Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

GENDER KETIGA DAN TRANSPHOBIA SEBUAH DUNIA BARU Gefarina Djohan
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3427.064 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.10430

Abstract

Judul diatas menjadi tidak umum manakala kita diperhadapkan pada istilah gender yang masih membutuhkan penjelasan panjang di tengah-tengah masyarakat. Ketika seorang kepala daerah dalam pidatonya menyebutkan pada sekelompok perempuan dengan sebutan yang manis “wahai para gender”, lantas semua orang mengasumsikan bahwa gender itu adalah perempuan. Benarkah gender itu berarti perempuan? Ternyata jawaban berdasarkan kajian ilmiah, gender tidak bisa diasumsikan sebagai perempuan melainkan gender adalah konsep yang merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial, dapat berubah-ubah  dengan berlalunya waktu,  sangat bervariasi di dalam dan antara budaya. Berbeda dengan kodrat dalam kaitannya dengan penciptaan, maka mahluk di dunia ini terdiri atas perempuan dan laki-laki. Perempuan mempunyai ovum, menstruation, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki mempunyai  sperma dan penis. Cara pandang yang berlandaskan pada kultur, nilai dan norma-norma tertentu melahirkan kontruksi sosial yang kemudian menempatkan bahwa perempuan itu lemah, feminim, reproduksi, berperan di domestik dan pencari nafkah tambahan, sedangkan laki-laki kuat, maskulin, bekerja di ruangan publik dan pencari nafkah utama. Meskipun pandangan ini tidak semuanya bisa diterima, tetapi masyarakat seolah-olah meyakini sebagai sebuah kebenaran. Konstruksi sosial inilah yang kemudian memunculkan situasi ketidak adilan gender diantaranya perempuan subordinasi laki-laki, pelebelan, doble burden, marginalisasi, kekerasan dan kemiskinan. Jika dikemudian hari muncul fenomena tuntutan untuk “gender ke tiga” adalah situasi yang berbeda. Gender ke tiga dimaksud adalah gejala transseksualisme ataupun  transgender yaitu merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidak puasan dengan alat kelamin yang dimilikinya. Pada hakikatnya hal ini adalah  masalah kebingungan jenis kelamin. Konon kaum transgender ini seringkali mengalami segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, namun muncul pula pertanyaan besar  apakah dengan melegalisasikan gender ketiga menjadi solusi terbaik? Rasa ketidaksukaan terhadap eksistensi transgender (Transphobia) kemudian menjadi fenomena umum yang terus bergulir seiring dengan perjalanan waktu dan derasnya arus globalisasi, sehingga masalah yang muncul menembus batas wilayah di tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional.
Peran Pemerintah Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang Dalam Menangani Kasus Human Trafficking (Prostitusi) di Desa Karang Serang Gefarina Djohan; Hafizh Maulana Assuyuthi Burhani
JPW (Jurnal Politik Walisongo) Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jpw.v5i1.17081

Abstract

Peran pemerintah Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang dalam menangani kasus human trafficking (Prostitusi) di Desa Karang Serang dengan menggunakan empat bentuk peran yakni peran sosialisasi dan pembinaan, peran regulator, peran fasilitator dan peran dinamisator menunjukkan terlaksana dengan baik. Meskipun demikian ternyata hasil penelitian menunjukkan masih terdapat adanya faktor penghambat, sehingga tidak optimal. Peran yang dilaksanakan oleh pemerintah Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang yang memiliki otoritas penuh dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada khususnya di Desa Karang Serang terlihat belum mencapai hasil yang menggembirakna, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap persoalan-persoalan di lapangan sebagaimana penelitian ini dilakukan.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisa deskriptif terkait dengan peran pemerintah Kecamatan Sukadiri dan pihak pendukung lainnya dalam penanganan kasus human trafficking (prostitusi) di Desa Karang Serang. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui proses wawancara sebagai data primer dan studi pustaka sebagai data sekunder. Kerangka teori dalam skripsi ini menggunakan teori peran selain menggunakan konsep fungsi peran oleh Iyas Yusuf, Soerjono Soekanto, J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto gun menjelaskan peran pemerintah Kecamatan Sukadiri, faktor penghambat dan faktor pendukung. Selain itu peneliti juga menggunakan teori human trafficking (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan teori pemerintah daerah oleh Harson. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Kecamatan Sukadiri dalam menangani kasus human trafficking (prostitusi) ternyata efektif sehingga hasilnya belum optimal.
PERAN NEGARA TURKI DALAM MENGURANGI KEMISKINAN DI SOMALIA Djohan, Gefarina; Ridwan, Nayla Rafika
Emerald: Journal of Economics and Social Sciences Vol. 2 No. 2 (2023): Emerald: Journal of Economics and Social Sciences
Publisher : Lintas Cendekia Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Turkey's role in helping reduce poverty in Somalia is a form of humanitarian solidarity between countries. The poverty that occurs in Somalia is quite a big disaster and has not been completely resolved. The impacts resulting from this disaster include a food crisis or scarcity that claimed many lives and an estimated 1.5 million children experienced malnutrition. Turkey's relations with Somalia are close enough that Turkey decided to provide assistance to Somalia. The assistance provided by Turkey is in the form of humanitarian assistance in the form of money, food and medical treatment. Then development assistance takes the form of infrastructure projects in the health, education and economic sectors as well as providing financial incentives to import goods and services from sending countries to receiving countries and usually takes the form of certain projects. This research uses the concept of foreign aid and looks at the national interests of the two countries, both Turkey and Somalia. The method used in this research is a qualitative research method using descriptive analysis. The data collection method uses a literature review method using secondary data.te
HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN TINGKAT PARTISIPASI MAHASISWA DALAM KEGIATAN DI PERGURUAN TINGGI KHAIRUNNISA, AULIA HAJIDAH; GEFARINA, SHEVALIA; AZZAHRO, SHABRINA; MAULANA, SUVIA DWI; ANINDITHA, PUTRI ALYA; PRADIPTA, ISTAR ALMAYDA SIWI
Musytari : Jurnal Manajemen, Akuntansi, dan Ekonomi Vol. 10 No. 10 (2024): Musytari : Neraca Manajemen, Akuntansi, dan Ekonomi
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.8734/musytari.v10i10.7437

Abstract

Penelitian ini membahas Hubungan Budaya Organisasi Dengan Tingkat Partisipasi Mahasiswa Dalam Kegiatan Perguruan Tinggi. Budaya organisasi berperan penting dalam membentuk karakter dan perilaku mahasiswa, serta mempengaruhi motivasi belajar dan prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek budaya organisasi yang relevan dan menganalisis dampaknya terhadap perkembangan mahasiswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang positif dapat meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan akademik dan non-akademik, serta membantu mereka mengembangkan soft skills yang diperlukan di dunia kerja. Sebaliknya, budaya organisasi yang negatif dapat menghambat perkembangan mahasiswa dan menimbulkan masalah seperti perundungan dan penurunan prestasi. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan perguruan tinggi dengan rekomendasi untuk membangun budaya organisasi yang kondusif bagi pengembangan mahasiswa. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut mengenai aspek-aspek budaya organisasi di perguruan tinggi.