George Junus Aditjondro
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menyambut Era SBY Kedua, Yang (Mudah-mudahan) Lebih Bersih dari Era SBY Pertama George Junus Aditjondro
Sociae Polites Vol. 10 No. 28 (2009): Juli-Desember
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/sp.v10i28.1074

Abstract

Dilantiknya Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2009-2014 membuat kalangan dunia usaha lega, tapi meninggalkan pekerjaan rumah yang tidak mudah dalam rangka menyusun Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (KIB II). Sebab, kabinet mendatang harus mengkompromikan keinginan dunia bisnis untuk iklim usaha yang stabil, dengan ambisi elit partai-partai politik di luar Partai Demokrat, untuk ikut menikmati kekuasaan, dengan dalih ikut menciptakan kemaslahatan umum. Selain itu, bentuk kabinet baru yang dirancang juga harus cocok untuk menjalankan rencana kerja selama lima tahun mendatang. Itu tentu saja, dengan mempertimbangkan minimalisasi oposisi dalam parlemen. Pemerintah, parlemen, dan lembaga yudikatif mendatang perlu mengembalikan kepercayaan rakyat, dengan menjalankan transparansi kekayaan para pemangku jabatan umum, serta jaringan bisnis dari kerabat dan sahabat para pejabat. Hal ini semakin urgen, dengan adanya kemungkinan bahwa PDI Perjuangan tidak akan melakukan oposisi terhadap rencana kenaikan harga BBM, yang rencananya akan dilakukan oleh pemerintah mendatang, demi menutupi deficit APBN. Dugaan bahwa PDI Perjuangan tidak akan menentang rencana kenaikan harga BBM itu didasarkan pada kenyataan bahwa partai itu masih dikuasai oleh hegemoni keluarga besar Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas (TK), yang menguasai selusin SPBU di Jabodetabek, yang merupakan basis diversifikasi usaha keluarga besar itu bersama besannya, Bambang Sukmono Hadi (BSH), mertua politikus muda dan puteri pasangan itu, Puan Maharani. Transparansi kekayaan keluarga besar TK dan besannya, sepatutnya menyertai penetapan TK sebagai Ketua MPR RI yang baru.
KONTRIBUSIPSIKOLOGIRADIKAL FRANTZ FANON DALAM PENDAMPINGAN KOREAN KONFLIK SOSIAL DIPOSO George Junus Aditjondro
Al-Qalam Vol 12, No 2 (2006)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.278 KB) | DOI: 10.31969/alq.v12i2.574

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggunakan teori Psiko Analisi FranztFanon untuk menganalisis pergolakan kejiwaan masyarakat korban konfliksosial di Poso. Sejauh ini program re-healing untuk masyarakat korbankonflik sosial dengan menggunakan pendekatan psiko-sosial dan ekonomihanya bersifat karitatif dan menimbulkan ketergantungan. Psikologiradikal Frantz Fanon, menawarkan suatu pendekatan yang lebihmenyeluruh, tanpa mengawetkan ketergantungan masyarakat korban padabadan-badan bantuan.
PATRIARKIDIMATA BUDDHA, YESUS DAN MUHAMMAD: SUATU PENDEKATAN FEMINIS DALAM HISTORIOGRAFI AGAMA george Junus aditjondro
Al-Qalam Vol 14, No 1 (2008)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.066 KB) | DOI: 10.31969/alq.v14i1.522

Abstract

This writing aims to describe the ideology of patriarchy in three religions,Buddha, Christ, and Islam. This is using feminism perspective onhistoriography.This study indicates that the founding fathers of these three religions(Buddha, Jesus, and Muhammad) resist (with their own way) to thepatriarchy's culture. The revitalization of patriarchy's ideology andculture in these religion was conducted by the second generation (postprophetgeneration).