This Author published in this journals
All Journal Humaniora
IB Putera Manuaba
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Novel-novel Pramoedya Ananta Toer: Refleksi Pendegradasian Dan Interpretasi Makna Perjuangan Martabat Manusia IB Putera Manuaba
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.317 KB) | DOI: 10.22146/jh.795

Abstract

Satu gejala sosial yang merebak dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pendegradasian martabat manusia. Gejala ini sesungguhnya telah berlangsung sejak lama. Akan tetapi, selama ini belum tampak dilakukan penanganan yang serius sehingga pendegradasian martabat manusia hampir berlangsung terusmenerus. Di era "reformasi" yang konon mulai memperhatikan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, ternyata kita masih menyaksikan berbagai tindakan pendegradasian martabat manusia dalam pelbagai segmen kehidupan ini. Dengan perkataan lain, sampai saat ini, kita menyaksikan masyarakat yang masih belum dapat menunjukkan sikap hidup dan kepribadian yang mencerminkan penghormatan kepada martabat manusia. Buktinya, berbagai daerah di Tanah Air masih sarat dengan tindakan kekerasan (violence) atas kemanusiaan. Fenomena pendegradasian ini secara kental terefleksikan dalam novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut: Toer), seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan merupakan salah satu pihak yang berkomitmen melakukan peningkatan martabat manusia. Lewat representasi realitas sosial dalam karya-karya sastranya, tampak Toer melontarkan berbagai pemikiran yang sarat dengan pesan-pesan (message) perjuangan dan penghargaan kemanusiaan. Toer adalah sastrawan yang fenomenal dan menarik dibahas berkait dengan persoalan perjuangan martabat manusia (Heryanto, 1998:5; Manuaba, 2000a:144- 145). Menarik bukan hanya karena karyakaryanya dalam waktu yang cukup lama dilarang penguasa, melainkan terutama karena dipandang mampu menyuguhkan refleksi pengangkatan martabat manusia. Jika disimak karya-karya Toer, hampir keseluruhan karyanya bertemakan soal kemanusiaan (humanity).