Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi anak. Baik dan buruk pendidikan yang diberikan oleh keluarga akan berdampak kepada perkembangan anak, salah satunya perkembangan sosial emosional anak. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana perkembangan sosial emosional anak dari keluarga yang bercerai di Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku anak dari keluarga yang bercerai di Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi subjek berjumlah lima orang anak yang berusia lima-enam tahun dan wawancara dengan masing-masing orang tua anak. Hasil analisis data menunjukkan keluarga yang bercerai memberi dampak buruk untuk perkembangan anak, salah satunya perkembangan sosial emosional anak yaitu anak yang berasal dari keluarga yang bercerai di Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya kurang dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, mengalami tekanan, kekerasan, emosi dan perilaku yang tidak terkontrol. Kesimpulannya anak dari keluarga yang bercerai perkembangan perilakunya cenderung kurang baik dikarenakan kurang mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya. Perilaku yang kurang baik terlihat dari ekspresi yang ditunjukkan anak, yaitu emosi dan perilaku yang berlebihan, emosi yang tidak terkontrol dan egois, rasa frustrasi yang menghantui jiwanya, serta pemalu dan tidak bisa menerima keadaannya. Diharapkan orang tua dapat menjalin komunikasi yang lebih baik lagi dengan anak, bertanggung jawab, mendampingi anak, dan sebaiknya tidak melakukan perceraian agar perkembangan anak tidak terhambat dan memberi penjelasan kepada anak tentang apa yang terjadi di dalam keluarga.