Abraham Simatupang
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ezetimibe, Golongan Baru Penurun Kolestrol Abraham Simatupang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 25 No. 1 (2007): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Penyakit kardiovaskuler tetap meningkat secara dramatis meskipun tersedia banyak obat penurun kolestrol. Obat penurun kadar kolestrol yang paling sering diresepkan adalah statin. Statin adalah kelompok obat yang secara kompetitif menghambat enzim HMG-KoA reduktase suatu enzim yang berperan dalam produksi mevalomat, prekursor kolestrol. Reaksi itu terutama terjadi di hepar, tempat hampir 90% kolestrol endogen disintesis. Salah satu faktor kunci dalam menurunkan kejadian penyakit koroner adalah dengan menurunkan kadar kolestrol plasma. Salah satu masalah yang sering dikhawatirkan oleh dokter maupun pasien adalah efek samping yang ditimbulkan oleh statin yaitu rhabdomiolisis. Hal itu terjadi bila statin digunakan dalam dosis tinggi atau dikombinasikan dengan penurun kolestrol golongan fibrat. Pengguanaan ezetimibe, obat penurun kolestrol yang baru telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) di bulan Oktober 2002. Eztimibe menghambat absorpsi kolestrol dari usus yang masuk melalui makanan dan empedu tanpa mengganggu absorpsi vitamin larut dalam lemak dan trigliserida. Obat itu juga menghambat absorpsi sterol tumbuhan seperti sitosterol dan campesterol. Ezetimibe secara tunggal diindikasikan sebagai terapi penunjang untuk hiperkolensterolemia bersamaan dengan terapi diet dan olahraga. Kata kunci : ezetimibe, obat penurun kolestrol, hiperkolesterolemia,farmakologi klinik Abstract Cardiovascular diseases are tremendously increase apart there are many lipid lowering drugs currently available. The most lipid lowering drug used and prescribed presently are statins. Statins are a group of drugs which competitively inhibits HMG-CoA reductase, a step-limiting enzyme for producing mevalonate, a precursor of cholestrol is synthesized. Thus one of the key factor to reduce the coronary event is to reduce the level of cholestrol in plasma. The main concerns for prescribers and patient is the adverse event of statins, namely rhabdomyolisis. This adverse event occurs especially with high dose or in combination with fibrates. Ezetimibe a new lipid-lowering drug has been approve by FDA in October 2002. Ezetimibe inhibits intestinal cholesterol absorption from diaetary and biliary sources without affecting the absorption of fat soluble vitamin and triglycerides. The drug inhibits also plant sterols such a siterol and campesterol. Ezetimibe alone is indicated as adjunctive theraphy to diet and exercise for hypercholestrolemia. Key words : ezetimibe, lipid-lowering drug, hypercholesterolemia, clinical pharmacology
Efikasi dan Efek Simpang Ramelteon untuk Pengobatan Insomnia Kronik Abraham Simatupang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Insomnia dengan tanda utama kesulitan untuk mulai tidur dan mempertahankan tidur sering ditemui dalam praktek sehari-hari. Psikoterapi, latihan dan farmakoterapi merupakan pendekatan umum untuk insomnia. Hipnotika dan sadativa yang masuk dalam benzodiazepine dan fenobardital digunakan untuk mengurangi kondisi ini. Namun, benzodiazepine dan fenobarbital memiliki kekurangan, antara lain kekambuhan insomnia, efek lepas obat dan penyalahgunaan senyawa tersebut yang membuat dokter dan pasien berhati-hati menggunakan kedua obat tersebut terutama untuk jangka panjang. Melatonin disintesis dan dilepaskan dari kelenjar pineal dan berperan penting pada irama sirkadian mamalia dan fungsi reproduksi. Malatonin MT 1-receptor mRNA dan MT2- receptor Mrna terdapat di nekleus suprakiasma (NSK) yang berhubungan dengan efek pergeseran fase melantonin pada irama sirkadian. Karena itu senyawa aktif yang berinteraksi tinggi dengan kedua reseptor ini telah diteliti, dan ramelteon, suatu agonis reseptor melatonin tampaknya menjadi jawaban. Ramelteon memiliki selektifitas dan affinitas yang kuat terhadap reseptor MT1 ­dan MT2 manusia. Dari beberapa uji klinik ditemukan bahwa ramelteon menurunkan periode laten menuju tidur dan memperbaiki waktu tidur total dengan efek simpang yang minimal. Kata Kunci : Insomnia, ramelteon, melatonin, farmakokinetik, uji klinik Abstract Insomnia which characterises mainly with difficulty getting into sleep and maintains the sleep is commonly found in daily practice. Psychotheraphy, exercise and pharmacotheraphy are the main approaches against insomnia. Hynotic and sedativies belong to benzodiazepines and phenobarbitals have been used to alleviate the condition. However, benzodiazepines and phenobarbitals have so many drawbacks, such as rebound insomnia, withdrawal effect and abuse ability of the substance, that made prescribers and patients as well reluctant to use both substances especially for chronic use. Melantonin is synthesised and released by the pineal gland and play an important role on the mammalian circadian rhythms and reproductive function. Melantonin MT1-receptor mRNA and MT2-receptor mRNA have been found in suprachiasmatic nucleus (SCN), which is associated with the phase-shifting effect of melatonin on circadian rythms. Therefore, a melatonin receptor agonist, seems possibly the answer. Furthermore, the remelteon has high selectivity and greater affinity for human MT1 ­­and MT2 receptor. Finally, in some clinical trials the remelteon reduced latency to persistent sleep and improved the total sleep time with minimal adverse event compared to the benzodiazepines. Key words : Insomnia, remelteon, melatonin, pharmacokinetics, clinical trial