M. Maimun
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Al-Falah dan Al-Farah (Studi Ma’anil Qur’an dan Tafsir Tematik dalam Tafsir Al-Azhar) Siti Fajriyah; Didi Junaedi; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.583 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1150

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna dari beberapa variasi lafaz al-falah dan beberapa variasi lafaz al-farah . Meskipun keduanya memiliki persamaan makna umum yaitu bahagia, namun tidak sedikit ulama yang membedakan makna secara rinci dari kedua istilah tersebut. Secara singkat, pengertian al-falah merupakan kebahagiaan, keberhasilan atau keselamatan yang baik. Bahkan tidak jarang diartikan dalam al-Qur’an sebagai makna kemenangan. Dan pengertian dari al-farah  adalah kegembiraan, kesenangan yang baik pula namun sifatnya tidak sampai terus menerus ke pemaknaan bahagia ukhrawi.Selain menguraikan makna perbedaan secara umum dari kedua istilah kata tersebut, penelitian ini juga menyimpulkan perbedaan makna kedua istilah tersebut menurut pemikiran Hamka dari kitab tafsirnya yaitu al-Azhar yang dituangkan menggunakan tartib nuzuli makkiyah madaniyah dari ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung makna bahagia. Al-falah dan al-farah  sama-sama dapat dirasakan setelah mendapatkan sesuatu yang dimaksud, namun al-falah diartikan sebagai kebahagiaan yang terpuji sedangkan al-farah  lebih diartikan kepada makna gembira yang condong kurang terpuji.Kata Kunci: Bahagia, al-falah, al-farah , Hamka
MAKNA WALI DAN AULIYĀ’ DALAM AL-QUR’AN (Suatu Kajian dengan Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu) Ismatilah Ismatilah; Ahmad Faqih Hasyim; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.825 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1144

Abstract

In Indonesia context, the term wali and Auliya 'only have two meanings, those are wali as parents and wali as the close one with Allah and has peculiarity that other people do not have or wali is defined according to tasawuf, such as wali songo. However, in the holy Qur'an the word wali and auliya have different meaning depend on the relation of sintagmatik that is used in a word. So that, the researcher analyze the meaaning wali and Auliya.The formulation of this research are 1) how is the meaning of wali and Auliya 'in the holy Qur’an? And 2) how is the basic meaning and word relational meaning of wali and Auliya 'in the holy Qur'an?The purpose of the research are: 1) to know the meaning of wali and Auliya in the holy Qur'an and 2) to know the basic meaning and relational word meaning of wali and Auliya'.This research is qualitative and what kind of research is a library to discuss the book, both in primary and secondary books that explain the semantic word guardian and Auliya 'in the Qur'an. The approach of this research is the semantic approach offered Toshihiko Izutsu. steps in the research is to determine the word that will be studied the meaning and concepts contained in it, tracing the roots of the word, transformation, and change the meaning, outlining categories of semantic guardian and Auliya 'according to the condition of the wearer, and compose semantic field to obtain an illustration or picture clearer about the meaning of a word.The results of this study is the first meaning of the word meaning guardian pick up close. The second is based on relational meaning, in the Qur'an the word guardian and Saints have various meanings of which are helper, protector, friend, leader, ruler, children, heirs, lover, coreligionists, and the close is righteous. In the development of meaning, the word guardian at the time of the Pre-Qur'anic means master, people who have power over something. At the time of Qur'anic word guardian and Saints have meaning as disbutkan above.The meaning of the word guardian and Auliya 'in the post-Qur'anic evolving in the context Indonesiaan is the first guardian of Sufi pandangn corner meaningful person who received special protection. because obedience to God. God has the absolute right to choose his servant to be a trustee. Both from the standpoint of jurisprudence family, guardian meaningful words the person who has the authority to perform a contract, guardian of marriage. Third from a social standpoint in meaningful parent / father or mother and meaningful leaders, such as mayors. Key words: wali, auliyā’, semantic, Qur’an.
Penafsiran Imam Nawawi al-Bantani Tentang Jin (Kajian Tematik dalam Tafsīr Marāh Labīd) M Amin Mubarok; Didi Junaedi; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.427 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1153

Abstract

All religiouns believe in the existency of the spirit of jin. Long before the existency of Islam, religiouns like Majusi, Yahudi, and Christiany too believe in the existency of the jin. Based on the above believe the mayority of muslim and non muslim will believe the existency named jin. But minority of muslim like of the filosof and a part of mu’tazilah wish the existency of the spiritual creature named jin.  After all, the term jin is always meantioned in the Holy Qur’an. The above meationed term erouse many debate to fine out the actual meaning and to understand accureatly . based on the above  fenomenal the writer feels attracted to investigate the meaning of jin in the al-Qur’an and to compare the translition of the word jin found in tafsir marāh labīd cretion of Imam Nawawi al-Bantani. By understanding the cretion of Imam Nawawi al-Bantani, it is expected to give the meaning of jin more preacisely and to understand  the translition implemented by Imam Nawawi al-Bantani about the jin especially when compared with the present. Keyword: Jin, Tafsir Marāh Labīd, al-Qur’an
Penafsiran Mirza Bashiruddin Tentang Ayat-Ayat Penyaliban, Kewafatan Dan Kebangkitan Nabi Isa as. (Kajian Tematik Dalam Tafsir Shaghir) Makmuri Makmuri; Didi Junaedi; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.077 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1146

Abstract

Jemaat Ahmadiyah merupakan aliran dalam agama Islam yang mempunyai berbagai “kepercayaan” yang berbeda dengan mayoritas umat Islam lainnya. Di antara “kepercayaan” yang seringkali menjadi polemik itu adalah hal yang berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat yang terkait dengan tentang penyaliban, kewafatan, dan kebangkitan Nabi Isa as. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penafsiran Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, sebagai salah satu tokoh Ahmadiyah terhadap ayat-ayat tentang Nabi Isa a.s.Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif yang merujuk pada sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah kitab Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid) dan sumber sekunder adalah buku-buku penunjang baik berupa buku cetak maupun digital.Melalui penelitian ini dapat diambil beberapa hasil bahwa, penafsiran Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad dalam kitab Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid) menyatakan bahwa Nabi Isa a.s telah disalib namun tidak sampai mati, Nabi Isa diturunkan oleh muridnya dari tiang salib kemudian diobati dengan ramuan-ramuan salep. Setelah sembuh Nabi Isa a.s melakukan perjalanan mencari murid-muridnya hingga sampai di Srinagar Khasmir di mana beliau meninggal dan dikubur di kota tersebut. Dengan demikian, maka Jemaat Ahmadiyah meyakini Nabi Isa a.s telah wafat. Keyakinan akan wafatnya Nabi Isa a.s membuat Jemaat Ahmadiyah mempunyai ajaran bahwa kedatangan Nabi Isa a.s yang dijanjikan di akhir zaman bukanlah yang  diutus untuk Bani Israil, akan tetapi seseorang yang memiliki sifat yang sama dengan Nabi Isa a.s. Kata kunci: Nabi Isa a.s, Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bahsiruddin Mahmud Ahmad, Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid).