Sri Handayani
Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan Badan Litbang Kemenkes

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relevansi, Efektivitas dan Sustainabilitas Model Pemberdayaan Paraji dan Kokolot dalam Upaya Meningkatkan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Sri Handayani; Suharmiati Suharmiati; Karlina Karlina; Yurika Fauzia Wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3406

Abstract

In 2017 and 2018 the Center for Humanities and Health Management conducted health interventions research in Tugu and Rancapinang Village, Cimanggu District, Pandeglang Regency. This research is motivated by the maternal and child health problems that are still experienced in Pandeglang Regency. Intervention research was carried out using a community empowerment method where paraji and kokolot as agents of change to improve childbirth in health facilities. This research uses a qualitative approach with a participatory action research (PAR) method. Data collection methods have used in-depth interviews, focus group discussions, and observations. Paraji and kokolot empowerment model to increase childbirth in health facilities are quite relevant to be implemented because it is following the problem of the presence of pregnant women giving birth at home. In terms of effectiveness, this model is more effectively implemented in Tugu village than in Rancapinang Village because the characteristics of the area and the people of the two villages are different. The sustainability of this model is questionable because it is not yet integrated with the local health service system. As a suggestion, modifying this model according to the social and cultural characteristics of the local community is necessary. Increasing effectiveness in this model is needed to have a strong partnership between paraji, kokolot as agents of change, village midwives, and local facilitators. This model must also be integrated with the local health service system so that sustainability can be realized. Abstrak Pada tahun 2017 dan 2018 Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan melaksanakan riset intervensi kesehatan di Desa Tugu dan Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Riset ini dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan ibu dan anak yang masih dialami oleh Kabupaten Pandeglang. Riset intervensi dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat di mana paraji dan kokolot sebagai agen perubahan untuk meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode participatory action research (PAR). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Model pemberdayaan paraji dan kokolot dalam upaya meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan cukup relevan diimplementasikan karena sesuai dengan permasalahan masih adanya ibu hamil yang melahirkan di rumah. Dari segi efektivitas model ini lebih efektif dilaksanakan di Desa Tugu dibandingkan di Desa Rancapinang karena karakteristik wilayah dan masyarakat kedua desa berbeda. Sustainabilitas model ini dipertanyakan karena belum terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan setempat. Sebagai saran, perlu adanya modifikasi dalam model intervensi ini yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat. Untuk meningkatkan efektivitas model ini memerlukan kemitraan yang kuat antara paraji dan kokolot sebagai agen perubahan dengan bidan desa dan pendamping lokal. Model ini juga harus terintegrasi dengan sistem kesehatan lokal sehingga sustainabilitas dapat tercapai.
Faktor-Faktor Penyebab Pernikahan Dini di Beberapa Etnis Indonesia Sri Handayani; Syarifah Nuraini; Rozana Ika Agustiya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i4.4619

Abstract

Early marriage is still a severe problem in Indonesia. One out of nine women in Indonesia is married before eighteen. It occurs almost in all over provinces in Indonesia. There are 23 provinces where the prevalence of early marriage is higher than the national data. This article aims to determine factors that cause early marriage in several ethnic groups in Indonesia. This study reviews the Ethnographic Health Research book series in the Lampung, Sasak and Bugis ethnic groups. Pierre Bourdieu’s theory was used to analyze the phenomenon of early marriage. Bourdieu divides this theory of social practice into three interrelated parts: habitus, arena, and capital. The existence of customary rules, patriarchal systems, modernization and applicable formal laws, namely marriage laws, affect the habitus of early marriage actors. Weak economic, cultural and social capital also encourages individuals to marry earlier. In conclusion, the relationship between habits, The involvement of the capital owned by adolescent or their families influences the decision to have an early marriage. The prevention of early marriage needs mutual interactions by both structural and cultural conditions of the community. The role of traditional and religious leaders also needs to be optimized in preventing early marriage. It is also necessary to strengthen the implementation of the law that regulates the minimum age for marriage. Abstrak Pernikahan dini masih menjadi masalah yang serius dihadapi oleh Indonesia. Satu dari sembilan perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Pernikahan dini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat 23 provinsi dengan prevalensi pernikahan dini lebih tinggi dari angka nasional. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pernikahan dini pada beberapa etnis di Indonesia. Kajian literatur dari buku seri Riset Etnografi Kesehatan pada etnis Lampung, Sasak dan Bugis dipilih menjadi metode pada artikel ini. Untuk menganalisis fenomena pernikahan dini digunakan teori praktik sosial oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu membagi teori praktek sosial ini menjadi tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu: habitus, arena dan modal. Adanya aturan adat, sistem patriarki, modernisasi dan hukum formal yang berlaku yaitu undang-undang perkawinan mempengaruhi habitus pelaku pernikahan dini. Lemahnya modal ekonomi, kultural dan sosial juga turut mendorong individu melakukan pernikahan dini. Kesimpulan dari analisis tersebut adalah relasi antara habitus, arena dengan melibatkan modal yang dimiliki oleh remaja atau keluarganya mempengaruhi keputusan untuk melakukan pernikahan dini. Upaya pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi struktur dan budaya masyarakat. Peran tokoh adat dan tokoh agama juga perlu dioptimalkan dalam mencegah pernikahan dini. Penguatan implementasi undang-undang yang mengatur batas minimum usia menikah juga perlu dilakukan.