Nuning Rahmawati
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STUDI ETNOFARMAKOLOGI TUMBUHAN OBAT YANG DIGUNAKAN OLEH PENYEHAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI DIARE DI SULAWESI SELATAN Fanie Indrian Mustofa; Nuning Rahmawati
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.177 KB) | DOI: 10.22435/jtoi.v11i2.580

Abstract

ABSTRACT Medicinal plants for health effort and diseases treatment has been used by ethnic groups in South Sulawesi for years. One of them is for diarrhea treatment. South Sulawesi is one of the top five provinces with the highest incidence and period prevalence of diarrhea in Indonesia. The purpose of this study was to investigate the species of medicinal plants used by traditional healer in South Sulawesi for anti-diarrhea and their scientific evidence. The data was obtained from the exploration of local ethnomedicin knowledge and medicinal plant based on community in Indonesia in 2012-2015 and 2017. The data was analyzed to find out the fidelity level, used value (UV), choice value (CV), and factor of informant’s consensus (FIc). The result reported information about thirty medicinal plants used for diarrhea treatment, including the plants name, part used, and preparation method that obtained from 48 traditional healer of 19 ethnic groups in South Sulawesi. The fidelity level were 41,67% for Psidium guajava, 8,33% for Mangifera sp, 6,25% for Curcuma domestica and C. Zedoaria, 4,17% for Allium cepa, Anacardium officinale, Syzigium cumini, and C.xanthorrhiza. The highest UV and CV were 0,42 and 13,84 for Psidium guajava. The informant’s consensus of medicinal plant for diarrhea treatment was 0,38. The commonly used parts was the leaves and most of the used methods were administered orally. The conclusions of this study were ethnic groups in South Sulawesi has various formula of medicinal plants for diarrhea treatment, but P.guajava was the most commonly used. Those formulas information for diarrhea treatment would be an alternative to overcome diarrhea problems in South Sulawesi. Key words: medicinal plant, traditional healer, diarrhea, ABSTRAK Pengetahuan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan obat untuk mencegah dan mengatasi penyakit telah dimiliki secara turun temurun oleh etnis-etnis di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah untuk mengatasi diare. Sulawesi Selatan termasuk dalam lima provinsi dengan insiden maupun period prevalence diare tertinggi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan hatttra di Sulawesi Selatan dalam ramuan anti diare dan bukti ilmiah penggunaan tanaman obat tersebut untuk mengatasi diare. Studi ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin dan tumbuhan obat berbasis komunitas di Indonesia pada tahun 2012,2015 dan 2017. Analisis data dilakukan untuk mengetahui Fidelity level, Used value, Choice value, Factor of informant’s consensus dan studi referensi ilmiahnya. Hasil studi menunjukkan informasi tentang tiga puluh tanaman obat untuk mengatasi diare yang diperoleh dari 48 penyehat tradisional yang berasal dari 19 etnis di Sulawesi Selatan. Informasi tersebut termasuk nama tanaman, bagian yang digunakan, dan metode persiapan. Fidelity level yang tertinggi adalah 41,67% untuk Psidium guajava, disusul 8,33% untuk Mangifera sp, 6,25% untuk Curcuma domestica dan C. Zedoaria, 4,17% untuk Allium cepa, Anacardium officinale, Syzigium cumini, dan C. xanthorrhiza. Nilai UV dan CV tertinggi adalah 0,42 dan 13,84 untuk P. guajava. Konsensus informan tentang tanaman obat untuk pengobatan diare adalah 0,38. Bagian yang umum digunakan adalah daun dan sebagian besar cara pemakaian dengan diminum. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok etnis di Sulawesi Selatan memiliki berbagai formula tanaman obat untuk mengatasi diare, tetapi P.guajava adalah yang paling banyak digunakan. Informasi formula untuk mengatasi diare diharapkan dapat menjadi alternatif untuk masalah diare di Sulawesi Selatan. Kata kunci: tumbuhan obat, penyehat tradisional, diare
THE COMBINATION INFUSION OF Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn., Centella asiatica (L.) Urb. AND Curcuma xanthorrhiza Roxb. EFFECTS ON TESTOSTERONE LEVELS AND INTRODUCTION, CLIMBING AND COITUS FREQUENCIES IN MALE SPRAGUE-DAWLEY RATS Nuning Rahmawati; Ika Yanti Marfuatush Sholikhah
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.621 KB) | DOI: 10.22435/jtoi.v12i1.1807

Abstract

ABSTRACT Talinum paniculatum (som Java) reported to have many pharmacological activities such as increasing spermatozoa quality, cell regenerations, fertility, and antibacterial effect both empirically and scientifically. This study aimed to prove the combination infusion effects of som Java, gotu kola, and temulawak on introduction, climbing, and coitus levels as well as testosterone levels in male Sprague Dawley (SD) rats. SD rats were divided into 2 groups, control group received aquadest, treatment group received formula a mixture of som java Talinum paniculatum) root, gotu kola (Centella asiatica) herb, and Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza) rhizome with the dose of 491,2 mg/200 g BW for 7 consecutive days. Artificial estrus of female SD rats were induced by administering estradiol valerat 2 mg/200 g BW 48 hours before observation. The determined parameters were levels of testosterone as well as introduction, climbing and coitus frequencies. Administration of estradiol valerat led to artificial estrus induction of female SD rats. The administration of the combination infusion dose 491.2 mg/200 g BW significantly increased testosterone level as well as introduction and climbing frequencies of male SD rats as of 27.77%; 86.39% and 69.17% respectively. ABSTRAK Som jawa (Talinum paniculatum) secara empiris dan ilmiah terbukti telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan diantaranya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas spermatozoa, regenerasi sel, fertilitas, dan sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan efek peningkatan kadar hormon testosteron serta frekuensi introduction, climbing, dan coitus tikus jantan SD dari pengaruh infusa kombinasi som jawa, pegagan, dan temulawak. Hewan uji tikus galur SD dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol diberikan akuades, sedangkan kelompok perlakuan diberikan infusa ramuan akar som jawa, herba pegagan, dan rimpang temulawak dosis 491,2 mg/200 g bb selama 7 hari berturut-turut. Induksi estrus artifisial tikus betina dengan pemberian estradiol valerat 2 mg/200 g bb dilakukan 48 jam sebelum pengamatan. Parameter yang diukur meliputi kadar testosterone, frekuensi introduction, climbing, dan coitus. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, pemberian infusa ramuan tidak berefek pada frekunsi coitus, namun mampu meningkatkan kadar testosteron serta frekuensi introduction dan climbing tikus jantan sebesar 27,77; 86,39 dan 69,17%.
UJI AKTIVITAS ANTI-DERMATITIS RAMUAN SEMBUNG, JAHE, RUMPUT TEKI, DAN CABE JAWA PADA TIKUS MODEL INDUKSI OVALBUMIN DAN UJI TOKSISITAS AKUTNYA Galuh Ratnawati; Ika Yanti M.S; Nuning Rahmawati; Asri Wuryani
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol 14 No 2 (2021): Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jtoi.v14i1.2595

Abstract

ABSTRACT Atopic dermatitis or eczema is a chronic inflammatory skin disease characterized by pruritic inflamed skin lesions and dry skin (xerosis). The effectiveness of currently available treatments is considered insufficient. Medicinal plants are one of the potential alternatives to be developed in the treatment of eczema. This study aimed to investigate the anti-dermatitis activity and acute toxicity of herbal medicine formulation consisting of sembung (Blumea balsamifera), ginger (Zingiber officinale), rumput teki (Cyperus rotundus), and cabe jawa (Piper retrofractum). The herbs was prepared in the form of infusion 10% w/v. The activity assay was carried out on rat model of atopic dermatitis induced with ovalbumin. Measurement of IL-4 and IgE levels was carried out by spectrophotometric method. The skin tissue histology was examined to count the number of mast cells. The acute toxicity test was performed to determine LD50 of the herbs and its effect on urea levels, creatinine, SGOT, and SGPT blood samples. The herbs 1.350 and 10.800 mg/kg bw significantly reduced IL-4 levels, but did not affect IgE levels. All doses of the herbs decreased the number of mast cells in the rat skin tissue. The acute toxicity test showed that the herbs did not cause clinical symptoms and death in rats. Jamu ingredients significantly reduce SGOT levels but do not affect the levels of urea, creatinine, and SGPT. As a result, the herbs applied in this study could be developed further for the treatment of atopic dermatitis. Keywords: atopic dermatitis, IL-4, IgE, mast cell, jamu ingredients ABSTRAK Dermatitis atopik atau eksim adalah penyakit kulit kronis, ditandai dengan inflamasi lesi kulit pruritus dan kulit kering (xerosis). Efikasi pengobatan yang tersedia saat ini dipandang belum memuaskan. Tanaman obat merupakan salah satu alternatif yang potensial dikembangkan dalam pengobatan eksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas anti-dermatitis dan toksisitas akut ramuan jamu sembung (Blumea balsamifera), jahe (Zingiber officinale), rumput teki (Cyperus rotundus), dan cabe jawa (Piper retrofractum). Ramuan jamu disiapkan dalam bentuk infusa 10% b/v. Uji aktivitas dilakukan pada tikus model dermatitis atopik dengan induksi ovalbumin. Kadar IL-4 dan IgE diukur dengan spektrofotometri. Histologi jaringan kulit diperiksa untuk menghitung jumlah sel mast. Uji toksisitas akut dilakukan untuk mengetahui LD50, kadar ureum, kreatinin, SGOT, dan SGPT. Ramuan jamu dosis 1350 dan 10800 mg/kg BB secara signifikan menurunkan level IL-4, namun tidak mempengaruhi level IgE. Ramuan jamu semua dosis menurunkan jumlah sel mast dalam jaringan kulit tikus uji. Uji toksisitas akut menunjukkan ramuan jamu tidak menyebabkan gejala klinis dan kematian hewan uji. Ramuan jamu signifikan menurunkan kadar SGOT, namun tidak berpengaruh pada kadar ureum, kreatinin, dan SGPT. Dengan demikian, ramuan jamu yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi dermatitis atopik. Kata kunci: dermatitis atopik, IL-4, IgE, sel mast, ramuan jamu