Eliza Eka Nurmala
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KUSTA DI PROVINSI LAMPUNG: STUDI EKOLOGI BERDASARKAN TREN WAKTU Nurhalina Sari; Eliza Eka Nurmala
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 2 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.486 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.2.1372.88-98

Abstract

ABSTRACT Leprosy is a disease that can cause pain and disability, which in the end can affect a person's quality of life. Through the 2013 Bangkok Declaration, Indonesia declared itself that 2020 was a leprosy-free country. However, until 2015, there were still reports of leprosy cases, including in Lampung Province. This study aims to analyze spatial leprosy and its risk factors to get priority areas for leprosy handling in Lampung Province. The study used ecological study designs. The sources of leprosy data and risk factors came from secondary data at the Central Statistics Agency and Health Office in Lampung for the year 2011 to 2015. Data analysis using spatial analysis. The analysis shows that leprosy cases are divided into two categories, namely paucibacillary and multibacillary. Spatial analysis results for 5 years indicate that leprosy cases are dominant in Central Lampung and East Lampung Districts. Based on population density, number of poor people, sanitation, nutritional status, and health facilities, several districts have a high risk of leprosy. The conclusion of this study is the priority in handling leprosy cases should be focused in the Central Lampung District and East Lampung District. Keywords: Leprosy, Lampung, spatial analysis, ecological study ABSTRAK Kusta merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kesakitan dan kecacatan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Melalui Deklarasi Bangkok 2013, Indonesia menyatakan bahwa tahun 2020 menjadi negara bebas kusta. Namun, hingga 2015 masih terdapat laporan kasus kusta, termasuk di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara spasial kusta dan faktor risikonya untuk mendapatkan prioritas penanganan kusta di Provinsi Lampung dengan desain studi ekologi. Sumber data kusta dan faktor risiko berasal dari data sekunder di Badan Pusat Statistik dan Dinas Kesehatan di Lampung 2011 sampai dengan 2015. Analisis data menggunakan analisis spasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kasus kusta terbagi dalam dua kategori yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB).Hasil analisis spasial selama 5 tahun menunjukkan bahwa kasus kusta dominan di Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan kepadatan penduduk, jumlah orang miskin, sanitasi, status gizi, dan fasilitas kesehatan, beberapa kabupaten memiliki risiko tinggi terhadap kasus kusta. Kesimpulan penelitian ini adalah prioritas penanganan kasus kusta sebaiknya difokuskan di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Kata kunci: Kusta, Lampung, analisis spasial, studi ekologi
PERBANDINGAN KADAR RHODAMIN B PADA SAUS CABAI DAN BUMBU GILING MERAH DI BEBERAPA PASAR TRADISIONAL KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Saeffurqon Saeffurqon; Khoidar Amirus; Eliza Eka nurmala
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 6, No 2 (2017): Volume 6 Nomor 2
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v6i2.488

Abstract

Rhodamin B merupakan pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil. Pengaruh buruk rhodamin B bagi kesehatan jika terdapat pada makanan antara lain menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, kulit, mata dan saluran pencernaan serta berpotensi terjadinya kanker hati. Berdasarkan penelitian Food And Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO), didapatkan bahwa penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan dan minuman mencapai 70%. Tujuan penelitian ini adalah diketahui perbandingan kandungan kadar rhodamin B pada saus cabai dan bumbu giling merah di beberapa pasar tradisonal Kota Bandar Lampung tahun 2016. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian observasioal dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif dengan metode kromatografi kertas. Untuk uji kuantitatif dengan metode spektrofometri cahaya tampak tidak dilakukan karena tidak didapatkan sampel yang positif. Hasil pemeriksaan dari delapan sampel saus cabai dan delapan sampel bumbu giling merah di empat pasar tradisonal di Kota Bandar Lampung yang telah diperiksa dengan menggunakan metode kromatografi kertas tidak ada satupun sampel yang mengandung zat pewarna rhodamin b, sehingga tidak dilakukan pemeriksaan kadar rhodamin b menggunakan spektrofometri cahaya tampak. Diharapkan bagi Dinas Kesehatan dan BBPOM untuk terus mengawasi dan melakukan pemeriksaan makanan.Kata Kunci : Rhodamin B, Saus Cabai, Bumbu Giling Merah
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KUSTA DI KABUPATEN LAMPUNG UTARA 2014-2016 Oktaviani Oktaviani; Eliza Eka Nurmala
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 5, No 3 (2016): Volume 5 Nomor 3
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v5i3.466

Abstract

Lampung diperingkat ke 18 dari 33 provinsi di Indonesia angka kesakitan kusta (Prevalense) per 10.000 penduduk selama tahun 2012-2015 cenderung meningkat. Lampung Utara angka kejadian kusta cenderung meningkat, 2013 angka kesakitan kusta sebesar 1,00 per 100.000 penduduk (6 ks/598.892 penduduk) sebanyak 9 kasus. Tahun 2014, angka kesakitan penyakit kusta 4,00 per 100.000 penduduk (24 ks/602.727 penduduk) sebanyak 24 kasus. Tahun 2015 terdapat 14 orang penderita Kusta, dan 2016 terdapat 7 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan kejadian kusta di Kabupaten Lampung Utara 2014-2016.Jenis penelitian kuantitatif dan desain case control. Populasi penderita kusta yang tercatat dalam rekam medis 2014-2016 yaitu 45 kasus. Sampel penelitian yaitu 38 kasus dan 38 kontrol. Analisis data menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian kelompok kasus yang pemakaian sumber air tidak baik terdapat sebanyak 13 (34,2%). Sedangkan untuk kelompok kontrol yang pemakaian sumber air tidak baik terdapat sebanyak 4 (10,5%), responden dari kelompok kasus yang kepadatan hunian tidak memenuhi syarat terdapat sebanyak 6 (46,2%), kelompok kontrol responden yang kepadatan hunian tidak memenuhi syarat terdapat sebanyak 7 (53,8%), responden dari kelompok kasus yang Personal Hygiene tidak baik terdapat sebanyak 28 (73,7%). Sedangkan untuk kelompok kontrol responden dari kelompok kasus yang Personal Hygiene tidak baik menderita kusta terdapat sebanyak 15 (39,5%). Selanjutnya responden dari kelompok kasus yang keadaan lantai rumah tidak memenuhi syarat terdapat sebanyak 25 (65,8%). Sedangkan untuk kelompok kontrol lantai rumah tidak memenuhi syarat terdapat sebanyak 15 (39,5%). Kemudian ada hubungan antara sumber air (p=0,028), Personal Hygiene (p=0,005) dengan kejadian kusta di Kabupaten Lampung Utara. Tidak ada hubungan kepadatan hunian (p=1,000) dengan kejadian kusta di Kabupaten Lampung Utara. Hendaknya petugas puskesmas memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai upaya pencegahan penyakit kusta.Kata Kunci: Kusta, sumber air, kepadatan hunian, personal hygiene, dan keadaan lantai
DINAMIKA PERUBAHAN UNSUR IKLIM (SUHU, KELEMBABAN DAN CURAH HUJAN) DAN KEJADIAN MALARIA PADA PENDUDUK PANDEGLANG Eliza Eka Nurmala
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 6, No 2 (2017): Volume 6 Nomor 2
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v6i2.481

Abstract

Hingga saat ini, malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang bersifat global dan terjadi hampir diseluruh dunia. Pada tahun 2009 diketahui terdapat 544.470 kasus malaria terjadi di Indonesia. Di kabupaten Pandeglang terdapat 12 kecamatan yang dinyatakan endemis malaria pada tahun 2010. Adanya perubahan iklim global diseluruh dunia membuat , diperkirakan unsur iklim yaitu suhu, kelembaban dan curah hujan di wilayah Kabupaten Pandeglang juga mengalami perubahan. Penelitian ini menggunakan studi ekologi time trend dengan waktu 6 tahun dari 2005-2010. Data didapat dalam bentuk data sekunder dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kejadian malaria dengan suhu (p=0,28), kelembaban (p=0,16), dan curah hujan (p=0,83). Namun pola hubungan seluruh variabel bersifat positif. Disarankan penelitian selanjutnya mengkaji secara lebih mendalam kaitan unsur iklim dengan malaria menggunakan jumlah data yang lebih banyak sehingga hasil yang didapatkan akan lebih akurat.Kata kunci : Malaria, suhu, kelembaban, curah hujan, pandenglang