This Author published in this journals
All Journal Ruang
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EVALUASI PROGRAM REHABILITASI MANGROVE DI PESISIR DESA BEDONO KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Mutia Fikriyani; Mussadun .
Ruang Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.446 KB)

Abstract

ABSTRAK: Ekosistem hutan mangrove sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat namun semakin hari semakin kritis ketersediaanya. Hal demikian terjadi pula terhadap areal mangrove di Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak yang memiliki potensi dan permasalahan. Pada tahun 80-an terjadi perubahan alih fungsi lahan dari kawasan ekosistem mangrove menjadi lahan tambak udang windu  sehingga menyebabkan timbulnya abrasi di sebagian wilayah di Desa Bedono. Salah satu upaya pemulihan kerusakan hutan mangrove yang cukup penting diantaranya melalui rehabilitasi mangrove. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan evaluasi program rehabilitasi mangrove agar dapat diketahui tingkat pencapaian pada setiap tahapan program rehabilitasi mangrove.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program rehabilitasi mangrove di Desa Bedono pada tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan. Metode pengumpulan data menggunakan cara wawancara, kuesioner, observasi lapangan, dan survei. Subyek penelitian adalah instansi pemerintah, pihak swasta dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah adanya program rehabilitasi mangrove, tercatat pada tahun 2009 luasan mangrove meningkat sebesar 500% dari tahun 2004, namun luasan ekosistem mangrove pada tahun 2012 mengalami penurunan 8,9% dari tahun 2011. Jika dilihat dari peran serta pemerintah, swasta, dan masyarakat serta keterkaitannya dalam program rehabilitasi di Desa Bedono, ditemukan bahwa program rehabilitasi mangrove kurang kompak dan bersinergi antar stakeholder. Setelah diadakanya evaluasi, program rehabilitasi mangrove di Desa Bedono termasuk kategori berhasil baik dengan skor pencapaian program 57,2, namun masih ada 4 indikator yang pencapaianya terendah dibandingkan dengan 16 indikator lainnya.Kata kunci: evaluasi, rehabilitasi, mangrove ABSTRACT: Mangrove forest ecosystems are very potential to improve the welfare of society, but are getting increasingly critical. Such things happens on the mangrove area in Bedono Village, Sayung Sub-District, Demak Regency, which has both potentials and problems. Land conversion from the mangrove ecosystem region to tiger shrimp ponds in the 1980s caused the abrasion in some areas in Bedono Village. One of the mangrove destruction recovery efforts is the mangrove rehabilitation. Therefore it’s necessary to evaluate the mangrove rehabilitation program to determine the level of achievement on each stage of mangrove rehabilitation program. This research is aimed to evaluate the mangrove rehabilitation program in Bedono Village done by the government, private sector, and community, on the planning, implementing, monitoring, and evaluating level. The methods used in this research are the mixed methods to complete the overview of the study results and to strengthen the analysis, using the interview, questionnaire, field observation, and institutional survey as the data collection methods. The subjects of this study are the government institutions, NGOs involved in coastal zone management, and the community of Bedono Village as the informants. The result of this study shows that after the mangrove rehabilitation program, noted that in 2009 the mangrove’s extents increased 500% from it’s extents in 2004, but the extents in 2012 declined 8,9% from it’s extents in 2011. It’s indicated that there were fishing and catching shellfish activities using toxic materials and dredging tools, and also lack of supervision from the communities. Observed from the role of government, private sectors, and communities, also the connections in Bedono’s rehabilitation program, found that the mangrove rehabilitation programs are not cohesive and synergic between the stakeholders, which can affect the productivity of mangrove recources. After the evaluation, the mangrove rehabilitation program in Bedono Village is categorized as turn up trumps with program achievement score 57,2, but there are still 4 indicators with the lowest achievements compared with the other 16 indicators.Keywords: evaluate, rehabilitation, mangrove
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN MANGROVE DI DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG Intan Erawati; Mussadun .
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.085 KB)

Abstract

Abstrak : Desa Bedono, Kecamatan Sayung merupakan kawasan pesisir Laut Jawa berada di Kabupaten Demak, memiliki potensi kawasan mangrove. Pengelolaan lingkungan kawasan mangrove merupakan upaya dalam mendukung pengembangan wilayah pesisir secara optimal, bijaksana, dan bertanggung jawab, tentunya dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan berbagai pihak yang terkait serta tetap memperhatikan daya dukung lingkungannya. Saat ini banyak permasalahan mengenai mangrove di Desa Bedono. Permasalahan utamanya adalah kualitas dan kuantitas mangrove di Desa Bedono sangat minim yang dikarenakan faktor alam maupun manusia. Hal tersebut dapat mempengaruhi terjadinya abrasi dan rob yang mengancam keberadaan wilayah Desa Bedono. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat dan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya mangrove. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil analisis yang dilakukan, bahwa faktor yang mempengaruhi partisipasi pada tingkat rendah yaitu faktor internal dan faktor eksternal. sebagian besar masyarakat merupakan penduduk asli/penduduk yang tinggal lebih dari 10 tahun, namun tingkat usia pada golongan tua, tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah, tanggungan kelurga lebih dari empat anggota keluarga dengan tidak didukung faktor eksternal menyebabkan partisipasi masyarakat berada pada tingkat tipologi rendah (terapi dan manipulasi tanpa pemberian informasi). Hal ini juga ditunjukkan dengan sebagian 85% masyarakat tidak berpartisipasi. Kata Kunci: Partisipasi, Masyarakat, Pengelolaan, Sumber Daya Lingkungan Mangrove Abstract : Bedono village, in Sayung district, Java Sea is a coastal area located in Demak, has the potential of mangrove areas. Environmental management of mangrove areas is an effort to support the optimal development of coastal areas, wise, and responsible, of course, with the participation of the public and various stakeholders as well as taking into account the carrying capacity of its environment. Nowadays, many problem about mangrove in Bedono. The main problem is the quality and quantity of mangroves in the Bedono very minimal due to natural and human factors. It can affect the occurrence of abrasion and flood that threatens the existence of Bedono area. The purpose of this study was to determine the level and form of community participation in the management of mangrove resources. Research methodology is the use of quantitative methods with qualitative descriptive analysis techniques and quantitative descriptive. The result of the analysis, is the factors that influence of participants at the lower levels are internal factors and external factors. The majority of participants are local residents/residents who lives more than 10 years, but in the old age group, with low  education, low income, and have big family more than 4 people in one family but does not supported by external factors lead to community participation in low level typology (therapy and manipulation without the provision of information). It is shown by the data majority 85% of the residents do not participate. Keyword: Participation, Community, Management, Resources of Mangrove Environment
PENENTUAN TIPOLOGI KDB DAN KDH PADA PERUMAHAN DENGAN TOPOGRAFI PERBUKITAN (Studi Kasus: Kelurahan Gedawang Kota Semarang) Wahyu Kristian; Mussadun .
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.582 KB)

Abstract

Abstrak: Wilayah studi memilih Kelurahan Gedawang yang berfokus pada perumahan terencana di RW IV/ RT 02, 03 ,04 (Perumahan Gedawang Permai 1-3) dan perumahan tidak terencana di RW II/ RT 01, 02, 03, 04, 06, obyek penelitian adalah masyarakat yang bertempat tinggal pada hunian dengan status pemilik/kontrak dengan waktu tinggal >5 tahun. Penelitian ini bertujuan mengetahui tipologi Koefisien Dasar Bangunan(KDB) dan Koefisien Dasar Hijau(KDH) pada perumahan dengan topografi perbukitan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis secara kuantitatif digabungkan dengan deskriptif kualitatif. Analisis utama adalah analisis tipologi KDB-KDH dengan topografi perbukitan, analisis tersebut menghasilkan tipologi KDB-KDH yang menunjukkan bahwa perumahan terencana memiliki 1 jenis tipologi dan perumahan tidak terencana memiliki 2 jenis tipologi. Tipologi yang berkembang pada perumahan terencana dipengaruhi oleh faktor fisik berupa topografi berbukit, faktor sosial budaya masyarakat pendatang yang cenderung menghabiskan lahannya untuk bangunan. Sedangkan, tipologi yang berkembang pada perumahan tidak terencana dipengaruhi faktor fisik berupa topografi berbukit-bergunung, faktor sosial budaya penduduk asli yang memiliki lahan yang luas untuk pekarangan/kebun, dan faktor ekonomi masyarakat. Tipologi KDB-KDH perumahan terencana memberikan kemudahan dalam pengembangan infrastruktur perkotaan karena hasil perencanaan, sedangkan tipologi pada perumahan tidak terencana kurang memberikan kemudahan dalam pengembangan infrastruktur karena berkembang spontan sehingga kurang memberikan kenyamanan pada penghuni.   Kata Kunci: Perumahan, Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Dasar Hijau (KDH) Abstract: Location study is at Gedawang Villages which focused on planned housing in RW IV/RT 02, 03, 04 (Perumahan Gedawang Permai 1-3) and unplanned housing in RW II/ RT 01, 02, 03, 04, 06 with the research object is the society/ people that has been living/ renting for >5 years. This research aims to determine the Building Coverage (BC) and Green Neighborhood (GN) on settlement area on hills. This research method uses quantitative approach with quantitative analysis that is combined with qualitative descriptive. Quantitative analysis carried out in stages in accordance to the goals. Main analysis in this research is the typology analysis of Building Coverage and Green Neighborhood on hills. The results of the analysis were the Building Coverage and Green Neighborhood typology shows that planned housing has one type of typology and unplanned housing has 2 types of typologies. The typology that developed in planned housing is affected by physical factor such as hills/ mountains topographic, socio-culture factors of modern society that tends to spends its land for coverage building. Typology that developed in unplanned housing is affected by physical factor such as hills/ mountains topographic, socio-culture factors of native people that has a wide land for garden, and economical factors. BC and GN typology on planned housing provides convenience in urban infrastructure development, because the BC and GN typology is the planning result, while the unplanned housing typology provides less convenience in infrastructure development because of the spontaneous development  provides less convenience to the settler. Keywords: Housing, Building Coverage, Green Neigbourhood
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI MASYARAKAT UNTUK TETAP BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN BENCANA ROB KELURAHAN KEMIJEN KECAMATAN SEMARANG TIMUR KOTA SEMARANG Ananto Bangkit Pradana; Mussadun .
Ruang Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.154 KB)

Abstract

Abstrak: Bencana Rob sering terjadi di Kota Semarang. Berdasarkan data BMKG Kota Semarang, sejak bulan April hingga Mei tahun 2012, rob telah menggenangi sejumlah wilayah pesisir Kota Semarang, dan yang terparah adalah Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Semarang Timur dengan ketinggian rob antara 50 cm hingga 100 cm. Namun masih banyak terdapat permukiman kumuh pada kawasan tersebut. Seperti pada permukiman kumuh yang terletak di Kelurahan Kemijen Semarang Timur. Pada Kelurahan ini ketinggian rob dapat mencapai hingga 100 cm berdasarkan data BMKG Bulan Mei tahun 2012 dalam Harian Suara Karya Semarang. Akibat bencana rob yang semakin parah dari tahun ke tahun, penduduk yang berada di permukiman tersebut harus selalu beradaptasi dengan bencana rob dengan cara meningkatkan lantai, membuat bendungan kecil di depan rumah, meninggikan jalan lingkungan, dan membangun tanggul disekitar area pemukiman. Untuk melakukan hal tersebut membutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan setiap lima tahun. Namun mereka tetap menginginkan untuk tinggal di daerah rawan bencana rob seperti di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat ditinjau dari aspek fisik alam dan fisik buatan, sosial dan perekonomian, untuk tetap bertempat tinggal di permukiman pesisir kumuh dan rawan bencana rob yang terdapat di Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat untuk tetap bertempat tinggal di Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang. Faktor pertama yang paling mempengaruhi preferensi masyarakat untuk tetap tinggal di Kelurahan Kemijen dengan nilai variansi terbesar yaitu 32,450%. adalah kondisi aksesibilitas dan kondisi sosial yang terdiri dari variabel kondisi hubungan kekeluargaan, tingkat keamanan, organisasi lingkungan dan hubungan tetangga di Kelurahan Kemijen.Kata Kunci : Kawasan Kumuh, Kawasan Bencana, Bencana Rob, Preferensi Abstract: Tidal flood hazard often occur in the city of Semarang. Based on  BMKG Semarang, from April to May in 2012, Tidal flood has been flooded several coastal areas of the city, and the worst is, the District of North Semarang and Semarang District East, with tidal height between 50 cm to 100 cm. But still there are many slums  in the areas. As in the slums located in the Village of East Semarang Kemijen.  At this village tidal heights can reach up to 100 cm based on data BMKG In May of 2012 in Semarang Suara Karya. Tidal flood hazard is getting worse from year to year, the population residing in these settlements must always adapt to tidal flood hazard by increasing the floor, made a small dam in front of the house, elevating roads, and building embankments around residential areas. To do so, required much money that must be paid every five years. But they still want to live in disaster-prone areas such as in Kemijen, East Semarang. This study aims to determine the factors that influence people's preferences in terms of the physical aspects of the natural and artificial physical, social and economic, to remain living in slum settlements and disaster-prone coastal tidal flood hazard located in Kemijen, East Semarang District, Semarang City. Results of the study showed that there are five factors that influence people's preference to remain living in Kemijen, East Semarang. The first factor that most affects people's preference to remain in the Village Kemijen with the largest variance value is 32.450 % is the condition of accessibility and social conditions consisting of kinship variable conditions, the level of safety, environmental organizations and neighbors in the Village Kemijen relationship.Keywords : Slum, Disaster Zone, Tidal Flood Disaster, Preferences