Imam Qusthalaani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEBIJAKAN MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) DALAM PENETAPAN IDUL ADHA Imam Qusthalaani
Mahkamah : Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.934 KB) | DOI: 10.24235/mahkamah.v3i2.3411

Abstract

AbstrakMajlis Tafsir al-Qur’an adalah salah satu organisasi Islam yang lahir di Indonesia. Meskipun MTA berkembang di Indonesia, ia mendirikan Idul Adha dengan mengikuti pendirian Idul Adha di Kerajaan Arab Saudi. Ulama sepakat bahwa dalam pelaksanaan Idul Adha di negara muslim harus diterapkan sesuai dengan mathla ’lokal. Pendapat para ulama ini sejalan dengan fatwa MUI tentang keputusan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah nomor 2 tahun 2004. MTA menetapkan Idul Adha dengan menggunakan pengumuman Wukuf Arafah di Saudi karena tidak memiliki metode spesifik dalam membangun awal mula. bulan kamariah. Kebijakan MTA ini juga belum tepat di Indonesia dan perlu ditinjau karena proses penentuan tidak menggunakan pertimbangan astronomi. MTA juga tampaknya tidak konsisten dalam menetapkan awal bulan kamariah karena mengikuti dua metode yang bertentangan, yaitu imkan al-rukyah untuk menetapkan awal ramadhan dan Syawal dan rukyah global untuk menetapkan Idul Adha. Kata Kunci: Majlis Tafsir al-Qur’an, Idul Adha, Pengumuman Wukuf Arafah di Kerajaan Arab Saudi AbstractMajlis Tafsir al-Qur’an is one of Islamic organizations that was born in Indonesia . Although MTA develops in Indonesia, it establish Eid al-Adha by following the establishment of Eid al-Adha in Saudi Arabia Kingdom. Ulama agreed that in the implementation of Eid al-Adha in muslim country must be applied accordance with mathla’ local. These scholars opinion is in line with the MUI fatwa about the preliminary decision of Ramadhan, Shawwal and Dzulhijjah number 2 of 2004. MTA establishes Eid al-Adha by using the announcement of Wukuf Arafah in Saudi because is has no spesifict method in establishing the beginning of the kamariah month. This MTA policy also not yet proper in Indonesia and needed to be reviewed because the process of determination do not use the consideration of astronomy. MTA also seems inconsistent in establishing the beginning of kamariah month due to following two contradictory methods, namely imkan al-rukyah to establish the beginning of ramadhan and Shawwal and global rukyah to establish Eid al-Adha.  Keywords : Majlis Tafsir al-Qur’an, Eid al-Adha, Annaouncement of Wukuf Arafah in Saudi Arabia Kingdom   
STUDI KONTRADIKSI PADA MATAN HADIS Imam Qusthalaani
Dialogia Vol 15, No 1 (2017): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v15i1.1187

Abstract

Abstract: Hadith as the second source of law in Islam is narrated by the Companions of all things to be seen and heard from Prophet. The the sequence of narrative is then told from generation to generation orally until it is written in the books. This system stimulated the presence of particular hadiths that discussed similarthemes, however, it showed textual contradictions when read by unqualified people. Whereas it is very unlikely that the Prophet conveyed ambiguous and conflicting teachings. This article presented the answer from  contradictory impression of some hadiths matan that discussed he same theme by presenting the theories of ikhtila>f al-h}adi>th (the study of the hadith which presented the same theme but they are inherently impressed and the method to solve it) that had been assembled by the scholars of hadith to face this issue.It has been recorded in the History  that Ima>m Sha>fi'i>  is the scholar who first formed this theory to defend the existence of hadith. Furthermore, In solving the contradictory problems, scholars have created several methods such as compromise method, tarji>h}, naskh and mansu>kh and takwi>l. ملخص:كان الحديث مصدرا ثانيا للقانون الإسلامي ورواه الصحابة من كل ما رأوهم وسمعهم من النبي محمد صلعم. وطريقة رواة الحديث من جيل إلى جيل شفويا حتى جاء عصر التدوين. بهذه الطريقة ظهر هناك بعض الأحاديث التي تبحث فى موضوع متساوي ولكن وجدت التناقضات فى النص أو المتن. والنبي نفسه يستحيل أن يروي الحديث غامضة ومتناقضة. وهذه المقالة ستبحث فى التناقض بين متن بعض الأحاديث النبوية التي تبحث فى الموضوع المتساوي بنظرية اختلاف الحديث (العلم الذي يبحث فى الأحاديث فى نفس الموضوع ولكن كأن هناك التناقض ظاهريا مع طريقة حلها) الذي ألّفها علماء الحديث للبحث فى هذه المسألة. وقد ظهرت هذه القضية منذ فترة طويلة في تاريخ رواية الحديث. وكان الإمام الشافعي أول من الذي وضع هذه النظرية. ولحل هذه المشكلات قد قدّم العلماء طريقة التسوية، والترجيح، والنسخ، والمنسوخ، والتأويل.  Abstrak: Hadis sebagai sumber hukum kedua dalam Islam diriwayatkan oleh sahabat dari segala sesuatu yang dilihat dan didengar atas apa yang dilakukan Nabi. Periwayatan kemudian diriwayatkan secara turun-temurun secara lisan sampai masa pembukuan. Cara seperti ini menyebabkan lahirnya beberapa hadis yang membicarakan satu tema yang sama, namun menunjukkan kontradiksi secara tekstual ketika dibaca oleh orang awam, padahal sangat tidak mngkin Nabi menyampaikan ajaran yang rancu dan saling bertentangan. Artikel ini ditulis untuk menjawab kesan kontradiktif antar beberapa matan hadis yang membicarakan tema yang sama dengan menyajikan teori ikhtila>f al-h}adi>th (ilmu yang membahas tentang hadis-hadis yang membicarakan tema yang sama namun secara lahiriyah terkesan bertentangan dengan disertai metode penyelesaiannya) yang telah disusun oleh ulama hadis untuk mengenali persoalan ini. Persoalan ini telah lama muncul dalam sejarah perkembangan hadis. Sejarah mencatat bahwa Ima>m Sha>fi’i> merupakan ulama yang pertama kali menciptakan teori ini guna membela eksistensi hadis. Sedangkan untuk menyelesaikan atau menjawab persoalan ini, ulama telah menciptakan beberapa metode seperti metode kompromi, tarji>h}, naskh dan mansu>kh serta takwi>l guna menyelesaikan persoalan kontradiksi antar matan hadis ini.  Keywords: Ikhtila>f al-H{adi>th,  Metode Kompromi, Ima>m al-Sha>fi’i>, Naskh.