibahas hal mengenai bagaiamana pengaruh perkembangan budaya makan di luar rumah dalam keterkaitan dengan perilaku gaya hidup masyarakat perkotaan Jawa, terutama bagi kalangan elit dan menengah. Kajian ini menggunakan metodologi ilmu sejarah dengan menggunakan sumber-sumber dari media massa, iklan, dan jurnal perjalanan yang berasal dari periode tersebut.  Hasil dari kajian ini bahwa perilaku dan budaya makan di luar rumah tidak saja terkait dengan pemenuhan kebutuhan, namun juga menampilkan perilaku dan gaya hidup yang memberi simbol dari status sosial dan budaya dari  pelakunya.
KOTA KOSMOPOLITAN BANTEN PADA MASA KEJAYAAN JALUR REMPAH NUSANTARA ABAD XVI HINGGA ABAD XVII Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v13i2.800

Abstract

Abstrak Kota kosmopolitan merupakan bagian atau simpul dari jaringan-jaringan transnasional yang terbentuk dari aktivitas ekonomi dan perdagangan, dimana kemudian terciptalah berbagai interaksi dan pertukaran budaya, ide, dan beragam aktivitas manusia. Kehidupan kosmopolis yang tercipta di Banten telah memberikan warna dalam sejarah Jalur Rempah Nusantara. Toleransi dalam keberagaman dan kemajemukan yang tercipta di kota-kota pelabuhan di sepanjang garis pantai Nusantara selama masa kejayaan Jalur Rempah merupakan nilai penting dalam melihat Indonesia pada masa kini. Kajian ini secara lebih dalam akan melihat seperti apakah rupa dari keberagaman yang tercipta di Banten? serta bagaimanakah mereka dapat saling menjaga keberagaman ini sehingga mampu menjadikan Banten sebagai pelabuhan kosmopolitan yang kaya pada masa tersebut?. Banten menurut Anthony Reid merupakan salah satu contoh dari kota yang berhasil memadukan kemajemukan-kemajemukan yang hidup dan tinggal di dalamnya. Kondisi ini menurut Reid disebabkan oleh keberhasilan kota-kota tersebut dalam menarik para pedagang asing dan orang-orang kaya untuk bergantung kepada mereka. Keduanya dalam beberapa hal terintegrasi menjadi elit yang dominan dan menciptakan kemajemukan budaya yang memungkinkan terselenggaranya perdagangan. Kota pelabuhan Banten telah menjadi kota perdagangan terbuka yang disinggahi oleh berbagai pedagang dari berbagai negeri di Nusantara dan Asia. Banten dalam pandangan Emily Erikson ketika itu merupakan kota yang memang dibangun dan dikelola untuk menjadi sebuah kota dagang yang terbuka bagi berbagai bangsa. Kata Kunci: Kesultanan Banten, Perdagangan Lada, Kosmopolitan, Jalur Rempah, Keberagaman Abstract A cosmopolitan city is a part or node of transnational networks that form by economic and trade activities, which then creates various interactions and exchanges of culture, ideas, and various human activities. The cosmopolitan life in Banten has given a unique color to the history of the Nusantara Spice Route. Tolerance in diversity and plurality that was creating in port cities along the coastline in the Indonesia archipelago during the heyday of the Spice Route era is a high-and-mighty value in seeing Indonesia today. This study will see what kind of diversity that was creating in Banten?, and how they could mutually maintain this diversity to make Banten became a fortune cosmopolitan port at that time? Anthony Reid said that Banten was an example of a city that has succeeded in combining the diversity that lives and lives in it. This condition, according to Reid, was caused by the success of these cities in attracting foreign traders and fortune people to depend on them. In some ways, both are integrated into a dominant elite and create cultural pluralism that makes trade possible. The port city of Banten has become an open trading city visited by various traders from various countries in the archipelago and Asia. Banten, in Emily Erikson's view, was a city that was built and managed to become an open trading city to various nations. Keywords: Banten Sultanate, Pepper Trade, Cosmopolitan, Spice Route, Diversity
Tinjauan Buku: Art, Trade, and Cultural Mediation in Asia Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.173 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.609

Abstract

SATU KAMPUNG TIGA MAESTRO: JEJAK WARISAN BUDAYA DI KOTA BENGAWAN Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v13i2.861

Abstract

AKTIVITAS EKONOMI DAN PERDAGANGAN DI KARESIDENAN LAMPUNG PADA PERIODE 1856 HINGGA 1930 Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.69 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.361

Abstract

Letaknya yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera menjadikan wilayah Lampung sebagai titik penting dalam arus perdagangan Jawa-Sumatera. Pada masa kolonial wilayah merupakan salah satu daerah penghasil utama komoditas ekspor Hindia Belanda. Kajian ini ingin melihat bagaimana bentuk dan gambaran dari aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Lampung pada periode 1856 hingga 1930?. Di samping itu kajian ini juga ingin melihat pembangunan sarana fisik apa sajakah yang dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk menunjang kegiatan ekonomi di Lampung?. Kajian ini bertujuan untuk menambah khasanah kajian sejarah ekonomi di wilayah Lampung yang selam ini masih sedikit mendapatkan perhatian. Memiliki wilayah yang subur dan luas telah menjadikan Lampung sebagai salah satu pusat komoditas sumber daya alam di Hindia Belanda. Komoditas alam seperti lada, kopi, tembakau, dan karet menjadi penunjang bagi berkembangnya ekonomi dan perdagangan. Pemebenahan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah kolonial memberikan pengaruh baik bagi pengembangan ekonomi di wilayah ini. The location on the southern tip of Sumatra Island makes the Lampung region as an important point in the Java-Sumatra trade flow. In the colonial period the region was one of the main producing areas of the Dutch East Indies export commodities. This study would like to see how the shape and picture of economic and trading activity in the area of Lampung in the period 1856 to 1930. In addition, this study also wants to see the type of physical development done by the colonial government to support economic activities in Lampung . This study aims to increase the repertoire of the study of economic history in the Lampung region which has received a little attention. Having a fertile and extensive area, has made Lampung as one of the centers of natural resource commodities in the Dutch East Indies. Natural commodities such as pepper, coffee, tobacco, and rubber are supporting the development of economy and trade. The improvement of infrastructure carried out by the colonial government had a good influence on economic development in this region.