Made Ayu Lely Suratri
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kejadian Karies Gigi dengan Konsumsi Air Minum pada Masyarakat di Indonesia Made Ayu Lely Suratri; Tince Arniati Jovina; Indirawati Tjahja Notohartojo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 3 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i3.254

Abstract

AbstractThe prevalence of dental caries in Indonesia is quite high, the results of the 2013 Basic Health Research (Riskesdas) population in Indonesian with 25,9% problems with their teeth and mouth. The average dental caries measured by the DMF-T index was 4.6, which means that the average Indonesian population has experienced tooth decay as much as 5 teeth per person. Dental caries can occur due to low dental and oral hygiene, and less exposure to fluorida. The incidence of dental caries is also related to the fluorine content contained in drinking water. The purpose of the study was to determine the relationship between dental caries and drinking water consumption in Indonesia. This study is a non-intervention research with cross-sectional design conducted by the National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health of the Republic of Indonesia through Riskesdas 2013. The study population was all Indonesians aged ≥ 12 years in 33 provinces, 497 districts/cities. Collecting Dental data is done by conducting interviews and oral and dental examinations. The results showed that almost all types of drinking water sources can cause dental caries except the type of drinking water from refill water, with p> 0,05 (p = 0,178) and retail tap water, with p> 0,05 (p = 0.307) and also almost all types of water sources that are widely used for household needs can cause dental caries except the type of water source from dug well is protected, with p> 0,05 (p = 0,979), where OR: 1,026 (CI 95 %: 0.979-1.076). The Conclusio is the incidence of dental caries has to do with at the drinking water except the type of drinking water from refill water. AbstrakPrevalensi karies gigi di Indonesia cukup tinggi, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 penduduk Indonesia yang bermasalah dengan gigi dan mulutnya sebesar 25,9%. Rata-rata karies gigi yang diukur dengan indeks DMF-T sebesar 4,6 yang berarti rata-rata penduduk Indonesia telah mengalami kerusakan gigi sebanyak 5 gigi per orang. Karies gigi dapat terjadinya karena rendahnya kebersihan gigi dan mulut, dan kurang terpaparnya dengan fluorida. Kejadian karies gigi berhubungan juga dengan kandungan fluor yang terdapat dalam air minum. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara kejadian karies gigi dengan konsumsi air minum masyarakat di Indonesia. Metode penelitian ini merupakan penelitian non intervensi dengan desain penelitian potong lintang yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riskesdas Tahun 2013. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia yang berusia ≥ 12 tahun di 33 provinsi, 497 kabupaten/kota. Pengumpulan data gigi dilakukan dengan melakukan wawancara dan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan hampir semua jenis sumber air minum dapat menyebabkan terjadinya karies gigi kecuali jenis air minum dari air isi ulang, dengan nilai p>0,05 (p= 0,178) dan air ledeng eceran, dengan nilai p>0,05 (p= 0,307) dan juga hampir semua jenis sumber air yang banyak dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga dapat menyebabkan terjadinya karies gigi kecuali jenis sumber air dari sumur gali terlindungi, dengan nilai p>0,05 (p= 0,979), dimana OR: 1,026 (CI 95%: 0,979-1,076). Kesimpulan penelitian menunjukkan kejadian karies gigi ada hubungannya dengan konsumsi air minum kecuali jenis air minum dari air isi ulang.
Hubungan antara Kepuasan dan Motivasi Kerja pada Tenaga Kerja di Bidang Kesehatan di Rumah Sakit (Risnakes 2017) Made Ayu Lely Suratri; Delima Delima; Hadi Siswoyo; Vebby Amelia Edwin
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 4 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i4.2041

Abstract

Abstract Human Resources (HR) is the main and strategic factor for the achievement of the development of a nationStrong and highly competitive human resources in various aspects will support increased development, both in the economic, health and social and cultural fields. The performance of an organization will be determined by one of the main elements, namely the quality of human resources. Factors that can be used to improve employee performance, including job satisfaction and work motivation. The purpose of this study was to determine the relationship between jobs satisfaction and workforce motivation in the health sector in hospitals in Indonesia.The research method is a non-intervention study with a cross-sectional design, conducted by the National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health of the Republic of Indonesia through National Health Workforce Research (Risnakes)2017.The study sample was health workers working in 2,325 hospitals, namely General Hospitals (RSU) in the Government, Private Hospital, Military/Police General Hospital, Government Specific Hospital, Private Specific Hospital and Military/Police Specific Hospital. Determination of selected hospitals in each province is done by simple random sampling. Data collection on job satisfaction and work motivation was obtained through filling out the 2014 happiness measurement survey questionnaires from the Central Bureau of Statistics (CBS) by 30 health workers in selected hospitals . The variables studied were the characteristics of respondents (age, sex, education, employment status, length of work, health insurance), hospital characteristics (hospital status, hospital accreditation status, and type of hospital), job satisfaction and work motivation. Data were analyzed by univariate, bivariate, and logistic regression models.The results showed that respondents who worked for 10 years and below had a t significant relationship with work motivation compared to those who worked more than 10 years, with a value of p <0.05 (p = 0.0001). There is a significant relationship between jobs satisfaction and work motivation on respondents, with a value of p <0.005 (p = 0.0001). The conclusion, that the job satisfaction of health workers is significantly related to work motivation. Abstrak Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor utama dan strategis bagi tercapainya keberhasilan pembangunan suatu bangsa. SDM yang kuat dan berdaya saing tinggi dalam berbagai aspek akan mendukung peningkatan pembangunan, baik di bidang ekonomi, kesehatan maupun di bidang sosial dan budaya. Kinerja suatu organisasi akan ditentukan oleh salah satu unsur utama yaitu kualitas sumber daya manusia. Faktor-faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pegawai, diantaranya kepuasan kerja dan motivasi kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara kepuasan kerja dan motivasi kerja tenaga kerja di bidang kesehatan di rumah sakit di Indonesia. Metode penelitian merupakan penelitian non intervensi dengan desain cross sectional, yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI melalui Riset Ketenagaan di Bidang Kesehatan (Risnakes) 2017. Sampel penelitian adalah tenaga kesehatan yang bekerja di 2.325 rumah sakit (RS) yaitu di Rumah Sakit Umum (RSU) Pemerintah, RSU Swasta, RSU TNI/Polri, RS Khusus Pemerintah, RS Khusus Swasta, dan RS Khusus TNI/Polri. Penetapan rumah sakit terpilih di setiap provinsi dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling). Pengumpulan data diperoleh melalui pengisian kuesioner survei pengukuran tingkat kebahagiaan 2014 dari Badan Pusat Statistik (BPS) oleh 30 orang tenaga kesehatan di RS terpilih. Variabel yang diteliti adalah karakteristik responden (umur, jenis kelamin, pendidikan, status kepegawaian, lama bekerja, jaminan kesehatan), karakteristik rumah sakit (status RS, status akreditasi RS, dan jenis RS), kepuasan kerja dan motivasi kerja. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan model regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang bekerja selama 10 tahun ke bawah ada hubungan yang signifikan dengan motivasi kerja dibandingkan yang bekerja lebih dari 10 tahun, dengan nilai p<0,05 (p= 0,0001). Adanya hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dengan motivasi kerja pada responden, dengan nilai p< 0,005 (p=0,0001). Kesimpulan, bahwa kepuasan kerja dari tenaga kesehatan berhubungan secara signifikan dengan motivasi kerja.