Lusi Kristiana
UPF Inovasi Teknologi Kesehatan - Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Disparitas Pembangunan Kesehatan di Indonesia Berdasarkan Indikator Keluarga Sehat Menggunakan Analisis Cluster Herti Maryani; Lusi Kristiana; Astridya Paramita; nailul izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.852 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2622

Abstract

Healthy Indonesia Program with family approach was the main health development program to support the achievement of Healthy Indonesia Program objectives in the 2015-2019 Ministry of Health strategic plan. There were twelve main indicators to mark the health status of a family. This study aimed at grouping provinces in Indonesia based on Healthy Family Indicators 2018 using cluster analysis. The analysis used secondary data published by Welfare Statistics Indonesia 2018, National Statistics Agency, Republic of Indonesia. The variables were 8 taken from 12 Healthy Family Indicators. The type of this research was descriptive. The result of grouping provinces in Indonesia based on the Healthy Family Indicator was divided into 4 clusters. The clusters consisted of fi rst with 3 provinces, second with19 provinces, the third with 8 provinces, and the fourth with 4 provinces. Disparity in health development, particularly Indicators of Healthy Families, still existed in Indonesia. Provinces in eastern Indonesia with very low Healthy Family Indicators were Maluku, North Maluku, West Papua and Papua (cluster 4). Provinces with a high Healthy Family Indicator (cluster 3), consisted of Riau Islands, Jakarta, Yogyakarta, Bali, East Kalimantan, North Kalimantan, South Sulawesi and Gorontalo. Several indicators from Healthy Family Indicators which were under the national target and required much attention were toddlers who received complete immunizations, women aged 15-49 who had been married and following family planning program, and the ownership of the National Health Insurance. Abstrak Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga menjadi program utama pembangunan kesehatan untuk mendukung tercapainya tujuan Program Indonesia Sehat dalam rencana strategis kementerian kesehatan tahun 20152019. Terdapat dua belas indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia berdasarkan Indikator Keluarga Sehat 2018 menggunakan analisis cluster. Analisis menggunakan data sekunder hasil publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat di Indonesia tahun 2018, Badan Pusat Statistik. Variabel yang dianalisis ada 8 variabel dari 12 Indikator Keluarga Sehat. Jenis penelitian adalah deskriptif. Hasil pengelompokan provinsi di Indonesia berdasarkan Indikator Keluarga Sehat menghasilkan 4 cluster. Cluster pertama terdiri dari 3 provinsi, cluster kedua terdiri dari 19 provinsi, cluster ketiga terdiri dari 8 provinsi dan cluster keempat terdiri dari 4 provinsi. Disparitas pembangunan kesehatan khususnya Indikator Keluarga Sehat masih terdapat di wilayah Indonesia. Provinsi yang berada di wilayah Indonesia bagian timur mempunyai Indikator Keluarga Sehat sangat rendah, yaitu provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (cluster 4). Provinsi dengan Indikator Keluarga Sehat yang tinggi adalah cluster 3 yaitu Kep. Riau, DKI Jakarta, D I Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Indikator Keluarga Sehat yang perlu mendapat perhatian karena masih di bawah target nasional adalah Balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap, perempuan usia 15-49 tahun yang pernah kawin sedang menggunakan KB, dan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Posisi Relatif Provinsi di Indonesia Berdasarkan Penggunaan Pengobatan Tradisional: Analisis Komponen Utama Biplot Lusi Kristiana; Astridya Paramita; Pramita Andarwati; Herti Maryani; nailul izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3244

Abstract

The utilization of traditional health services and the use of traditional medicine in Indonesia is still high. There are socio-cultural-natural resources connection in the use of traditional health services and traditional medicine. This study examines Basic Health Research (Riskesdas) 2018 data relating to Indonesia's top ten provinces' relative position, whose community exercises self-traditional health practices and utilizing traditional health services. The analysis was conducted by using PCA-Biplots. Results showed similarities between North Maluku-Maluku-West Papua; Central Sulawesi-South Sulawesi-East Nusa Tenggara-Papua; Special Region of Yogyakarta-Central Java-East Java; South Kalimantan-Banten, while the others were scattered. The utilization of TOGA had a positive correlation with the utilization of traditional medicines. The result of variable diversity identification showed that the community utilizes traditional health services (83.29%) was higher than community exercising self-traditional health practices (73.19%). Actively monitoring, improving information sharing, and educating people on traditional medicine applications, particularly non-communicable disease issues, should be done according to traditional medicine variables' main characteristics in the region. Traditional medicine should serve promotive and preventive health initiatives, as its efficacy in therapeutic use is still debatable. Abstrak Pemanfaatan pelayanan Kesehatan tradisional (yankestrad) dan penggunaan obat tradisional masih cukup banyak. Terdapat keterkaitan sosial, budaya, dan sumber daya alam dalam pemanfaatan yankestrad dan penggunaan pengobatan tradisional lokal. Penelitian ini menganalisis posisi relatif 10 besar provinsi di Indonesia yang melakukan upaya kestrad sendiri dan memanfaatkan yankestrad berdasarkan data Riskesdas 2018. Analisis posisi relatif dalam artikel ini adalah PCA-Biplot. Hasil analisis menunjukkan pola pengelompokan kemiripan sebagai berikut: Malut-Maluku-Pabar; Sulteng-Sulsel-NTT-Papua; DIY-Jateng-Jatim; Kalsel-Banten, dan lainnya tersebar. Variabel pemanfaatan TOGA, semakin positif variabel, maka diikuti oleh pemanfaatan obat tradisional yang semakin baik. Hasil identifikasi keragaman variabel pada pengelompokan 10 besar provinsi dengan masyarakat memanfaatkan yankestrad (83,29%) mempunyai nilai lebih tinggi daripada masyarakat melakukan upaya kestrad sendiri (73,19%). Pemerintah melalui dinas terkait harus melakukan pemantauan, pemberian informasi dan edukasi pengobatan tradisional khususnya untuk penyakit tidak menular dengan penyesuaian terhadap karakteristik pemanfaatan pengobatan tradisional di wilayah tersebut.
Pengelompokan Provinsi berdasarkan Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular untuk Upaya Pengendalian Penyakit dengan Pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) Herti Maryani; Lusi Kristiana; Astridya Paramita; Pramita Andarwati; Nailul Izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 3 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i3.4196

Abstract

This study aims to group provinces in Indonesia based on the prevalence of communicable and non-communicable diseases (CDs and NCDs) for disease control efforts. The results of grouping can find out the priority of communicable and non-communicable disease control areas based on seven variables related to infectious diseases and ten variables related to NCDs based on Basic Health Research 2018. A Multidimensional Scaling (MDS) technique was used as the analytical strategy. The MDS analysis resulted in four groups of provinces based on the prevalence of CDs and NCDs. Provincial groups with the highest prevalence of infectious diseases (group 2) were NTT, Central Kalimantan, Maluku, West Papua, and Papua. Provincial groups with the highest NCDs prevalence (group 3) were Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, East Kalimantan, North Kalimantan, and North Sulawesi. The two groups of provinces were the priority groups in controlling CDs and NCDs. The focus of communicable disease control is URI, hepatitis, malaria, and filariasis in the highest priority groups of provinces with the highest prevalence of infectious diseases. In groups of provinces with the highest NCDs prevalence, the NCD control should focus on asthma, cancer, diabetes, heart disease, hypertension, stroke, chronic renal failure, and joint disease. Further research is suggested adding risk factor analysis variables for CDs and NCDs using the MDS method to help provides a more comprehensive picture of regional groupings. Coordination between central and local governments is needed to accelerate efforts to control CDs and NCDs in priority area groups. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengelompokan provinsi di Indonesia berdasarkan prevalensi penyakit menular (PM) dan penyakit tidak menular (PTM) dalam upaya pengendalian penyakit. Hasil pengelompokan dapat diketahui prioritas wilayah pengendalian PM dan PTM berdasarkan tujuh variabel terkait PM dan 10 variabel terkait PTM dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jenis penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis pengelompokan provinsi menggunakan Multidimensional Scaling (MDS). Analisis MDS menghasilkan empat kelompok provinsi berdasarkan prevalensi PM dan PTM. Kelompok provinsi dengan prevalensi PM tertinggi (kelompok 2) adalah NTT, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat dan Papua. Kelompok propinsi dengan prevalensi PTM tertinggi (kelompok 3) adalah Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara. Kedua kelompok provinsi ini merupakan kelompok provinsi prioritas dalam pengendalian PM dan PTM. Pada kelompok provinsi dengan PM tertinggi, fokus pengendalian PM adalah ISPA, hepatitis, malaria dan filariasis. Fokus pengendalian untuk PTM adalah asma, kanker, diabetes, penyakit jantung, hipertensi, stroke, gagal ginjal kronis, dan penyakit sendi. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel analisis faktor risiko PM dan PTM dengan menggunakan metode MDS untuk membantu memberi gambaran yang lebih lengkap pada pengelompokan wilayah. Diperlukan koordinasi sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk percepatan upaya pengendalian PM dan PTM di kelompok wilayah prioritas.